Single pertama dari Lion King Reggae
Intro
Ku pandangi matahari
Yang terbenam sore ini
Betapa senangnya hati ini
Melihat dirimu kembali
O ya... o... ye...
Hati yang gundah usai sudah
O... betapa leganya
Wajahmu begitu mempesona
Hatiku senang tiada tara
O... matamu indah
Bagai langit biru disana
U... ye...
Reff
Kerinduan yang t’lah lama
Kini usai sudah
Matahari terbenam jadi saksi
Cinta kita menyatu kembali
Kerinduan yang t’lah lama
Kini usai sudah
Jadikan malam ini sebagai tanda
Dua hati menyatu selamanya
O ya... u... o...
O... matamu indah
Bagai langit biru disana
U... ye...
Kerinduan yang t’lah lama
Kini usai sudah
Matahari terbenam jadi saksi
Cinta kita menyatu kembali
Kerinduan yang t’lah lama
Kini usai sudah
Jadikan malam ini sebagai tanda
Dua hati menyatu selamanya
Selamanya selamanya o... selamanya
Selamanya selamanya o... selamanya
U... aa... nana... Selamanya
"Kau boleh merantai tangan dan membelenggu kakiku, menjebloskan aku dalam penjara yang gelap, tetapi jangan sekali-kali kau memperbudak pikiranku karena pikiranku itu bebas" -Kahlil Gibran-
Minggu, 26 April 2015
Senin, 20 April 2015
Negeriku, Mati!
Aku berteriak mencapai asa
Dengan raut yang rumit, aku berusaha menggapainya
Aku berteriak sambil menangis terisak-terisak didalam jiwa
Melihat dia begitu terpedaya di emperan jalan
Aku terdiam menikmati hinanya malam orang-orang berkuasa
Mereka tak memikirkan jalanan yang kumuh tempat mereka berpijak
Aku sayangi dia bagai bulan memeluk matahari
Hatiku tersayat-sayat melihat dia terluka sendiri diujung jalan
Orang-orang itu tidak peduli! Mereka meremehkan dia
Aku berteiak, aku inginkan dia yang damai dalam tempatnya
Dia berusaha tegar dan kuat walau darah mengalir disekujur tubuhnya
Mereka jahat! Tidak peka dengan keadaan dia yang sakit
Dia kaku terdiam ditempatnya
Hatiku pilu melihat dia yang tidak bisa berbuat banyak
Dia mati! Dimana? Dihati orang-orang itu!
Dia siapa? Dia adalah tanah airku
Puas kalian membuat dia sakit
Puas kalian membuat dia rusak
puas kalian membuat dia terbuang didalam raganya
aku berteriak, ayok tanah airku bangkit!
Bayang Abadi
Tak mengerti mengapa aku bisa disini
Menjalani hidup yang tak ku mengerti
Ku lalui hidup dengan mata tertutup
Setiap langkah yang tak berarti, resah akan terjadi dihari esok
Mencari arti semua ini, namun tak kudaptakan
Kemunafikan merajai diri dan hidup
Kebohongan seolah menjadi hal biasa
Hari-hari kulalui dengan gelisah
Terus mencari kebenaran yang sulit kudapatkan
Takku temukan makna dibalik gelapnya dunia
Takku temukan keindahan sejati dalam kemunafikan
Takku temukan kebahagiaan yang seharusnya ku miliki
Mereka tertawa!
Mereka bersandiwara!
Mereka menghina!
Mereka tak peduli!
Ku menangis dibalik senyumku yang nakal
Ku bersembunyi dibalik pesona dunia
Apakah ku salah menuntut itu?
Ku ingin Mereka mengerti aku
Ku ingin Mereka sadar kehadiranku
Ku ingin Mereka peduli denganku
Aku ingin TERLIHAT oleh Mereka
TERLIHAT dibalik kebahagian yang abadi!
Ragu si Peragu
Kala senja bersemayam kerinduan jiwa di ujung altar cinta
Sungguh menawan menari diatas lautan mega
Menarik kesyahduan bayang-bayang merindu
Bagai kupu-kupu menanti bunga diantara bunga-bunga
Mempersolek dalam balutan gaun cantik orang pilihan
Menatap langit menghujam diri mengingat jera
Terjerat pesona orang pilihan, bersembunyi diam
Alunan melodi menusuk jiwa bersembunyi dalam sunyi
Sunyi berarti sepi, mengalahkan diri dalam kekal
Tak berujung menanti hasrat hati, ragu!
Kembali pada jiwa menginginkan sebuah harapan, ragu!
Ragu! Tiada bertepi melihat kesesatan hidup tercipta
Terombang-ambing dalam keraguan
Membawa rindu yang selama ini tiada yang tahu
Merindukan orang pilihan berjalan menebar benih cinta, mereka menghilang!
Seolah dunia ilusi ini bukan untuknya
Kala rindu mendera, akankah mereka kembali?
Menebar cinta dan kebaikan abadi, amanah dari-Nya
Kala rindu memanggil, akankah mereka kembali?
Bunga
Bunga wujudmu sungguh sempurna indah dilihat mata
Warna yang kau miliki seperti warna pelangi
Tak jenuh mata ini memandang kesempurnaan wujudmu
Bau yang kau tebarkan sungguh alami dan menenangkan hati
Membawa kedamaian memasuki surga
Matahari dan hujan adalah penguat dirimu yang lemah
Kau hidup dengan makhluk asing disekelilingmu, apakah kau tak takut?
Kala badai datang kau tetap disana bersama makhluk asing itu
Matahari pergi, ada hujan disisimu
Hujan pergi, ada matahari disisimu
Matahari dan hujan pergi, siapa disisimu?
Bunga, ada kupu-kupu datang
Kau biarkan daia berada disismu, mengapa?
Dia akan menghancurkan dirimu!
Kau tinggal seorang diri
Matahari dan hujan telah pergi
Tak bisakah kau memberontak?
Dia mengambil apa yang kau miliki
Diam bukan jawaban, lawan kupu-kupu itu
Aku tahu mengapa kau diam
Kau membantu makhluk lain untuk tetap hidup
Walaupun derita kau rasakan, asalkan mereka bahagia
Seperti itu kah?
Warna yang kau miliki seperti warna pelangi
Tak jenuh mata ini memandang kesempurnaan wujudmu
Bau yang kau tebarkan sungguh alami dan menenangkan hati
Membawa kedamaian memasuki surga
Matahari dan hujan adalah penguat dirimu yang lemah
Kau hidup dengan makhluk asing disekelilingmu, apakah kau tak takut?
Kala badai datang kau tetap disana bersama makhluk asing itu
Matahari pergi, ada hujan disisimu
Hujan pergi, ada matahari disisimu
Matahari dan hujan pergi, siapa disisimu?
Bunga, ada kupu-kupu datang
Kau biarkan daia berada disismu, mengapa?
Dia akan menghancurkan dirimu!
Kau tinggal seorang diri
Matahari dan hujan telah pergi
Tak bisakah kau memberontak?
Dia mengambil apa yang kau miliki
Diam bukan jawaban, lawan kupu-kupu itu
Aku tahu mengapa kau diam
Kau membantu makhluk lain untuk tetap hidup
Walaupun derita kau rasakan, asalkan mereka bahagia
Seperti itu kah?
Mengingat Rindu
Senang sekali karena di Seoul sedang musim semi. Musim yang paling aku sukai diantara musim-musim yang lain. Musim yang selalu membuat aku bahagia setiap saat, termasuk hari ini. Karena bosan dirumah kuputuskan untuk berjalan-jalan sebentar di luar rumah. Orang-orang dirumah ku sibuk melakukan aktivitasnya masing-masing. Tidak seperti aku yang tidak memiliki aktivitas sendiri, setelah aku lulus kuliah. Aku belum memutuskan untuk melamar kerja, karena aku ingin menikmati kesendirian ku sebagai pengangguran. Setelah aku benar-benar ingin bekerja aku akan mulai melamar kerja. Setelah beberapa lama aku berjalan dan menghirup udara segar di Seoul, pandanganku tertuju pada sebuah toko kecil yang menjual aneka bunga-bunga yang cantik. Toko itu berada di sebrang jalan dan diapit dua pohon besar disisi kiri dan kanan. Cat dindingnya berwarna pink campur biru menambah kesan keasrian. Pemebelinya pun lumayan ramai. Aku yang bediri di depan toko itu hanya bisa mematung dan tiba-tiba kepalaku berat, penglihatanku mulai gelap dan aku pingsan lagi. Ini bukan kali pertama aku pingsan karena sebelum-sebelumnya aku mengalami hal yang sama, setiap kali aku melewati ataupun melihat toko bunga itu. Seperti ada sesuatu yang tidak kuketahui tentang masa laluku. Setelah kecelakaan yang menimpaku dua bulan yang lalu, aku selalu merasa ada yang hilang dariku. Yaitu masa laluku yang sampai sekarang belum ku ketahui. Aku sudah berusaha mencari tahu tapi hasilnya pun nihil.
“Soo Hee, kau sudah sadar?” Tanya mama yang khawatir dengan keadaan ku. Aku melihat mama yang sedari tadi berada di sampingku.
“tadi kau pingsan, Joo Hwan yang bawa kau kesini.”
“Joo Hwan?”
“ia, Joo Hwan, temanmu. Masa kau lupa?”
“maksud aku Joo Hwan dimana mah?”
“dia sudah pulang, tadinya dia mau menunggu sampai kau sadar, tapi setelah ia menerima telepon dari seseorang ia langsung pamit untuk pergi.”
“bagaimana keadaan mu sekarang? Apa yang terjadi dan mengapa kau bisa pingsan?”
“udah agak mendingan mah, tapi sedikit pusing. Dengan istirahat sedikit juga sudah tidak apa-apa. Hem soal yang itu.. aku juga tidak tau kenapa mah. Tiba-tba saja aku tidak enak badan”
Aku tidak mungkin cerita ke mama soal aku pergi ke toko bunga itu, karena mama sudah melarang aku sebelumnya untuk tidak pergi kesana lagi.
*
Di pagi hari pemandangan kota Seoul begitu indah. Aku semangat untuk menghadapi hari ini apa lagi ini hari Minggu. Kuputuskan untuk kerumah Min Ji. Min Ji adalah teman dekatku. Ia sudah ku anggap sebagai keluarga sendiri. semenjak kecelakaan yang menimpaku waktu lalu dan aku dirawat dirumah sakit dimana Min Ji dirawat disana juga. Min Ji lah teman yang menemani hari-hari ku disana hingga aku tidak bosan di rumah sakit. Min Ji adalah anak yang ceria dan asik. Aku senang punya teman seperti Min Ji. Aku nyaman berteman dengannya dan sampai sekarang kami sering bertemu dan berhubungan baik. Rumah Min Ji cukup jauh dengan rumahku, tapi tidak menjadi halangan bagiku untuk tidak bertemu dengannya, begitu juga dengan Min Ji.
“mah, aku mau pergi kerumah Min Ji!” teriakku. Mama yang sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk kami.
“iaaa.. tapi kau makan dulu, Soo Hee!” teriak mama dari dapur.
“iaaa..” balasku yang sudah siap di ruang makan.
Diruang makan sudah berkumpul semua ada papa, mama, aku dan kak Min Hoo yang siap untuk sarapan pagi. Aku senang kalau lagi kumpul seperti ini dan aku bahagia punya keluarga seperti keluarga ku saat ini. Tapi aku kadang sebel sama kak Min Hoo yang selalu menjahiliku dan nyebelin itu. Seperti pagi ini, tadi pagi ia membangunkanku dengan menyetel lagu keras-keras ke telingaku. Wajar sih ia melakukan itu, karena aku susah banget dibangunin. Tapi kan tetep ajah dia itu nyebelin. Walaupun dia super duper nyebelin aku tetep sayang dengannya.
*
Aku tiba dirumah Min Ji. Rumah Min Ji sangat besar, karena Min Ji anak orang kaya. Orang tuanya saja pengusaha Restoran daging babi yang cukup terkenal di Korea. Walaupun begitu ia tidak pilih-pilih teman dan anaknya tidak sombong. Aku melihat seorang pria keluar dari rumah Min Ji. Saat pria itu keluar dari gerbang rumahnya, aku bersembunyi dibalik tembok besar rumah Min Ji. Aku tidak ingin pria itu melihat ku. Saat aku melihatnya tiba-tiba ada yang aneh dengan perasaan ku. Bukan perasaan cinta, melainkan perasaan yang aneh. aku sendiri saja tidak tahu perasaan apa itu. Aku menerawang akan kejadian di toko bunga itu. Ya benar perasaan yang sama yang aku alami pada saat itu. Kali ini aku tidak pingsan tidak seperti tempo lalu. Tapi otak ku tidak mampu memecahkan masa laluku itu. Ada hubungan apa aku dengan pria itu.
Padahal aku baru melihatnya hari ini dan baru pertama kali. Tapi feelingku merasakan aku seperti sudah kenal dengannya. Dalam lamunanku, aku mendengar seorang gadis memanggil namaku. Ternyata aku sadar dia adalah Min Ji. Gadis cantik dengan rambut panjang terurai, poni didepan, tren rambut Korea yang banyak digandrungi gadis-gadis Korea pada umumnya. Termasuk aku, tapi rambutku tidak sepanjang rambut Min Ji dan rambutku berwarna hitam. Karena aku keturunan Korea-Indonesia. Papaku yang berkebangsaan Indonesia dan kami tinggal di Korea. Setiap setahun sekali keluargaku mengunjungi keluarga papa yang ada di Indonesia. Aku juga bisa berbahasa Indonesia, walau logat Korea ku masih sedikit kental.
Padahal aku baru melihatnya hari ini dan baru pertama kali. Tapi feelingku merasakan aku seperti sudah kenal dengannya. Dalam lamunanku, aku mendengar seorang gadis memanggil namaku. Ternyata aku sadar dia adalah Min Ji. Gadis cantik dengan rambut panjang terurai, poni didepan, tren rambut Korea yang banyak digandrungi gadis-gadis Korea pada umumnya. Termasuk aku, tapi rambutku tidak sepanjang rambut Min Ji dan rambutku berwarna hitam. Karena aku keturunan Korea-Indonesia. Papaku yang berkebangsaan Indonesia dan kami tinggal di Korea. Setiap setahun sekali keluargaku mengunjungi keluarga papa yang ada di Indonesia. Aku juga bisa berbahasa Indonesia, walau logat Korea ku masih sedikit kental.
“Soo Hee!” teriak Min Ji pada ku yang masih melamun.
“hey Soo Hee! Apa yang kau lakukan disana?” Min Ji berusaha untuk menyadarkan ku dari lamunanku. Tanpa sadar ada yang menepuk pundak ku. Aku ingin marah tapi atas alasan apa aku marah, karena ini salah ku sendiri. aku sadar yang menepuk pundakku adalah Min Ji. Setelah aku tahu itu dia aku hanya bisa cengengesan.
“apa yang kau lakukan? Aku memanggilmu? Apa yang kau pikirkan Soo Hee?” aku melihat reaksi Min Ji sangat khawatir padaku. Mungkin ia mengira aku sakit.
“hemm… aku tidak melakukan apa-apa. Sudah lupakan saja!” jawab ku yang akhirnya membuka suara. “sudah jangan pikirkan aku. Aku benar tidak apa-apa. Aku hanya bengong saja tadi. Dan maaf telah membuatmu khawatir”. Lanjut ku sambil berjalan masuk kedalam rumah Min Ji.
“dasar kau!” Min Ji malah memukul pundakku lagi yang mebuatku meringis kesakitan.
*
Kamar Min Ji selalu rapih, tidak seperti aku yang selalu berantakan. Karena Min Ji sangat memperhatikan kebersihan kamarnya dan rajin membersihkannya. Kalau aku tergantung mood saja. Hahahaa
.
.
“Boleh aku bertanya?” sedari tadi aku duduk di kasur empuknya Min Ji
“ada apa denganmu? Sejak kapan kau meminta izin dengan ku untuk menanyakan sesuatu? Bukankah kau selalu bertanya tanpa harus meminta izin dengan ku?” reaksi Min Ji membuatku menjadi salah tingkah saja. Mungkin ia merasa aku menutupi sesuatu darinya.
“hahaaha tidak apa-apa, siapa pria itu?”
“pria? Yang mana?”
“pria yang baru saja keluar dari rumah mu!”
“ooh kak Jae Woon!”
“Jae Woon? Siapa dia?”
“dia kakak sepupu ku! ada apa? Kau tertarik padanya?” saat Min Ji bertanya apa aku tertarik pada Jae Woon, aku hanya diam.
“wajar kau tertarik padanya, karena kak Jae Woon memang tampan dan cool. Banyak gadis-gadis yang suka padanya dan menanyainyan ke padaku,”
“dia memang tampan dan cool, tapi dia terlihat sombong dan dia bukan tipeku.”
“apa yang kau katakan Soo Hee? Baru kali ini aku mendengar ada gadis yang tidak tertarik pada kak Jae Woon. Biasanya setiap gadis-gadis melihat kak Jae Woon, pasti mereka akan tertarik. Tapi kau tidak!” kali ini aku diam. Min Ji melajutkan perkataannya lagi. “andaikan aku bukan sepupunya, mungkin aku akan jatuh cinta padanya.” Kata Min Ji yang mulai menghayal.
“ada-ada saja kau!” aku menjitak kepala Min Ji dengan pelan
“kak Jae Woon sangat baik dan pengertian. waktu aku dirawat dirumah sakit, ia menjengukku dan menceritakan hal-hal yang lucu.”
“ahh tetap saja aku tidak suka padanya!”
“kau kan belum kenal dengannya?”
“entahlah, tapi aku merasa ada sesuatu yang aneh pada pria itu dan tadi aku melihatnya tiba-tiba aku seperti mengingat sesuatu, tapi aku belum bisa menebak apa itu.”
“pasti itu hanya perasaan mu saja! Yah sudah lah jangan bicarakan dia lagi. Mending kita nonton VCD saja!” Min Ji sangat semangat sekali dan menunjukkan VCD barunya.
“apa ini?” Tanya ku sambil menghampiri Min Ji yang sedang memegang VCDnya
“kau ini sangat lucu sekali Kim Soo Hee! Ini VCD! Apa karena sakitmu itu sehingga kau mengalami amnesia?”
“bukan, maksudku judulnya apa?” elakku ku.
“tadi kau tidak menanyakan judulnya? Kau ini kalau bertanya tidak dipikir dulu! Kebiasaan!” makinya pada ku.
”heeheheh maaf!”
Aku dan Min Ji menonton film bersama. Kaset yang dibelinya waktu ia berlibur ke Paris bersama keluarganya.
*
“Soo Hee! Soo Hee!” teriak mama dari lantai bawah
“ada apa mah?” teriak ku dari dalam kamar
“ada Joo Hwan! Cepat kau temui dia!”
“Joo Hwan? Baik mah!”
Setelah mama membertitahu bahwa ada Joo Hwan, aku langsung keluar kamar dan menuruni anak tangga yang ada dirumah ku. Joo Hwan adalah teman SMA ku dulu. Ia yang selalu melindungiku dari anak-anak brandal yang suka menggangguku. Dia juga pernah memukul salah satu anak brandal di sekolah kami. Karena anak itu telah membuatku menagis. Tapi akibatnyanya Joo Hwan di skors selama seminggu. Membuatku merasa bersalah padanya. Dia juga yang membantu aku waktu aku pingsan tempo lalu. Wajahnya yang tampan dan senyumnya yang manis membuat gadis-gadis iri kepadaku setiap kali aku berjalan dengannya. Waktu itu aku sempat jatuh cinta padanya, tapi dia dulu sudah punya kekasih. Jadi aku hanya memendam perasaan itu. Entahlah sekarang!
“Joo Hwan!” sapa ku. Joo Hwan yang sedang duduk diruang tamu dan saat ku panggil ia langsung menoleh.
“Soo Hee!” sapanya. Ia tersenyum kepadaku. Senyumnya yang manis membuat gadis-gadis meleleh setiap kali di senyuminya seperti itu.
“kau baik-baik saja?” tanyanya dan beranjak dari tempat duduknya dan menghampiriku.
“ia aku baik-baik saja. Terimakasih kau telah menolongku waktu itu.”
“oh yang itu, ia sama-sama. Apa kau sibuk?”
“hemm.. kurasa tidak!” kataku sambil mengingat-ingat aktivitas ku hari ini.
“ayo kita pergi keluar!” pintanya.
“kemana?”
“jalan-jalan”
“jalan-jalan kemana?”
“mengelilingi kota ini.”
“kau gila! Kota ini kan luas, apa kita sanggup menelusurinya dalam sehari? Sehari saja tidak cukup untuk mengelilinginya!”
“kau ini sangat bawel! Siapa bilang kalau kita benar-benar ingin mengelilingi kota ini! Maksud ku kita jalan-jalan untuk menghirup udara segar dan melihat pemandangan yang indah.” Jelasnya. Aku yang mulai tidak nyambung jadi malu sendiri.
“jalan kaki?” tanyaku hati-hati.
“kau ini lucu! Apa kau tidak lihat aku membawa mobil?” jawabnya yang mulai kesal dengan kebodohanku. Ia aku melihat mobil Joo Hwan terparkir di halaman depan rumahku. Aku bisa melihat dari jendela. Mobilnya berwarna hitam.
“hehehehe, maaf!” aka hanya bisa nyengir.
“ayo kita pergi!” Joo Hwan menarik tanganku dan membawaku ke mobilnya. Aku pun masuk kedalam mobil setelah ia membukakan pintu mobilnya.
*
Tibalah kami ditaman kota Seoul. Taman ini menjadi kunjungan banyak orang karena taman ini sangat indah dan banyak bunga sakura bermekaran. Aku dan Joo Hwan duduk di salah satu bangku taman dibawah pohon sakura yang ada disana . Orang-orang berlalu lalang dan anak-anak kecil bermain dengan gembira. Ada yang berdagang juga.
“bagaimana kabarnya?” Tanya Joo Hwan yang membuka suara duluan. Karena dari tadi aku dan Joo Hwan hanya diam sepanjang perjalanan kami.
“siapa?” tanyaku sambil memperhatikannya
“kau masih tidak ingat padanya?” kali ini Joo Hwan melihatku.
“siapa yang kau maksud? Ingat dengan siapa?” Tanya ku masih penasaran. Apakah orang yang perlu kuingat itu ada hubungannya dengan masa laluku yang ku lupakan sampai sekarang ini?
“setelah kecelakaaan itu….” Joo Hwan tidak melanjutkan ucapannya yang membuatku semakin penasaran dengan siapa yang Joo Hwan maksud. “kau tidak menemuinya atau dia menemuimu?” lanjutnya lagi.
“siapa sih yang kau maksud?” aku pun mulai kesal pada Joo Hwan karena ia tidak menjelasakan siapa orang yang ia bicarakan dari tadi.
“ternyata kau memang benar-benar tidak ingat padanya, wajar saja kau tidak ingat. Karena memorimu hilang sebagian setelah kau mengalami kecelakaan yang begitu hebat itu.”
“memoriku hilang sebagian?”
“ia benar, waktu kau mengalami kecelakaan itu dan dokter berkata bahwa kau mengalami amnesia ringan. Ingatanmu akan hilang. Biasanya hal yang kau lupakan adalah hal yang paling menyakitkan dalam hidupmu yang pernah kau alami.”
“hal apa yang aku lupakan? Dan siapa yang telah ku lupakan? Apakah orang itu penting dalam hidup ku?”
“Jae Woon!”
“Jae Woon?” sepertinya aku pernah mendengar nama itu, tapi siapa? Ya aku baru ingat dia adalah pria yang kutemui waktu dirumah Min Ji. Batinku.
“apa kau melamun? Hey Soo Hee apa kau mendengarkan ku? Kau baik-baik saja?” Tanya Joo Hwan yang mulai panik karena dari tadi aku tidak menjawab pertanyaannya dan lebih memilih diam. Aku yang sadar dari pikiranku pun tidak mencerna apa yang di ucapkan Joo Hwan dari tadi.
“ada hubungan apa aku dengan pria yang bernama Jae Woon itu?” tanyaku.
“kau dan Jae Woon adalah sepasang kekasih!”
“apa? Kekasih?” aku tidak percaya dengan ucapan Joo Hwan. Mana mungkin aku pacarnya Jae Woon. Batinku.
“kau dan Jae Woon saling mencitai.”
“tidak mungkin!!” teriakku karena setiap aku berusaha mengingat masa laluku, kepalaku sakit!
“Soo Hee kau tidak apa-apa?” Joo Hwan mulai khawatir dengan reaksiku tadi.
“kalau itu benar! kenapa aku melupakannya?”
“kau mengalami kecelakaan setelah kau melihat itu!” jawabnya hati-hati.
“melihat apa?” tanyaku semakin histeris.
“itu juga kau tidak ingat?”
”tidak!”
“apa yang kau pikirkan waktu kau mengendarai mobil setelah melihat kejadian itu?”
Aku berusaha mengingat tapi kepalaku sakit. Aku memegang kepalaku dan penglihatanku gelap. Joo Hwan sangat khawatir dengan keadaan ku. Ia memanggil-manggil nama ku.
*
Untuk kesekian kalinya aku pingsan dan Joon Hwan yang menolongku. Akhirnya aku sadar dari pingsan ku. Aku melihat mama dan Joo Hwan sedang berbicara Entah apa yang mereka bicarakan mungkin saja mereka bicarakanku, tentang mengapa aku pingsan. Setelah aku bangun dan Joo Hwan melihatku, dia dan mama menghampiriku.
“bagaimana keadaanmu?” Tanya Joo Hwan.
“apa ada yang sakit?” Tanya mama sambil memegang kening ku.
Aku tersenyum kepada mereka karena mereka begitu perhatian. Mereka termasuk ke dua orang yang paling penting dalam hidup ku.
“aku baik-baik saja!”
“syukurlah!” Joo Hwan.
“yah sudah kalian mengobrol saja, mama tinngal dulu ya!”
“jangan kau paksakan untuk mengingatnya, memang tidak mudah mengingat hal itu!” kata Joo Hwan yang duduk dikasur setelah melihat mama pergi keluar. Mungkin Joo Hwan tidak ingin ucapan kami didengar oleh mama.
“ia aku mengerti!” aku mengangguk-angguk tanda bahwa aku mengerti.
“bisa kah kau ceritakan kepadaku tentang kejadian sebelum aku mengalami kecelakaan itu terjadi?” Tanya ku dan berharap Joo Hwan mau menceritakan semua pada ku.
“baiklah! Sebelum kau mengalami kecelakaan. Kau mengunjungi toko bunga itu. Disana kau ingin menunjukkan suatu hal kepada Jae Woon, tapi aku tidak tau apa itu. Kau melihat Jae Woon bersama seorang gadis. Mungkin kau berfikir kalau Jae Woon selingkuh. Tapi kenyataannya memang benar, Jae Woon menduakan mu.” Dengan sesekali ia melihat ku.
“apa kau datang bersama ku?” selaku.
“tidak! Maafkan aku, karena aku mengikuti mu.” Joo Hwan melanjutkan kembali ucapannya sesekali menarik nafasnya.” Setelah itu kau menghampiri Jae Woon dan menamparnya terus kau menangis dan mengendarai mobil dalam keadaan menangis.”
“terus apa yang terjadi setelah aku pergi dari tempat itu?”
“aku memukul Jae Woon! Dan setelah itu aku dapat kabar bahwa kau kecelakaan.”
Bayangan itu. Aku mulai sedikit-sedikit mengingatnya, tapi tidak semuanya aku ingat. Kepalaku pusing dan kubaringakan badan ku tempat tidur ku.
“apa benar itu gadis selingkuhan Jae Woon?” tanyaku sambil memegang kepala ku.
“entahlah, setelah aku menerima kabar itu. Aku langsung pergi menuju rumah sakit. Aku tidak menemuinya lagi setelah itu.”
“apa ia menjengukku?”
“ia sempat menjenguk mu dan minta maaf kepada mu. Tapi waktu itu kau sedang koma!”
“tapi kenapa sampai sekarang ia tidak menemui ku? Aku kan sudah sadar sejak lama?” aku sedikit kecewa.
“saat kau koma dia juga yang merawatmu. Setelah kau sadar dan dokter bilang bahwa kau amnesia! Apa kau ingat waktu kau sadar Jae Woon ada disana?” Aku mulai mengingat-ingat dan ternyata benar ada sosok Jae Woon disana.
“kau malah tidak mengenalinya!” lanjut Joo Hwan. Aku memang bodoh! Kenapa aku tidak ingat kepada pacarku sendiri. aku memukul-mukul kepala ku sendiri. Joo Hwan yang melihat kelakuan bodohku dan berusaha menghentikannya. Air mata ku menetes. Aku merasa tidak berguna sudah dua bulan ini ingatanku belum kembali juga. Perasaan ku! Ada apa ini? Rasa rindu yang mendalam tapi kepada siapa? Jae Woon? Ya benar Jae Woon! Perasaan ku tidak bisa di bohongi walaupun aku lupa padanya tapi hati ku tidak demikian. Ku rasakan Joo Hwan memulukku.
*
Aku ingin mencari tau masa laluku bersama Jae Woon. Aku ingin tau apa alasannya Jae Woon berselingkuh! Karena tak sabar. Aku langsung menuju toko bunga itu. Walau aku belum ingat sepenuhnya. Aku beranikan diri untuk mencari tau semuanya.
Aku berjalan memasuki toko itu. Ku lihat wanita separuh baya tersenyum kearahku dan menyambutku dengan pelukan hangatnya.
“nak Soo Hee…” panggilnya, setelah ia melepaskan pelukannya. Aku hanya diam saja. “kenapa kau baru datang? Sudah lama kau tidak mengunjungi tempat ini?” lanjut wanita itu. Aku tidak mengenalnya. Apa dulu aku mengenalnya? Karena aku hilang ingatan aku jadi tidak ingat kepada wanita ini.
“apa yang terjadi pada mu? Apa kau tidak ingat padaku?” tanyanya hati-hati. Aku Cuma bisa diam. “kecelakaan itu? Apa ini yang membuatmu lupa kepadaku?” lanjutnya lagi.
“maafkan aku. Aku memang tidak ingat kepada anda?” kataku yang akhirnya membuka suara.
“sini nak duduk!” perintahnya. Aku duduk di sofa bersama wanita itu.
“apa kau mencari Jae Woon?” tanyanya dan melihat kearahku.
“i..yaa..” jawabku terbata-bata.
“ Soo Hee?” panggil seseorang yang berdiri di depan pintu. Yah siapa lagi kalau bukan Jae Woon. Aku langsung mengenalinya karena sebelumnya aku pernah pertemu denganya. Aku bertemu dengannya saat aku mengunjungi rumah Min Ji. Memang benar pria ini sangat tampan kalau dilihat dari dekat. Berarti aku beruntung dulu sempat memilikinya. Entahlah dengan sekarang, karena ia mengkhianatiku jadi aku tidak bersamanya lagi.
“mengapa kau disini?” tanyanya dengan ekspresi kaget setelah melihatku.
Oh tidak ada apa ini denganku. Kepalaku! Dan ingatanku! Aduh kepala ku sakit! Aku jatuh kelantai sambil memegang kepalaku. Karena ingatanku mulai kembali. Tapi… penglihatanku gelap.
*
Dimana aku ini? Aku di rumah sakit. Ku lihat disana ada mama, Joo Hwan dan… Jae Woon. Aku sekarang sudah ingat semua masa laluku. Rasanya aku ingin melempar semua barang yang ada ditempat ini setiap kali melihat Jae Woon . Aku ingat waktu ia bermesraan dengan gadis itu. Gadis selingkuhannya yang tidak tau diri itu. Dan si brengsek Jae Woon. Ku tahan amarahku. Aku berusaha senyum kepada mereka.
“apa yang terjadi?” Tanya mama khawatir. “apa ada yang sakit? Sebelah mana?” Tanya mama bertubi-tubi karena ia sangat khawatir dengan keadaanku.
Aku memegang tangan mama.
“aku baik-baik saja mah, kalian tidak usah khawatir! Aku sudah tidak apa-apa.” Seskali ku lihat kearah mama dan Joo Hwan.
“benar kau tidak apa-apa?” Tanya Joo Hwan lagi untuk memastikan kalau aku baik-baik saja.
Setelah beberapa hari aku dirumah sakit Jae Woon sering menjengukku. Tapi dia tidak sekalipun membahas masa laluku. aku juga tidak memberitahunya bahwa aku sudah ingat semua.
*
Aku minta Jae Woon untuk menemuiku di suatu tempat. Tempat favorit kami berdua yaitu di danau.
“siapa gadis itu?” Tanya ku kepada Jae Woon ketika kami sedang berjalan-jalan di tepi danau. Ku lihat Jae Woon syok setelah mendengar pertanyaan ku itu.
“oh itu… maaf kan aku, saat kita pacaran, aku sedang menjalin kasih dengannya.” Jelasnya hati-hati.
“apa yang kau katakan? Jadi selama kita pacaran, kau memiliki dua kekasih?” aku sangat syok mendengar penjelasan Jae Woon. Aku tidak percaya ia tega melakukan itu pada ku. Memang ia kira aku gadis apa? Seenaknya saja ia selingkuh dibelakang ku. Aku menapar wajah Jae Woon. Ku lihat ia meringis kesakitan dan wajahnya yang merah.
“maaf kan aku, waktu kau bilang suka padaku…” kata-katanya terhenti. “aku sudah memiliki kekasih” lanjutnya sambil memegang pipinya setelah ku tampar tadi.
“dasar cowok brengsek! Idiot! Tega sekali kau berbuat seperti itu padaku.” Aku memukul-mukul badan Jae Woon. Jae Woon yang ku pukul badannya hanya diam saja dan pasrah ku pukuli. Air mataku keluar. Rasanya sakit sekali hati ini di khianati. Aku memang bodoh. Ini semua salah ku, karena aku yang mengejar-ngejar Jae Woon. Aku sama seperti gadis-gadis yang lain seperti yang diceritakan Min Ji. Wajahnya yang tampan dan cool mebuat gadis-gadis luluh padanya, termasuk aku. Aku sudah dalam pelukan Jae Woon. Aku menangis dalam pelukannya. Setelah aku sadar, aku langsung mendorong badannya. Aku berlari meninggalkannya. Ku dengar Jae Woon berteriak-teriak memanggil namaku. Tapi aku tidak menanggapinya. Aku lari dalam keadaan menangis. Jae Woon tidak bisa mengejarku, karena lariku sangat cepat. Aku sudah berada di jalan raya. Ku stopi bis yang melaju. Aku naik bis itu. Air mataku masih membasahi pipiku. Aku duduk dan melihat keluar jendela. Bayangan itu menari-nari dipikiranku. Sungguh aku tak sanggup harus kehilangan seseorang yang kucintai.. Apalagi seseorang itu hanya mempermainnkan aku.
aku yang sudah sampai rumah, ku lihat Joo Hwan memandangiku khawatir. Aku langsung berlari menuju kamarku, aku tidak menghiraukan Joo Hwan yang dari tadi menanyakan keadaan ku yang sangat menyedihkan itu. Aku menangis sepanjang waktu. Entah sampai berapa lama aku berhenti menangis. Kenyataan itu memang pahit.
*
Paginya saataku bangun tidur, aku bercermin, oh tidak! Matakku bengkak. Ini akibat aku menangis semalaman. Ini semua gara-gara Jae Woon. Aku benci padanya. Ku rasa aku tak sanggup untuk menghadapi hari ini. Tidak ada yang tahu kalau aku menangis. Hanya saja Joo Hwan yang mengetahuinya. Mama, papa, kak Min Hoo dan pembantu dirumahku juga tidak ada yang tahu, karena aku berkurung semalaman di kamar tanpa makan. Harus gimana ini, aku tidak ingin seisi rumah pada tahu kalau aku menangis gara-gara pria yang tak tau diri itu. Yah siapa lagi kalau bukan Jae Woon. Tapi perutku sakit. Aku tidak makan malam kemarin. Aku lapar!
“nona sarapan paginya sudah siap!” teriak pembantuku dari luar kamarku.
“iya bi, tolong antarkan kekamar ku saja!” perintahku.
“baiklah!”
Tidak lama kemudian, sarapan pagi ku sudah diantarkan kekamarku. Aku makan sangat lahap. Yah karena aku tidak makan malam kemarin. Kuhabiskan tanpa sisa.
Sampai kapan aku harus berkurung dikamar. Aku bosan dikamar. Tapi mataku masih bengkak. Ku buka laci lemariku dan apa yang aku temukan disana adalah benda berwarna hitam. Apalagi kalau bukan kacamata. Sebaiknya aku memakai kacamata hitamku hari ini. Ini tampak tidak terlalu buruk bukan?
Ketika aku mengendap-endap keluar. Tiba-tiba kacamatku ada yang mengambilnya. Siapa itu? Kak Minnnn Hoooooo. Teriakku dalam hati. Oh tidak ia meledekku dan membawa pergi kacamataku. Aku berlari-lari mengejar kak Min Hoo. Tapi sulit sekali untuk mengejarnya. Ia menertawaiku dan mengejekku. Dasar kakak tidak punya perasaan. Adiknya yang malang ini selalu menjadi bahan ejekkannya. Mama yang melihat kami seperti kucing dan tikus, memarahi kak Min Hoo. Hahaha. Aku senang sekali kalau kak Min Hoo sedang dimarahi mama. Mama selalu berada dipihakku. Kakak ku yang malang. Tuh kan gara-gara kak Min Hoo semua orang yang ada dirumahku pada tahu kalau aku menangis kemarin.
*
Senang sekali Min Ji berkunjung kerumahku. Min Ji yang sadar dengan penampilan ku hari ini yaitu memakai kacamata hitam, malah menertawaiku. Dasar Min Ji! Tidak tahu apa-apa malah meledekku. Seperti kak Min Hoo saja.
“dalam rangka apa kau memakai kacamata didalam rumah, Kim Soo Hee?” Tanya Min Ji yang masih menertawiku.
“kau ini sama saja seperti kak Min Hoo!” aku cemberut kearah Min Ji.
“kau ini sangat lucu sekali!” Min Ji mencubit pipiku.
Saat kami sudah berada dikamarku. Aku menceritakan semua hubunganku dengan Jae Woon dan apa yang telah ia lakukan kepadaku. Min Ji sangat syok mendengar ceritaku itu. Min Ji saja yang sepupunya tidak tahu kalau Jae Woon berhubungan denganku dan tega melakukan itu pada ku. Min Ji memang teman yang baik. Disaat aku sedih ia menghiburku, seperti saat ini.
*
Setelah berapa lama kejadian di danau itu, Jae Woon tidak lagi menemuiku. Perasaan rindu ini semakin menjadi-jadi. Dan aku tidak tahu ini ditunjukkan kepada siapa. Apakah Jae Woon atau… Joo Hwan. Apa? Joo Hwan? Bagaimana bisa aku memikirkannya? Ada apa denganku? Semudah itukah aku melupakan Jae Woon dan berpaling pada Joo Hwan? Yah Tuhan! Setelah pertemuan waktu itu. Joo Hwan tidak lagi menumuiku.
A Perfect Stranger
Orang bilang SMA adalah masa-masa indah anak remaja. Memang benar. Di sana Mereka akan menemukan hal-hal seru. Menemukan jati diri, cinta, sahabat, bergaul, bebas berekpresi, bekarya, dll. SMA juga adalah masa pengujian. Pengujian tentang arti hidup, sahabat dan cinta. Ketika satu persatu pengujian itu datang bertubi-tubi dalam hidup kita, apakah kita mampu menghadapinya?
Senja itu, ketika matahari malu-malu bersembunyi di ufuk barat, memancarakan cahaya yang mulai redup, seharian telah memberi penerangan. Esok adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang, kebanyakan orang-orang memanfaatkan waktu libur untuk refresing dan pergi ketempat-tempat funtasy atau ketempat yang ingin dikunjungi setelah melakukan aktivitas-aktivitas yang padat. Apalagi Jakarta adalah salah satu kota terpadat, termacet dan berpolusi. Tidak seperti gadis yang sedang asik mendengarkan lagu di kamarnya sambil bernyanyi-nyanyi mengikuti setiap lagu yang diputarnya. Gadis itu lebih banyak menghabiskan waktu liburnya dengan membantu orang tuanya. Membersihkan rumah atau pun sesekali membantu mengantarkan barang jualan ke toko pakaian milik orangtuanya di salah satu Mall yang ada di Jakarta.
Dinding kamar dipenuhi poster-poster rider MotoGp, Marc Marquez, ia adalah rider terkenal asal Spanyol yang tahun depan akan naik kelas 1000cc. wajahnya yang tampan, bibir tipis sexy dan alis tebal membuat Resa tergila-gila padanya. Ia salah satu rider termuda, dan tahun kelahirannya berbeda satu tahun lebih tua dari Resa. ia tak pernah melewatkan menonton MotoGp yang tayang di salah satu TV nasional.
Lagu yang diputarnya menggema memenuhi seluruh sudut kamarnya yang bersih dan rapih. Alunan musik K-Pop asal Korea itu membuat Resa tak henti-hentinya bernyanyi dan menghayati setiap lirik lagu walau dengan suara pas-pasan. Ia tidak memperdulikan siapapun yang mendengar suaranya. Karena asik bernyanyi sampai-sampai ia tak mendengar suara apapun. Bahakan suara cicak dikamarnya pun tak dapat didengarnya.
Suara itu semakin keras! Resa menyadari ada seseorang di balik pintu memanggil namanya. untuk cepat-cepat dibukakan. Menyadari itu Resa segera mematikan lagu yang diputarnya. Dengan wajah sedikit kesal karena telah mengganggu aktivitasnya, ia akhirnya membuka suara.
“siapa sih?” dengan nada sedikit emosi dan keras.
“woiii, berisikkk!! Suara lo pales banget!” terdengar suara keras dibalik pintu kamar Resa memaki-maki.
“apaan sih lo kak? Ganggu gue ajah! Bodo amat mau pales atau nggak yang penting gue hepi! Masalah gitu buat lo?” balas Resa dengan kesal setelah mengetahui siapa yang menggangunya, yaitu kak Agra.
“yaialah masalah buat gue, masih mending suara elo bagus, ini suara udah kaya kaleng rombeng!” teriak Kak Agra lagi dari balik pintu.
“bodoooo! Maaa itu kak Agra ganggu aku mulu!!” teriak Resa menuju pintu kamarnya dan membuka pintu terlihat kak Agra yang berdiri dihadapannya.
“Agra kamu seneng banget sih ganggu adik kamu!” suara lembut mama terdengar dari ruang tamu.
“ tau nih Ma, Resa ajah nggak pernah ganggu kak Agra!” sambil menjulurkan lidah kearah Kak Agra menandakan bahwa Resa mengejek Kak Agra dan merasa mama membelanya. Kak Agra yang tidak bisa terima, membalasnya dengan mengacak-acak rambut Resa.
“gue sih udah biasa denger suara elo yang kaya gitu, masalanya ada temen gue, kalau mereka denger suara pales adik gue tersayang ini, apa kata dunia?” lontarnya.
“bodoo ah, biar mereka tau betapa indahnya suara gue!” dengan kesal Resa menutup pintu kamarnya rapat-rapat agar Kakaknya yang ngeselin itu nggak bisa masuk dan menganggunya lagi.
“aduhh kenapa kak Agra nggak bilang dari tadi ke gue kalo temennya kesini! Sumpah malu banget kalo sampe mereka denger suara gue! Apalagi kalo didenger kak Rere yang ganteng, suara gue kaya gini, mau di taro dimana muka gue kalo ketemu dia?!” keluh Resa yang langsung berbaring dikasur empuknya.
*
Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang kenaikan kelas. Saatnya kita akan menemukan teman-teman baru, teman yang akan memberi kita pengalaman-pengalaman seru dan akan menjadi bagian cerita indah dalam hidup kita yang perlu diingat dalam memory kita. Kita tidak pernah tau apa yang bakalan terjadi dihidup kita, sebelum kita merasakan yang namanya persahabatan, tantangan, cinta, sakit hati, sedih, kecewa, bahagia dan lain-lain. Itu semua adalah sebagian besar dari proses kehidupan. Masa-masa yang nggak bakalan terlupakan adalah masa-masa SMA terutama kelas dua. Ini yang akan dirasakan Resa selama ia duduk di bangku kelas dua IPS.
Kelas 11 IPS 1 itu berada di pojok atas lantai dua. Resarma Sista itulah salah satu nama yang terpampang di selembaran kertas yang menempel dibalik jendela kelas tersebut. Resa memasuki kelas barunya dan melihat teman barunya yang asik dengan kesibukan mereka masing-masing ada yang sedang mengobrol dengan temanya, ada yang sedang mendengarkan musik, ada yang memperhatikan Resa yang masuk kelas setelah itu melanjutkan kegiatannya dan ada juga yang sedang bercanda dengan temannya. Resa berjalan cuek menuju tempat duduk yang kosong persisnya di pojok barisan keempat dekat pintu. Berhubung sahabat-sahabat Resa tidak ada yang satu kelas dengannya, maka terpaksa ia duduk sendiri.
Datang pria jangkung, berkumis tipis, kemeja coklat dengan rambut klimis yang di belah tengah dan rapih memasuki kelas. ia memperkenalkan dirinya sebagai wali kelas 11 IPS 1, namanya pak Dahlan Suntoro. ia asik bercuap-cuap di depan kelas. Selang beberapa menit masuk seorang siswa yang sedikit asing di kalangan angakatan Resa. Terdengar bisik-bisik dari siswi di kelas itu, entah apa yang di obrolkan oleh mereka ketika siswa itu memasuki ruang kelas. Suara pak Dahlan yang keras dan melengking, memberitahu siapa siswa tersebut, ternyata dia adalah murid baru di kelas 11 IPS 1, namanya Darma Sandwika. Dan yang lebih mengejutkan lagi ternyata Darma TIDAK NAIK KELAS. Resa yang mendengar pernyataan tersebut kaget siswa tersebut tidak naik kelas. Anak baru yang tidak naik kelas itu memperkenalkan dirinya didepan kelas. Tiba-tiba jantung Resa berdebar kencang dan ia mulai merasa resah entah apa yang akan terjadi, Resa menerka-nerka hal itu dalam pikirannya namun berusaha ia singkirkan. Ia semakin resah dan apa yang terjadi? Siswa YANG TIDAK NAIK KELAS ITU duduk sebangku dengan Resa. Karena bangku disampingnya kosong, maka mau tak mau ia menerima dan pasrah menerima kenyataan itu.
“kiamat!” suara Resa terdengar keras membuat seluruh orang yang ada diruang kelas itu sontak kaget dan melihat kearah Resa.
“hei kamu, siapa namamu?” Tanya pak Dahlan sambil menujuk jarinya kearah Resa. Mungkin karena tergangu dengan suara Resa yang membuat kaget orang-orang yang berada diruang kelas itu.
Resa yang malu dengan perbuatannya membuka suara. “nama saya Resarma Sista” jawab Resa dengan hati-hati.
“jangan kamu ulangi lagi!” tegas pak Dahlan.
“baik pak!” kata Resa sambil mengangguk bahwa ia mengerti dengan perintah pak Dahlan. Hari pertama masuk sekolah saja sudah membuat malu, apalagi setahun kedepan? Aduh apa yang terjadi kedepannya dengan Resa? bagaiamana bisa ia duduk dengan seseorang yang tidak naik kelas? Pasti hari-hari Resa direpotkan oleh anak baru itu. Apa yang bakalan terjadi antara Resa dengan anak baru tersebut?
Cowok itu berjalan kearah Resa dan duduk disampingnya. Cowok itu tersenyum tipis kearah Resa dan begitu juga denga Resa yang membalas senyumannya. Cowok yang kini berada disamping Resa membuka suara “nama gue Darma Sandwika, elo bisa panggil gue Darma ajah. Salam kenal ya” kata cowok itu memperkenalkan dirinya kepada Resa. “nama gue Resarma Sista” elo bisa panggil gue Resa. Salam kenal juga” balas Resa yang memperkenalkan dirinya.
Setelah perkenalan itu mereka berdua tidak lagi saling berbicara ataupun sekedar menanyakan sesuatu karena Darma teman sebangku Resa hanya diam dan cuek. Begitu juga dengan Resa yang dari tadi diam. Mereka menjalani hari ini dengan kebisuan. Apa karena mereka masih canggung atau bingung menanayakan sesuatu? Tidak mungkin jugakan Resa menanyakan kenapa dia tidak naik kelas? Kalau Resa bisa menanyakan itu pasti Darma akan merasa kecewa dan membenci Resa. Oleh sebab itu Resa memilih diam saja dari pada menanyakan hal itu ke Darma.
*
“Resa pulang!” teriak Resa memasuki rumahnya. Pada jam segini pasti mama lagi berada di dapur dan nyiapin makan siang buat Resa dan kak Agra. “kamu udah makan?” Tanya mama menghampiri Resa yang duduk di ruang tamu.
“Resa udah makan Ma tadi di sekolah!”
“oh ya nanti kak Arga bawa temennya kesini palingan Rere sama Lian, mereka mau ngerjain tugas bareng katanya sih!” sambung Mama
“kak Rere Ma?” Tanya Resa antusias.
“yah siapa lagi kalau bukan mereka berdua, yaudah Mama mau nyiapin makan dulu!” Mama meninggalkan Resa. Kak Rere mau kesini aduh gue harus keliatan cantik nih pikir Resa dalam hati. Resa buru-buru ganti baju yang bagus dan rapih agar tidak mengecewakan Kak Rere. Hikhik
“selamat siang kak Rere, Kak Lian!” suara Resa mengejutkan mereka yang duduk di ruang tamu.
“selamat siang juga dik Resa” sambut Rere dan Lian berbarengan.
Agra yang melihat tingkah laku adiknya langsung menghampiri Resa dan melihat dengan intens.
“kayanya ada yang beda nih sama adik gue? Tapi apa yah?” selidik Agra sambil memincingkan sebelah matanya.
“iya nih ada yang beda!” sambar Lian yang tak mau kalah.
“apaan sih kalian berdua, aku tuh biasa ajah!” jawab Resa sekenanya.
“eh tunggu dulu, kok bibir adik gue merah yah? Elo pake lipstik ya?” Agra yang memperhatikan ada yang beda dengan bibir Resa dan membuat Resa memerah karena malu. Karena sebelumnya Resa tak pernah memakai lipstik. Dan lipstik yang ia pakai sekarang adalah lipstiknya yang ia beli seminggu lalu, belum pernah ia memakainya, baru sekarang ini saja.
“hehehe ia, sedikit doang!” jawab Resa cengengesan.
“tumben-tumbenan, jangan bilang elo ngelakuin ini buat Rere? Yakan? Ngaku lo?” Tuduh kak Agra.
“enak ajah gue ngelakuin ini buat diri gue sendiri!” dusta Resa yang tak mau ketahuan bahwa yang ia lakukan itu hanya semata-mata buat kak Rere. Rere yang melihat gelagat adik temannya itu hanya tersenyum tipis kearah Resa.
“nggak biasanya elo kaya gini? udah mulai genit ya?” ledek kak Agra. Resa yang mati kutu hanya bisa cengengesan.
“apa urusanya sama lo? Lagian kan gue cewek, malulah kalau kaga bisa dandan!” ngeles Resa
“wah ternyata adik gue ini udah gede ya!” ledek kak Agra lagi.
“ah terserah dah!” Resa mulai kesal dengan kelakuan kak Agra. Resa yang selalu dibikin kesal oleh kak Agra memilih untuk mengalah dan pergi dari pada ngeladenin kak Agra yang sok tau dan ngeselin itu. Apalagi kalau kak Rere tau kenyataan yang sebenarnya, pasti ia bakal malu banget. Ditambah kak Lian yang ikut-ikutan ngeledek dan tertawa lebih keras dari kak Agra bikin malu ajah.
“Kak Agra apa-apaan sih bikin gue mati kutu didepan kak Rere apalagi dengan bibir merah gue aduh pasti gue diketawain oleh mereka kalo gue ngelakuin itu semata-mata buat kak Rere. Pasti mereka lagi ketawa nih!” gerutu Resa yang duduk di kasurnya dan memajukan bibir tipisnya itu.
Hari ini banyak orang yang bikin Resa kesal pertama kak Agra, kedua kak Agra, ketiga Darma. Bagaimana tidak dua kali dengan kak Agra karena yang paling super duper nyebelin itu kak Agra, heran kenapa dia bisa jadi kakaknya Resa. Darma? Sebenernya sih dia belum ngelakuin sesuatu yang bikin Resa marah tapi karena dia tidak naik kelas pasti membuat Resa akan kerepotan ngadepin cowok bodoh itu. Sial!
*
Resa menjalani hari-harinya seperti biasa yaitu mengikuti pelajaran ekonomi dengan baik. Pelajaran yang membosankan itu membuat Resa sesekali menguap. menjadi teman sebangku yang baik, Darma juga tidak banyak bicara hanya berbicara sedikit-sedikit saja. Bel istirahat pun berbunyi, membuat Resa terbebas dari pelajaran yang susah itu. Resa memang tidak terlalu pintar di pelajaran ekonomi. Dengan langkah gontai Resa pergi kekantin.
“Res, kemana ajah elo?” teriak salah satu anak yang bergerombol duduk di sudut kantin sekolah. Resa duduk bergabung dengan temannya.
“gue nggak kemana-mana!” jawab Resa sekenanya. Yang duduk disamping Syisi.
“wes, tampang elo bete banget nih! Lagi kenapa sih say? Oh ya elo duduk sama Darma ya?” Tanya Syisi sambil menyeruput jus alpukatnya.
“siapa tuh Darma?” sambar Rifka.
“elo nggak tau Darma? Serius? Ah payah lo! Dia kan kakak kelas kita yang nggak naik kelas!” jelas Syisi
“apa? Nggak naik kelas?” Rifka yang tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
“kok bisa sih elo duduk sama dia?” Tanya Mela
Resa yang duduk dan mendengar percakapan ketiga sahabatnya hanya bisa diam. Matanya yang bulat dan besar itu menatap kearah cowok yang sedang duduk sambil makan nasi goreng dengan lahapnya. Yah siapa lagi kalau bukan Darma. Darma itu misterius seperti yang terlintas dipikiran Resa saat ini. Darma yang sadar dari tadi diperhatikan oleh Resa menyudahi makananya dan pergi begitu saja. Resa tidak sadar bahwa ketiga sahabatnya melihat kearahnya yang dari tadi melamun.
“Res, gue Tanya juga dari tadi elo diem ajah! “ senggol Mela. Resa yang sadar dari lamunannya stay cool kearah sahabatnya.
“elo liatin siapa sih?” Tanya Syisi penasaran
“gue, gue…hemm” Resa sedikit berdeham agar sahabatnya tidak tahu bahwa ia dari tadi melihat Darma yang sedang makan sampai ia pergi meninggalkan kantin. “gue nggak ngelamun, cuman lagi bete ajah tadi sama pelajaran Ekonomi!”
“jawab pertanyaan gue yang tadi!” bentak Mela yang masih penasaran tentang Darma itu.
“yang mana?” Tanya Resa polos. Karena ia dari tadi tidak mendengar obrolan sahabatnya itu.
“kenapa elo bisa duduk sama Darma?” ulang Mela
“Darma?” kata Resa kaget. Kenapa bisa mereka membicarakan Darma yang dari dipikirkan Resa?
“iya dia!” sambar Rifka
“hemm waktu awal gue masuk kelas, bangku samping gue kosong dan nggak ada yang mau sebangku sama gue, terus karena ada anak baru ya udah deh gue duduk sama dia, lagian kan gue duduk sama dia bukan kemauan gue, tapi karena pak Dahlan” jawab Resa panjang lebar.
“siapa yang elo bilang anak baru? Darma? Dia tuh nggak naik kelas!” tegas Syisi
“ah udah jangan ngomongin dia lagi!” kata Resa yang mulai bete
“iyaiaya gitu ajah sewot!” ledek Mela.
Kempat sahabat itu asik membicarakan hal-hal seru dan pengalaman-pengalaman seru mereka selama mereka libur panjang disertai gelak tawa dari mereka begitu juga dengan Resa. Setelah bel istirahat habis, Resa dan teman-temannya masuk kekelas masing-masing. Resa mengikuti pelajaran dengan baik walau sesekali menguap pada pelajaran yang sedikit membosankan menurut Resa.
*
“Res elo mau balik sama kita?” Tanya Rifka dan sahabat-sahabat lainnya yang berada di depan perpustakaan
“elo duluan ajah, gue masih ada tugas hari ini!” jawab Resa
“eh yaudah gue duluan yah!” jawab Rifka
“duluan yah!” kemudian disertai suara Mela dan Syisi yang berbarengan.
“oke! Hati-hati!”
Resa yang hari itu mendapat tugas piket kelas, harus membersihkan kelas. Resa mengambil sapu yang berada di lemari dan mulai menyapu. Tak lama setelah itu, Darma masuk kekelas untuk mengambil tasnya. Resa yang kaget kedatangan Darma sontak melompat sedikit dan melihat kearah Darma.
“elo bikin gue kaget! Kalo masuk kelas pake salam napa?” suara Resa menggema di kelas itu
“eh sori, gue kira nggak ada orang tadi!”
“jelas-jelas ada gue disini! Nggak liat dari mana?” gerutu Resa pelan.
Resa yang melihat penampilan Darma yang sedang mengenakan pakaian Silat langsung terpana dengan badan Darma yang atletis dan ototnya yang kekar itu menonjol.
“elo ekschool silat?” Tanya Resa yang masih memegang sapu.
“iya, kenapa? Ada yang aneh?” Tanya Darma simple
“biasa ajah sih, tapi kok gue baru liat elo ya?”
“gue udah lama ikut Ekschool silat dari kelas satu” jelas Darma yang berdiri di ambang pintu sambil merangkul tas dipundaknya.
“pantesan sabuk elo udah merah!”
”dikit lagi juga mau item! Yaudah iya gue mau latihan dulu, lanjutin gih nyapunya, yang bersih yah!” ledek Darma yang keluar kelas meninggalkan Resa.
apa? Yang bersih? Dia kira gue pembantu? Baru tau gue ternyata dia sama ngeselinnya kaya kak Agra! gerutu Resa.
Resa hari itu menyapu dengan tampang bete walau seperti itu, ia tetap menyelesaikan tugasnya itu dengan baik. Ia keluar kelas dan berjalan disepanjang koridor sekolah menuju gerbang sekolah. Tak lama ia mendengar suara anak-anak silat sambil berteriak-teriak yang sedang berlatih menghancurkan batu bata termasuk dengan Darma. Resa spontan duduk di bangku panjang yang berada di depan kelas dan memperhatikan anak-anak silat berlatih. Terpikir di pikiran Resa bahwa Darma itu kalau dilihat-lihat lumayan secara badannya seperti atlit-atlit nasional yang sudah-sudah. Tanpa disadari ternyata Darma menghampiri Resa, Resa yang melihat itu sedikit kaget tetapi tetap tenang.
“elo belom pulang? Udah bersih kelasnya?” Tanya Darma sedikit meledek Resa.
“sialan elo! Emang gue apaan?” jawab Resa sewot.
“hahahahaha sori sori, gue cuman bercanda tadi! Gue perhatiin elo dari tadi ngeliatin gue?” Tanya Darma yang membuat Resa malu.
“siapa juga yang ngeliatin elo, gue ngeliatin anak-anak silat!” jawab Resa tenang
“termasuk gue?” Tanya Darma yang mengangkat alisnya yang tebal itu.
“apa maksud elo?”
“gue kan anak silat, berarti elo ngeliatin gue juga dong!”
“emang elo doang yang anak silat?” ngeles Resa
“bener sih, tapi tadi pas dikantin elo juga ngeliatin gue?”
Apa? Berarti dari tadi Darma sadar kalau hari ini Resa memperhatikannya? Apa yang akan dijawab Resa? Haruskah berbohong lagi?
“o..oo yang itu, gue, gue..!” Resa menarik napas dan melanjutkan perkataannya “gue tadi lagi ngelamun, tapi sumpah deh gue nggak ngeliatin elo! Jangan Ge-Er dulu lo!”
“hahaha jangan salting gitu juga kali! Iya gue tau elo lagi ngelamun dan lagi ngelamunin gue! Haaa” tawa Darma geli
“apaan sih lo! Dasar cowok ke ge-eran, padahal yang cakep banyak, ngapain juga gue ngeliatin lo!”
“hahaha siapa tau ajah kan? Gini-gini gue banyak yang nyukain lo!” katanya yang memuji diri sendiri.
“cakep dari mana? Itu cewek yang suka sama lo itu pasti katarakan! Yakan?” canda Resa yang membuat Darma tertawa. Mereka terus berbincang bahkan saling mengejek satu sama lain yang membuat keduanya asik tertawa. Mereka merasakaan kenyamanan saat mereka berbicara. Sore itu Resa diantar pulang oleh Darma naik motor. Karena rumah mereka searah dan Darma sendiri yang mengajak duluan, membuat Resa menerima tawarannya itu. Mereka seperti sudah kenal lama. Apa itu dinamakan teman lama yang sudah tak lama bertemu? Resa tak lagi memikirkan hal-hal negatif tentang Darma apalagi ia salah satu siswa Feter. Hal-hal negatif itu sudah terbayar dengan gelak tawa mereka sepanjang jalan. Mereka menghabiskan waktu bersama dengan membicarakan lelucuon. Ternyata Darma anaknya asik walau terkadang ngeselin juga sih, tapi nggak apa-apa deh yang penting Resa nyaman berteman dengan Darma.
“thanks udah nganterin gue pulang! Nggak nyangka ternyata elo anaknya asik juga!” kata Resa sambil turun dari motor Darma.
“hahhaha iya, elo juga seru! Asik!” kata Darma memuji.
“hati-hati!” kata Resa melihat Darma memutar balik motornya dan pergi. Darma pun melambai tangannya sebagai tanda perpisahan pada sore itu. Resa yang melihat, tersenyum tipis dan membuka pintu pagarnya. Didepan pintu terlihat kak Agra yang sedang melihat kearah Resa, alisnya terangkat menandakan penasaran dengan apa yang ia lihat, karena baru kali ini ia melihat adiknya diantar pulang oleh seorang cowok. Resa yang menegetahui maksud kak Agra pun cuek dan santai memasuki rumah.
“siapa tadi?” Tanya kak Agra penasaran.
“kepo banget sih! Dia itu temen gue!” jawab Resa ketus. Kak Agra emang harus digituin , karena kalau tidak pasti ia bakal terus-terusan ngelakuin apa yang ia mau. Menindas yang lemah. Ibarat gajah dan semut. Gajah itu kak Agra dan semut itu Resa. Semut akan selalu kalah dengan gajah yang badannya besar.
“temen apa temen? Pacar kali? Kok nggak bilang? Rere dikemanain?” ledek kak Agra yang bikin Resa memajukan bibirnya yang mungil dan memasang tampang bete dan kesel.
“dia bukan pacar gue! Dia temen gue!” teriak Resa dan meninggalkan kak Agra sendiri didepan pintu.
*
Gadis yang berdiri di depan gerbang sekolah yang sedang menunggu jemputan, wajah yang lelah akan aktivitas sekolah yang padat dengan tugas-tugas yang diberikan guru-guru untuk murid-muridnya baik di hari biasa maupun waktu liburan. Keringat yang membasahi dahinya yang sedikit lebar itu sesekali mengelap keringat yang bercucuran dengan tisu yang dibawanya. Keadaan sekolah mulai sepi, karena sebagian murid sudah pulang dan beberapa murid saja yang masih berkeliaran disekitar sekolah. Exschool menjadi alasan beberapa murid yang masih berkeliaran di sekolah. Ada juga yang sekedar untuk nongkrong-nongkrong bersama murid lain. Gadis ini terus-terusan melihat jam tangan yang dipakainya dan tampak resah. Sambil menggigit bibir mungilnya dan bergumam tidak jelas.
Sesaat itu terdengar ringtone handphone lagu Shinee-Hello yang berteriak-teriak dari dalam saku bajunya. Setelah menyadarinya, ia segera mengangkat dan berbicara dengan seseorang yang berada disebrang sana. Setelah beberapa menit ia menyudahi telphone-nya terdengar nada kecewa pada gadis itu. Gue pulang sama siapa? Kalau gue tunggu mang Arif pasti lama? Gumam Resa. Resa memutuskan untuk menunggu mang Arif saja, karena ia tidak biasa naik kendaraan umum setelah kejadian itu. Kejadian dimana Resa pernah di copet ketika mang Arif tidak bisa menjemput karena istrinya sakit dan terpaksa Resa pulang naik metromini dan dompetnya ludes diambil oleh copet tersebut. Resa tidak bisa berbuat apa-apa karena copet itu sudah kabur. Orang-orang yang di dalam metromini tersebut hanya melihat Resa prihatin. Metromini yang melaju cepat membuat orang-orang disekitar tidak bisa berbuat banyak. Setelah kejadian itu Resa tidak mau lagi naik metromini dan lebih baik menunggu berjam-jam seperti yang ia lakukan sekarang.
Mang Arif sedang berada dibengkel karena ada kesalahan teknis dengan mobil yang dibawanya dan membuat Resa harus menunggu. Resa kembali masuk kedalam sekolah dan menuju kekelasnya yang berada dilantai bawah disamping lab. Biologi. Sesaat mata Resa tertuju pada seorang cowok yang sedang bermain bola basket dilapangan, bukan karena Resa jatuh cinta pada pandangan pertama yang dirasakan oleh kebanyakan orang pada umumnya, melainkan siswa itu adalah teman sebangku Resa yang tidak naik kelas dan super nyebelin. Membuat Resa ingin pindah tempat duduk tapi, tidak ada yang mau berganti tempat duduk dengannya. Terpaksa Resa harus bersabar untuk beberapa bulan ini. cowok itu menyadari bahwa dari tadi gadis yang menjadi teman sebangkunya memperhatikannya. Pria itu melihat kearah gadis itu dan menghampiri sambil mentribble bola.
Sesaat itu terdengar ringtone handphone lagu Shinee-Hello yang berteriak-teriak dari dalam saku bajunya. Setelah menyadarinya, ia segera mengangkat dan berbicara dengan seseorang yang berada disebrang sana. Setelah beberapa menit ia menyudahi telphone-nya terdengar nada kecewa pada gadis itu. Gue pulang sama siapa? Kalau gue tunggu mang Arif pasti lama? Gumam Resa. Resa memutuskan untuk menunggu mang Arif saja, karena ia tidak biasa naik kendaraan umum setelah kejadian itu. Kejadian dimana Resa pernah di copet ketika mang Arif tidak bisa menjemput karena istrinya sakit dan terpaksa Resa pulang naik metromini dan dompetnya ludes diambil oleh copet tersebut. Resa tidak bisa berbuat apa-apa karena copet itu sudah kabur. Orang-orang yang di dalam metromini tersebut hanya melihat Resa prihatin. Metromini yang melaju cepat membuat orang-orang disekitar tidak bisa berbuat banyak. Setelah kejadian itu Resa tidak mau lagi naik metromini dan lebih baik menunggu berjam-jam seperti yang ia lakukan sekarang.
Mang Arif sedang berada dibengkel karena ada kesalahan teknis dengan mobil yang dibawanya dan membuat Resa harus menunggu. Resa kembali masuk kedalam sekolah dan menuju kekelasnya yang berada dilantai bawah disamping lab. Biologi. Sesaat mata Resa tertuju pada seorang cowok yang sedang bermain bola basket dilapangan, bukan karena Resa jatuh cinta pada pandangan pertama yang dirasakan oleh kebanyakan orang pada umumnya, melainkan siswa itu adalah teman sebangku Resa yang tidak naik kelas dan super nyebelin. Membuat Resa ingin pindah tempat duduk tapi, tidak ada yang mau berganti tempat duduk dengannya. Terpaksa Resa harus bersabar untuk beberapa bulan ini. cowok itu menyadari bahwa dari tadi gadis yang menjadi teman sebangkunya memperhatikannya. Pria itu melihat kearah gadis itu dan menghampiri sambil mentribble bola.
“hi anak mami kok belom pulang sih? Lagi tunggu jemputan ya.” Pria yang sok cool ini meledek Resa dimana pun dan kapan pun. Membuat Resa memasang tampang cemberut dan bete setiap kali bertemu denganya.
“siapa yang elo bilang anak mami? Ha.”
“anak mami marah nihyee!.” Pria itu masih saja meledek Resa sambil memainkan bola basketnya itu.
“gue? Anak mami? Rese elo!” Resa yang tidak bisa terima dibilang anak mami itu memasang tampang bete kearah pria yang ada dihadapannya itu.
“emang bener kan. Buktinya belom dijemput ajah malah nggak pulang dan lebih baik nunggu berjam-jam dari pada pulang sendiri. apa buktinya lagi kalau bukan anak mami hayoo?”
“gg..gue disini bukan nunggu jemputan. Tapi ada tugas lain yang perlu gue kerjain. Jangan sotoy lo!” dusta Resa. Resa tidak mau kalah dengan pria itu dan terpaksa berbohong demi harga diri terhadap pria yang nyebelin dan ngebetein.
“tugas apa tugas? Terus elo ngapain ngeliat gue kaya tadi? Terpesona yaa sama permainan basket gue.” kali ini Darma memuji dirinya sendiri. Kenyataannya permainan basket Darma memang bagus dan siapapun yang melihatnya akan jatuh cinta padanya. Tapi, Resa tidak sama dengan cewek-cewek lain kebanyakan yang ada disekolahnya yang berteriak-teriak ketika Darma sedang bermain basket.
“bener ada tugas kok” dusta Resa lagi. “idih ngapain juga gue harus terpesona sama elo dari pada ngeliat elo mending gue...” tidak sempat melanjutkan perkataannya, tiba tiba bola futsal terbang mengarahnya. Mengenai hidungnya dan mengeluarkan darah. Resa yang merasa kesakitan langsung berlari menuju toilet. Meninggalkan Darma yang kasihan dengannya. Resa terus berlari, ia tidak memperdulikan dua pria yang memanggilnya. Resa mengelap darah yang keluar dari hidungnya dengan tisu. Sakitnya yang luar biasa di gebok bola futsal membuat Resa terus meringis kesakitan.
“Hidung elo berdarah!” suara yang terdengar bersalah itu mengagetkan Resa dan membuat Resa menoleh kearah sumber suara itu. Resa masih saja sibuk membersihkan darah yang keluar dari hidungnya. Dan mengacuhkan cowok yang kini berada disampingnya. Dari tadi cowok itu cuap-cuap kearah Resa untuk minta maaf dengan apa yang ia lakukan tadi. Setelah darah yang keluar dari hidung Resa berhenti. Resa menatap cowok itu dengan tampang bete.
“elo marah ya sama gue? Kan gue udah minta maaf. Gue nggak tau kalau ada elo disitu.” Kata cowok yang tidak diketahui namanya itu. Resa yang sangat marah pada cowok itu, meninggalkannya sendiri. pria itu masih saja mengejar Resa agar permohonan maafnya diterima. Tapi, Resa diam saja sambil berjalan. Resa melihat mang Arif sudah datang, bergegas ke mobil dan mengacuhkan cowok yang telah membuat hidungnya berdarah ditambah lagi sama cowok yang bernama Darma. Darma bukan teman yang baik. Buktinya disaat Resa terkena musibah bukannya menolong malah menghilang entah dimana.
“non kenapa hidungnya? Kok merah?” suara mang Arif menyadarkan Resa dari lamunanya.
“oh ini. Nggak apaapa kok mang, cuman gatel ajah tadi. Terus aku garuk jadi merah deh!” dusta Resa lagi kali ini dia berbohong supaya mang Arif tidak khawatir kepadanya. Mang Arif sudah terlalu baik kepada Resa dan keluarganya. Jadi Resa tidak mau membuat mang Arif cemas. Untung saja darahnya tidak lagi keluar. Sepanjang jalan menuju rumah Resa hanya bisa diam dan sesekali menghembuskan nafas. Berharap esok menemukan hari yang lebih baik dari pada hari ini dan tidak bertemu dengan pria-pria nyebelin. Terutama Darma. Darma? Kemana dia? Dasar cowok brengsek bukannya nolongin eh malah kabur. Awas saja besok!
*
Tidak tau kenapa hari ini Resa sangat gembira sekali. Senyumnya menghiasi hari-harinya. Apalagi Darma, teman sebangkunya yang nyebelin itu tidak masuk sekokah. Tidak ada keterangan apa-apa. Bagaimana mau naik kelas kalau kerjanya sering bolos sekolah seperti hari ini. Tapi bodolah apa pedulinya toh ini yang diinginkan Resa supaya nggak ketemu dia. Kalau ada dia juga, hari-hari Resa tidak tenang.
“Res, ada yang nyariin elo tuh!”
“siapa?”
*
Resa merasa cemas dan takut akan terulang lagi kejadian-kejadian yang ia alami ditahun sebelumnya. Resa menerka-nerka apa yang akan dilakukan sahabat-sahabatnya terhadapnya. Karena dari tahun ketahun pasti teman atau sahabatnya memberi surprise yang parah dan hancur!
Dikelas Resa biasa saja melakukan aktivitas belajar seperti biasa di hari-hari sebelumnya. Belum ada yang memberi ucapan selamat ulang tahun kepadanya. Bahkan Darma teman sebangkunya juga tidak ngucapin, mungkin karena ia tidak tau atau karena ia tak peduli. Bukannya dia orang yang cuek? Waktu itu sih nggak, tapi setelah kejadian Darma nganterin pulang Resa, keesokan harinya Darma bersikap cuek dan dingin. Darma itu tidak bisa ketebak, kadang apa yang dilakukannya hari ini belum tentu sama dihari esoknya. Terus dia juga sering nggak masuk, entah apa yang ia lakukan kalau tidak sekolah.
Dilangkahkanlah kakinya meninggalkan ruang kelas menuju lantai bawah. perasaannya seolah-olah ada yang berbeda yang akan terjadi pada sore ini. Menuruni anak tangga selangkah demi selangkah. Masih tak ada yang berbeda masih sama seperti biasa. Pikirannya tertuju pada setahun yang lalu di tanggal yang sama. Ketika sudah berada dilantai bawah tiba-tiba serangan sebuah telor tepat mengarah di badan Resa. Resa yang tau apa yang terjadi pada sore ini tak bisa berbuat banyak. Serangan demi serangan bertubi-tubi kearahnya. Bau amis telor yang melumuri badan dan rambutnya membuat orang-orang disekitarnya menutup hidung dan disertai gelak tawa dari beberapa anak. Siapa lagi kalau bukan sahabat-sahabat Resa. Resa yang di perlakukan seperti itu membalasnya dengan mengejar para sahabatnya sambil berteriak-teriak kaya cacing kepanasan.
“awas kalian bakal gue balessssssss!” teriak Resa.
“hahahahah” tawa para sahabatnya dengan senang dan puas dengan apa yang mereka perbuat terhadap Resa.
“happy birthday Resaaaaaaaaaaa!” teriak sahabatnya bersamaan. Ketika itu Syisi membawa kue ulang tahun dengan lilin berbentuk angka 16. Yap ulang tahun Resa yang ke 16. Mereka semua menyanyikan lagu selamat ulang tahun disertai tangis oleh Resa. Resa sangat senang karena ia beruntung memiliki sahabat seperti Syisi, Mela dan Rifka.
Hari ini adalah hari yang takpernah terlupakan. Hari dimana umur Resa bertambah dan memiliki sahabat yang mencintainya. Sahabat yang selalu ada di kala Resa senang dan sedih. Sahabat yang tak ternilai harganya. Walau saat kelulusan nanti akan berpisah tetapi hati dan jiwa kita akan selalu dekat. Karena sahabat tak pernah mengenal kata berpisah.
*
Resa pulang kerumah dengan keadaan yang memprihatinkan. Badan penuh telur dan tepung itu masih setia menempel di badannya dan aroma busuk yang tersembur keluar. Siapapun yang mendekatinya pasti akan illfeel. Setibanya dirumah Resa mendapatkan kejutan dari keluarganya. Disana ada Papa, Mama, Kak Ardian, Kak Rere, dan Kak Lian. Mereka semua menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Resa. Mama menyodorkan kue kerah Resa dan lilin diatasnya. Resa langsung meniup lilin itu dan berdoa.
“happy birthdayyyy adikkkku tersayang!” teriak kak Ardian
Resa tersenyum melihat mereka yang begitu menyayanginya. Ternyata Ardian tidak seburuk apa yang dipikirkan Resa.
“elo bau banget! mandi sonooo!” titah Ardian setelah mencium bau yang tak enak dari tubuh Resa.
“iyaiya! Semuanya terima kasih ya. Aku seneng banget!” segera bergegas kekamar untuk berganti pakaian.
Mereka sudah berada di taman belakang. Mereka menyiapkan pesta kecil dan hidangan makanan yang lezat. Semua anggota keluarga merayakan dengan gembira. Hari yang paling special untuk Resa.
*
Ini hari kelima dia tidak masuk sekolah! Apa sih yang dia kerjakan diluar sana? Mau jadi apa kalau kerjanya bolos terus!
“kalian tau nggak sih. Masa gue disuruh sama pak Jojo kerumahnya Darma. Buat cari tau kenapa dia nggak masuk! Nambah kerjaan ajah sih! Nyusahin banget sih tuh anak!” sesal Resa kepada Darma. Ia sedang berada di kantin bersama temannya.
“emang udah berapa hari dia nggak masuk?” tanya Rifka yg berada didepan Resa
“lima hari! Gila tuh!”
“nyalinya gede juga! Nyari masalah!”
“emang elo tau rumahnya?”
“nah mangkanya itu, gue pusing! Gue sih emang sebangku sama dia. Tapi bukan berarti gue tau segala hal tentang dia. Termasuk rumahnya!”
“gitu ajah pusing! Kan elo bisa cari alamatnya didata siswa!” saran Mela
“bener kata Mela!” respon Rifka
“iya tuh, kadang-kadang pinter juga yah!” balas Syisi
“kalian bantuin gue ya? Plisss!!” mohon Resa
Ketiga sahabatnya saling menatap satu sama lain. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk membantu Resa.
“iyaiya kita bantuin!” kata Rifka
“Thank you girls!” Resa sambil memeluk ketiga sahabatnya.
*
Setelah Resa mengetahui alamat Darma yang ia cari di biodata siswa, sore itu iya langsung mencari alamatnya. Untung saja alamat yang dituju tidak terlalu asing bagi Resa. Alamat yang dicari tak terlalu sulit.
Tibalah Resa dan teman-temannya dirumah cat putih bersih nan luas. Cukup besar. Sepertinya Darma anak orang kaya. Yah seperti itulah kelakuan anak orang kaya. Yang hanya bisa menghabiskan harta orang tuanya saja. hari untuk sekolah saja ia pergunakan untuk kesenangan.
Resa memencet bel terus menerus. Tak lama itu keluarlah seorang wanita paruh baya. Terlihat lusuh.
“silakan masuk non!” katanya mempersihlakan.
“terimakasih!”
Resa memasuki rumah yang lumayan besar itu. Perabotan rumahnya yang tertata rapih serta lukisan-lukisan yang indah dipandang itu membuat Resa kagum. Ia melihat sangat detail yang ada di rumah itu.
“silakan duduk!”
“saya ambilkan minum dulu”
“mbokkk!” panggil Resa sedikit keras
“saya dan teman saya dateng kesini ingin bertemu Darma” jelasnya
“oh kalian temanya den Darma!”
“iyaa”
“maaf Non. Darma sudah seminggu tidak pulang kesini!” katanya
“tidak pulang kesini? Emangnya Darma punya rumah berapa Mbok? Wah kaya sekali!”
“hanya satu. Maksud saya dia sudah seminggu tidak pulang dan saya tidak tau dia dimana!” jawab Mbok
“orangtuanya kemana Mbok? Mereka tidak mencarinya?” tanya Resa. Resa heran dengan kelakuan teman sebangkunya itu. Hanya bisa ngerepotin orang saja. teman Resa hanya bisa diam karena mereka tidak tau tentang Darma.
“mereka ada di Spanyol. Ada bisnis disana. Mereka sibuk. Saya sudah beritahu mereka. Tapi belum ada respon yang berarti.” Jelas Mbok
“apa mungkin di culik ya!?” pikir Resa.
“Husss, ngaco bae lu ngomong!” seru Mela
“tau nih!” sambar Rifka
“maaf-maaf!”
“kalau diculik... kaya nya tidak deh. Waktu den Darma tidak pulang dua minggu. Beberapa harinya ia kemabali kesini.” Pikirnya. Mbok melanjutkan kata-katanya lagi. “saya rasa den Darma tinggal ditempat lain dan mengurusi sesuatu. Walaupun saya tidak tau dia dimana.”
“apa mungkin seperti itu yah, tapi Mbok Darma beberapa hari ini juga tidak masuk sekolah. Saya datang disini untuk cari tau itu.”
“kalau urusan itu Mbok tidak tau. Den Darma orangnya baik. Kalau urusan sekolah menurut Mbok dia kalau lagi mau ajah. Jadi sesuka hatinya dia.”
“aduh saya bingung Mbok, harus bagaimana!? Masalahnya saya disuruh sama Pak Jojo wali kelas saya!”
“Mbok juga bingung non!”
“eh gimana nih?” tanya Resa kepada teman-temanya.
“gue nggak tau!” Syisi
“apa pulang ajah?” kata Rifka
“yaudah deh Mbok kami pulang dulu. Kalau Darma pulang beritahu dia kalau saya nyari.”
“oke non nanti saya sampaikan”!
Resa dan teman-temannya pamit pulang.
“Res mau cari kemana lagi?” teriak Mela dari belakang Resa
“nggak tau! Gue ajah nggak tau apa-apa tentang dia?”
“dimana sih tuh orang! Bikin jengkel kita ajah! Kasian kan temen gue yang satu ini bakal kepikiran dia terus!” gerutu Rifka.
“nggak mungkin lah gue mikirin dia! Lagian juga gue tinggal bilang ke Pak Jojo kalau dia nggak ada dirumah. Beres kan! Simple!” balas Resa sedikit emosi.
“yaudah guys pulang ajah! Panas nih!” kata Syisi
“yaudah ayukkk!!” balas Rifka
Resa yang sudah tiba dikamarnya langsung rebahan diatas kasur empuknya. Ia terus penasaran dengan Darma. Ia memikirkan apa yang sedang dikerjakan pria itu diluar sana. Tak sadar ternyata ia terlelap dikasurnya sampai keesokan harinya.
*
“gila ini buku-buku numpuk nggak berarturan!” dumel Resa.
Entah sudah berapa lama ia tak menyentuh buku-buku yang menumpuk tak karuan itu diatas meja belajarnya. Dan berserakan disudut kamar dekat lemari baju. Entah buku apa saja itu. Kalau dilihat-lihat sepertinya buku-buku itu buku lamanya Resa. Mungkin buku-buku waktu SD atau SMP. Iya itu buku pelajaran semua. Walau Resa sedikit malas, tapi walau malas ia tak pernah rela buku-bukunya dijual ke pengepul buku-buku bekas. Ia lebih memilih buku-bukunya berserakan dari pada dijual.
Ia merapika buku-bukunya. Ada sedikit debu yang menempel sampai ia terbatuk-batuk. Buku-buku itu ditaruhnya ke dalam karung yang ia ambil dari gudang.
“wah ini kan binder gue!” Resa menemukan bindernya disalah satu tumpukan bukunya. Dilihatnya lembar per lemabar. Dan ia membaca isi dari tulisannya. Ternyata lucu juga kalau ngebaca tulisan-tulisan lama.
17 Februari 2009
Haiii.....
Aku punya teman dekat namanya Indra, rumah aku dan dia lumayan dekat. Dia juga teman sebangku aku waktu aku duduk dibangku sekolah dasar. Tahun kelahiran kami juga sama, karena yang paling tua umurnya waktu itu aku dan Indra. Bukannya aku tidak naik kelas tapi, waktu mulai masuk taman kanak-kanak aku telat setahun. Sedangkan Indra, dia tidak naik kelas 5 SD. Awalnya aku sedikit kecewa kepadanya, karena dia tidak naik kelas. Mungkin waktu itu aku berfikir dia itu bodoh. Setelah aku menjalani kehidupan bersama dia selama kelas 5 SD dan dia menjadi teman sebangku aku, aku merasa dia tidak bodoh-bodoh banget. Manusia itu bisa berubah kan? Apalagi berubah lebih baik! Kenapa aku bisa sebangku dengannya? Karena wali kelas kami yang mengatur tempat duduk di kelas kami. Dia itu anaknya kocak, kadang-kadang nyebelin, pernah waktu itu dia bikin aku nangis. Gara-gara dia ngatain aku cengeng. Memang dulu aku sedikit cengeng. Hehehe.
Dia perhatian juga sama aku, solid, berani terima tantangan. Dia juga termasuk salah satu siswa cowok yang larinya paling cepat. Jago berenang juga! Pokonya banyak pengalaman-pengalaman seru saat aku bersama dia. Dia juga banyak yang nyukain, termasuk aku. Awalnya aku sih biasa saja. Aku tidak merasakan apa-apa waktu sama dia. Aku menyadari setelah terjadi sesuatu di hatiku. Ketika aku mulai memasuki dunia Sekolah Menengah Pertama, aku tidak lagi bermain dengannya apalagi sekedar menanyakan kabar. Dan rumah ku juga pindah membuat aku dan dia semakin jauh. Dulu waktu masa kecilku Hp saja tak punya. Hp jadul dibilang anak-anak jaman sekarang saja, termasuk yang wah banget waktu itu. Foto dia saja aku tak punya termasuk dia. Dia cowok pertama dalam hidupku yang tak paling istimewa sampai sekarang. Kadang ketika aku sedang sendiri, bayang-bayang waktu bersamanya menari-nari dalam pikiranku. Membuat aku sangat merindukannya. Aku tak berani untuk kerumahnya. Karena waktu itu egoku sangat tinggi. Aku malu kalau cewek duluan yang nyamperin cowok.
Banyak alasan yang membuatku tak berani kerumahnya. Banyak yang berubah denganku, mulai dari fisik ku yang mulai mengalami masa puber sampai dalam kehidupanku. Aku juga mulai merasakan yang namanya cinta monyet. Apalagi yang membuatku bahagia waktu aku dapat nomer HP Indra. Aku mulai smsan sama dia, telpon-telponan. Banyak hal yang dia ceritakan tentang kisah cintanya kepadaku. Aku kecewa banget waktu dia suka sama cewek lain. Tapi kutahan, mungkin cintaku sebatas teman saja! Begitu semangatnya dia berecerita dan senang ketika akhirnya dia jadian sama cewek yang dia suka. Dia cerita tentang kisah cintanya melalui sms atau telpon.
Mendengar suaranya saja aku senang banget. Walau dia tidak menyadari betapa aku mencintainya. Pernah dia ngajakin untuk bertemu, tapi aku tolak terus mungkin waktu itu aku sibuk. Seiring berjalannya waktu, perasaan itu sedikit demi sedikit memudar dan aku menemukan cinta yang lain. Mungkin itu yang tebaik menghapuskan perasaanku kepadanya. Walau dia sudah memiliki pasangan dan aku masih suka-sukaan biasa dengan orang lain, tak sedikitpun aku melupakannya. Hanya saja aku mencoba untuk melupakan rasa sukaku ke dia. Sampai akhirnya aku putus kontak, nomernya tidak aktif! aku mencari-cari nomer barunya, tapi tidak dapat. Aku berfikir positif saja, mungkin dia bukan yang terbaik dalam hidupku. Dan mungkin aku tidak berjodoh dengannya.
Dia perhatian juga sama aku, solid, berani terima tantangan. Dia juga termasuk salah satu siswa cowok yang larinya paling cepat. Jago berenang juga! Pokonya banyak pengalaman-pengalaman seru saat aku bersama dia. Dia juga banyak yang nyukain, termasuk aku. Awalnya aku sih biasa saja. Aku tidak merasakan apa-apa waktu sama dia. Aku menyadari setelah terjadi sesuatu di hatiku. Ketika aku mulai memasuki dunia Sekolah Menengah Pertama, aku tidak lagi bermain dengannya apalagi sekedar menanyakan kabar. Dan rumah ku juga pindah membuat aku dan dia semakin jauh. Dulu waktu masa kecilku Hp saja tak punya. Hp jadul dibilang anak-anak jaman sekarang saja, termasuk yang wah banget waktu itu. Foto dia saja aku tak punya termasuk dia. Dia cowok pertama dalam hidupku yang tak paling istimewa sampai sekarang. Kadang ketika aku sedang sendiri, bayang-bayang waktu bersamanya menari-nari dalam pikiranku. Membuat aku sangat merindukannya. Aku tak berani untuk kerumahnya. Karena waktu itu egoku sangat tinggi. Aku malu kalau cewek duluan yang nyamperin cowok.
Banyak alasan yang membuatku tak berani kerumahnya. Banyak yang berubah denganku, mulai dari fisik ku yang mulai mengalami masa puber sampai dalam kehidupanku. Aku juga mulai merasakan yang namanya cinta monyet. Apalagi yang membuatku bahagia waktu aku dapat nomer HP Indra. Aku mulai smsan sama dia, telpon-telponan. Banyak hal yang dia ceritakan tentang kisah cintanya kepadaku. Aku kecewa banget waktu dia suka sama cewek lain. Tapi kutahan, mungkin cintaku sebatas teman saja! Begitu semangatnya dia berecerita dan senang ketika akhirnya dia jadian sama cewek yang dia suka. Dia cerita tentang kisah cintanya melalui sms atau telpon.
Mendengar suaranya saja aku senang banget. Walau dia tidak menyadari betapa aku mencintainya. Pernah dia ngajakin untuk bertemu, tapi aku tolak terus mungkin waktu itu aku sibuk. Seiring berjalannya waktu, perasaan itu sedikit demi sedikit memudar dan aku menemukan cinta yang lain. Mungkin itu yang tebaik menghapuskan perasaanku kepadanya. Walau dia sudah memiliki pasangan dan aku masih suka-sukaan biasa dengan orang lain, tak sedikitpun aku melupakannya. Hanya saja aku mencoba untuk melupakan rasa sukaku ke dia. Sampai akhirnya aku putus kontak, nomernya tidak aktif! aku mencari-cari nomer barunya, tapi tidak dapat. Aku berfikir positif saja, mungkin dia bukan yang terbaik dalam hidupku. Dan mungkin aku tidak berjodoh dengannya.
Ini seperti Dejavu! Tiba-tiba saja Resa mengingat Darma. Yang ia alami dengan Indra hampir sama dengan Darma. Indra tidak naik kelas Darma juga. Hanya saja bedanya Indra tidak naik kelas waktu SD, sedangkan Darma SMA. Indra suka olahraga, Darma juga. Indra nyebelin kalau Darma sepertinya iya. Apa mereka orang yang sama? Nggak mungkin! Resa tidak ingin mengingat Indra lagi. ia langsung cepet-cepat menyudahi membacanya dan membereskan buku-buku itu.
“Awas ajah tuh anak kalau masuk sekolah nanti, gue bejek-bejek . gara-gara dia hidup gue nggak tenang!” dumel Resa.
*
“baaaanggggunnn!!!!” teriak Agra ketelinga Resa. Resa yang masih pulas dengan seketika terbangun dengan suara itu. Yap suara ka Agra. Resa yang masih setengah ngantuk langsung ngomel-ngomel dan melempar bantal-bantal yang ada disekitarnya ke arah kak Agra.
“kakak apaan elo! Jahat banget! kalo telinga gue budeg gimana? Mau tanggung jawab?” hentak Resa.
“elo yang gue bangunin, kaga bangun-bangun. Liat tuh jam! Udah jam berapa?!” menunjuk kearah jam dinding yang menghadap tepat di tempat tidur Resa. Resa segera melihat kearah yang ditunjuk Agra. Matanya yang bulat dan hampir mau keluar itu kaget dengan apa yang dilihatnya. Jam itu menunjukkan pukul 06.15.
“aaappaa? Gue telatttttttt!” teriak Resa.
Resa tergesa-gesa menuju sekolah, 15 meter dari gerbang sekolah Resa melihat pintu gerbang sudah tertutup. Ia terus berlari sampai gerbang itu tak memberi kesempatannya untuk masuk. Ia mohon-mohon ke security sekolah untuk membuka pintu gerbang. Dan didapat adalah security itu tak mau membukakannya, dengan raut wajah kecewa Resa memutuskan untuk pulang saja. langkah gotai ia terus berjalan sambil ngedumel sendiri. Baru kali ini Resa telat masuk sekolah, karena sebelumnya ia tak seperti ini. Entah siapa yang harus disalahkan. Ia tak ingin orang tuanya tau kalau ia tidak sekolah terutama kak Agra yang super duper nyebelin itu.
Resa terus berjalan sampai akhirnya ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang membuat Resa terenyah dan sepontan menoleh kebelakang. Yang di lihatnya adalah Darma. Cowok yang membuat Resa sedikit jengkel.
“kenapa nggak sekolah? Bolos yaaa?” ledek Darma.
Resa terdiam ketika melihat Darma. Perasaan Resa langsung berubah. Perasaan yang tak bisa diungkapkannya. Terkadang timbul rasa senang, sedih, jengkel, benci. Darma terus-terusan meledek Resa. Resa tak bisa membalasnya. Karena pikiran resa tidak fokus dengan pertanyaan Darma.
“haiii lihat jam berapa ini? Sudah jam tujuh!” Darma sambil memperlihatkan jam tangannya kearah Resa.
“elo mau bolos?” teriak Darma
“gue tadi tuh udah kesekolah, terus karena gue telat yaudah gue pulang!” jelas Resa yang akhirnya bisa mencerna pertanyaan Darma.
“lahhh elo kenapa disini! Elo mau bolos juga yaaa?!” gantian Resa meledek Darma.
“nggak kok, gue sama kaya elo! Nggak boleh masuk karena terlambat!”
“terus elo mau kemana?” lanjut Darma.
“ yahhh mungkin gue pulang!” jawab Resa sambil mikir.
“yakinn pulang? Emang elo nggak bakal dimarahin sama nyokap? Kenapa elo nggak sekolah?”
“bener juga sihh, terus gue harus kemana dongg?”
“elo ikut gue ajah!” sambil menarik tanga Resa.
“kemanaa?” memasang tampang curiga.
“tenang ajah gue nggak bakal ngapa-ngapain elo kok” sambil memegang tangan Resa.
“ihhh ada apa sih? Elo mau bawa gue kemana? Jangan macem-macem lo ya!” ancam Resa.
“ihh ini anak bawel banget sih! Siapa juga yang mau ngapain-ngapain lo! Nggak ada untungnya!
“apa elo bilang?!”
“jalan elo lelet banget sih! Kaya siput!”
“biarin! Bleeeeee!”
Tibalah mereka berdua disuatu tempat, tempat yg cukup asing bagi Resa. Sebuah rumah gubuk kecil sederhana. Dikelilingi pohon-pohon yang rindang. Tempat yang belum pernah di jajaki oleh Resa sedangkan Darma tau ada tempat di Jakarta yang seperti ini. Seperti Jakarta tempo dulu. Agak sedikit jadul tapi masih memakai unsur-unsur rumah jaman dulu. Sepertinya tidak ada perbaikan atau renovasi dari rumah tersebut. Letak rumahnya disudut kota, pinggiran kota Jakarta.
“rumah siapa nih? Masih ada rumah seperti ini di Jakarta? Keren!” Resa kagum dengan kontruksi rumah yang masih mempertahankan kebudayaan Jakarta.
“ini rumah nenek gue dari nyokap! Tapi nenek gue udah meninggal.” Kata Darma. Diambilnya kunci dari dalam tas, segera ia membuka pintu. Aksesori-aksesori jaman dulu banget masih tertata dengan baik, tidak ada debu sedikitpun. Rupanya sepemiliki rumah rajin merawat rumah ini.
“ayook masuk! Duduk disini! Elo mau minum apa?” perintah Darma sembari menawari minum. Resa sangat terpesona dengan barang-barang antik dirumah itu, beberapa lukisan, dan foto-foto jaman dulu. Rupanya ada foto neneknya Darma ketika beliau masih muda beserta suami.
“elo suka sama rumah ini?” tanya Darma sambil menaruh minum diatas meja.
“iyaa kayanya nenek elo itu suka keindahan dan tetap mempertahankan barang-barang antik sampai gua nggak tau barang apa itu”
“rumah ini sebenernya pengen dijual sama nyokap...
“apa dijual?” tanya Resa antusias tidak sampai Darma melanjutkan perkataannya langsung dipotong Resa.
“beberapa hari ini gue tinggal disini, rencana penjualan rumah ini udah gue gagalin. Gue berusaha untuk mempertahankan rumah ini, padahal ini satu-satunya peninggalan dari nenek gue. Dari kecil gue udah tinggal disini. Yang ngerawat gue adalah beliau, gue selalu ditinggal sama bokap nyokap. Yah mereka bilang itu urusan pekerjaan. Gue sedih banget setelah tau kalo rumah ini bakal dijual.” Cerita Darma yang mulai mengharukan. Sorotan matanya menerawang seolah menggabarkan suasana hatinya, Resa larut dengan cerita Darma seolah merasakan apa yang dirasakan Darma.
“gue cukup prihatin, kalo jadi elo, gue bakan tetep pertahanin rumah ini bagaimanapun caranya. Gue yakin elo bisa ngelakuin itu.” Kata Resa yang menyemangati Darma.
“thanks ya!” balas Resa sekenanya sambil tersenyum ke arah Resa. Resa juga membalas senyum yang indah itu, senyum yang belum pernah dilihat oleh Resa selama ia mengenal Darma.
“jadi selama ini elo nggak masuk sekolah itu, elo disini? Apa yang elo lakuin disini?” tanya Resa beralih pada pertanyaannya yang selama ini berada dibenaknya.
“gue lebih nyaman tinggal disini ketimbang rumah nyokap bokap, gue disini punya usaha. Yah cukuplah buat penghidupan gue. Kalo alasan gue nggak sekolah, yah karena gue males sekolah yang gitu-gitu ajah, nggak ada yang menarik. Kalo lagi pengen latihan silat ya kada pergi sekolah.”
“jadi elo kesekolah cuman buat latihan silat? Oh my God! Seharusnya elo bersyukur bisa disekolahin sama ortu lo, banyak orang diluar sana kepengen sekolah karena hambatan biaya, sedangkan elo malah nyia-nyiain kaya gini! Gimana sih?” suara Resa sedikit meninggi. Suasana mulai sedikit berubah dari awalnya.
“iya gue tau gue salah, nggak seharusnya gue kaya gini. Gue janji gue bakal masuk sekolah terus demi elo!”
“apa elo bilang demi gue?”
“ehh maksud gue demi ortu dan teman-teman gue, hehehe”
Hari itu mereka seharian menghabiskan waktu bersama, bercerita-bercerita, bercanda-tawa. Resa yang awalnya membenci Darma setelah hari ini ia sedikit menyukai Darma. Ada sisi lain yang berbeda dari Darma. Ada ada sedikit perubahan darinya yaitu ia tak bolos sekolah lagi, tapi ada satu yang membuat Resa jengkel dari Darma yaitu Darma masih suka ngejahilin Resa. Terkadang bikin Resa bete dan sempet marahan. Tetap Darma ahli mencairkan suasana yang tegang menjadi ceria.
Langganan:
Postingan (Atom)