Percakapan seorang anak dan
ayahnya di pagi hari. Kala itu aku terbangun dari pagiku. Ku lihat sesosok pria
duduk dan tersenyum kepada ku. Ku tatap wajahnya sembari tersenyum. Beberapa
saat senyum itu berubah. Sorotan matanya kaku tak berdaya, ditahan semua beban
dipelupuk mata kecilnya. Aku tak bisa menangkap arti tatapan itu. “ayah ada apa?” tanya ku penuh tanya.
Pria itu hanya bisa diam, senyumnya memaksa seolah beban itu tak sanggup
ditanggungnya. Beberapa saat ia menarik napas dan memejamkan mata, setelah itu
kembali menatap. Aku masih tak mengerti. “apa
yang kau rasakan ayah?” tanyaku lagi. “nak,
apa kamu bahagia?” tanyanya setelah beberapa saat terdiam cukup lama. “mengapa ayah menanyakan itu? Tentu aku
bahagia ayah!” jawabku dengan yakin. “ayah
minta maaf!” katanya lagi yang membuat aku terus bertanya-tanya. “ada apa ayah? Mengapa engkau minta maaf?” seketika
itu perasaan ku seolah tersayat-sayat, apakah ayahku tak bahagia dengan
kehadiranku. Ada apa ini? Aku mulai gelisah tatapan itu berubah menjadi kesedihan.
“nak maaf kan ayah yang tak bisa
membahagiakan kamu, maaf ayah tak bisa memberikan semua apa yang kamu mau, karena
keterbatasan ayah ini, nak!” Katanya yang membuat aku sedih.
Kami terdiam
sejenak, aku masih diam dalam pikiranku. Sesaat itu ia melanjutkan lagi
perkaataannya seolah masih banyak lagi yang akan diungkapkannya. “nak, ayah bukan orang yang bisa
membahagiakan kamu, kamu tumbuh dengan keterbatasan ilmu yang ayah miliki, kamu
tumbuh dengan keterbatasan harta yang ayah miliki...” aku mulai meneteskan
air mata. “ayah tak bisa seperti ayah
yang lain, yang bisa memberi apa yang kamu inginkan.” Sesaat pria itu
terdiam dengan air mata mengalir membasahi wajahnya yang mulai keriput karena
termakan usia. Ia seolah terus menyalahkan apa yang ia lakukan untuk diriku.
Aku menangis mendengar perkataan ayah seperti itu. “ayah...” panggilku lirih. “aku
tak menyalahkan apa yang telah kau berikan kepadaku.”
Airmata yang terus
berlinang. “aku bersyukur mempunyai ayah
seperti dirimu, janganlah kau tetap menyalahkan dirimu ini ayah, kau mampu
membuat keterbatasan mu ini menjadi suatu kelebihan, aku bisa seperti ini
berkat kerja kerasmu mendidikku ayah. Tak sedikitpun aku menyesal karena mu.
Aku bangga padamu walau kau tak memiliki harta dan ilmu banyak, tapi kau mampu
mennyekolahkanku sampai aku menjadi seorang sarjana, ayah.” ku pandangi
wajahnya yang terus berlinang air mata. Kesedihan di wajahnya mulai sedikit
berkurang. Ia tersenyum. “ayah bersyukur
nak! Jangan sia-siakan kehidupan ini nak! Karena hidup mu ada di pundakmu”
katanya sambil meletakan tangannya dibahuku. Aku seolah bangkit dari kesedihan.
Ku hapus air mataku dan kubulatkan tekad untuk kuat dan bertahan. Menyongsong
pagi dengan harapan dan impian. Ayah aku berjanji, dunia ini untuk mu. Aku tak
akan menegecewakanmu. Apa yang aku raih adalah berkat didikanmu, aku tak
sedikitpun mengukur dari segi harta dan ilmu yang kau miliki. Aku kuat karena
genggaman tanganmu menguatkanku menghadapi dunia. Ayah tetaplah pegang tanganku
sampai kapanpun. Aku mencintaimu ayah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar