Minggu, 17 Mei 2015

Meratap Bulan

Dia menggoda seperti gombalan dewa Amor
memercikan api-api cinta dan membakar gairah jiwa ketika mabuk dalam buaian janji manis

Terbawa arus cinta hingga ketinggian dia berada
Demi semua terkorbankan untuk sebuah hasrat kekuasaan
Seolah terhipnotis indahnya janji terucap memberikan pengharapan

Memilih, tidak mengetahui
Memilih, tidak mengenal
Memilih, karena sogokan intan
Senyumnya mempesona, membangkitkan secercah harapan si bulan

Kini dia berada pada puncaknya
Pada ketinggian yang sulit dicapai
Dia adalah si penguasa negeri antah berantah

Si bulan mempenjarai hidup oleh jeruji kemelaratan
Bulan menjerit seantero negeri, suaranya kecil
Mana bisa didengar? Negeri ini membentang luas!
Suara binatang pun sayup tak sampai

Hai bulan! Tanah yang kau pijaki bukan milikmu! Aku berbisik....
Tanah ini milik si rakus! Kamu itu sampah baginya
Dia menikmati sendiri, bulan tertipu!

Hai bulan! Ingat ketika si rakus berubah menjadi dewa Amor
Janji itu hanya ilusi, lekas bangun bulan!
Dakilah gunung yang si rakus daki

Bulan, kau seharusnya berada dilangit
Menyinari bumi ketika malam menjemput
Ketika anak-anakmu lapar digenangan mutiara
Kembalikan negeri antah berantah ini seperti sedia kala

Ah dasar bulan, aku berbisik....

2 komentar: