Sabtu, 30 Mei 2015

Orang Terasing

Aku berdiri kokoh di tempat tertinggi
Menuruni setiap anak tangga digedung mewah
Bersinggung dengan orang yang menaiki gedung yang sama

Makin keatas senyumnya semakin lebar
Lain denganku.
Semakin kebawah, aku tak merasakan nikmatnya ketika diatas

Aku terhenti ditengah-tengah, orang-orang merangkak keatas

Mengemis minta harta
Dari uang receh disulap bagai emas
Uang receh itu berasal dari orang-orang yang tak bisa keatas

Aku menemukan ketidakadilan di gedung itu

Satu atap, namun beda hak
Satu atap, namun beda kehidupan

Yang satu mengemis
Yang satunya lagi merampas
Yang satunya lagi menghambur

Terpinggir
Terbuang
Terasing

Itulah mereka yang di dasar gedung

Kita satu atap, kenapa kita berbeda?

Rabu, 20 Mei 2015

Ungkapan Cinta untuk Ayah

Saat senja melambai, aku teringat kau menatap kearahnya dengan harapan esok akan ada keajaiban
Kau duduk diantara hamparan rerumput, cukup aku melihat dari kejauhan

Kau terpaku pada diammu
Gejolak rasa dan akal merenggut semua dan waktu selalu menemanimu
Kita tak saling mengungkap rasa, namun tersampaikan dengan indah melalui sikap

Airmata itu....
yang aku lihat, melukai aku sangat dalam
Saat itu aku baru pertama melihat mutiara keluar dari matamu
Membasahi pipi dan bibirmu
Dengan sigapnya kau hapus dengan ujung telunjuk

Hari-hari yang berlalu seperti mimpi
Menunggu kita pada perpisahan yang indah
Perpisahan menyadarkan aku arti pentingnya sebuah kehadiran
Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan padamu

Ayah....
Boleh aku sebut nama Ayah?
Ini tentang perasaanku
Aku tak ingat kata-kata cinta untukmu

Aku malu, karena ini pertama aku mengungkapkan rasa cinta kepada Ayah

Wajah dan tanganmu adalah bukti pengorbanan yang tak pernah pupus
Berkatmu aku menjadi seseorang yang berarti

Ayah, sekuat apa hatimu itu?
Aku ingin sekuat hatimu

Ayah, sekali lagi
Ayah aku merindukanmu

Minggu, 17 Mei 2015

Meratap Bulan

Dia menggoda seperti gombalan dewa Amor
memercikan api-api cinta dan membakar gairah jiwa ketika mabuk dalam buaian janji manis

Terbawa arus cinta hingga ketinggian dia berada
Demi semua terkorbankan untuk sebuah hasrat kekuasaan
Seolah terhipnotis indahnya janji terucap memberikan pengharapan

Memilih, tidak mengetahui
Memilih, tidak mengenal
Memilih, karena sogokan intan
Senyumnya mempesona, membangkitkan secercah harapan si bulan

Kini dia berada pada puncaknya
Pada ketinggian yang sulit dicapai
Dia adalah si penguasa negeri antah berantah

Si bulan mempenjarai hidup oleh jeruji kemelaratan
Bulan menjerit seantero negeri, suaranya kecil
Mana bisa didengar? Negeri ini membentang luas!
Suara binatang pun sayup tak sampai

Hai bulan! Tanah yang kau pijaki bukan milikmu! Aku berbisik....
Tanah ini milik si rakus! Kamu itu sampah baginya
Dia menikmati sendiri, bulan tertipu!

Hai bulan! Ingat ketika si rakus berubah menjadi dewa Amor
Janji itu hanya ilusi, lekas bangun bulan!
Dakilah gunung yang si rakus daki

Bulan, kau seharusnya berada dilangit
Menyinari bumi ketika malam menjemput
Ketika anak-anakmu lapar digenangan mutiara
Kembalikan negeri antah berantah ini seperti sedia kala

Ah dasar bulan, aku berbisik....

Setitik Rasa

Benar-benar menyesakkan dada
Keadaan ini menemani aku dalam kepahitan setiap kali aku mengingat
Kala jiwa tersemat kerinduan, sungguh aku tak berdaya
Dengan sekejap suasana hati berbalik kepada ingatan yang masih tersembunyi diujung memori

Aku kembali pada keadaan untuk menuntut lupa
Tersengat indah dalam lamunan tak berarti
Membalikan rasa manis menjadi pahit, setitik rasa
Panggilan jiwa menampik kedustaan bermandikan kata-kata

Diam-diam menarik diri dalam malam, menunjukkan keaslian
Tergerus rasa hingga bermula cinta
Berakhir pada kesakitan menghujam jiwa

Menyendiriku tak diketahui, sepiku tak berarti
Tertutup pada keramaian penghuni cinta
Ditengah-tengah aku berada, namun tak nampak

Bolehkah aku bertanya?
Ketika jarak adalah jawaban, aku mengerti
Ketika menjaga adalah jawaban, aku mengerti
Lantas itukah jawaban dari semua yang aku pertanyakan?

Aku cemburu!
Kepada mereka yang mampu bertahan
Kepada mereka yang memandang cinta haqiqi
Kepada mereka yang terus mengerti
Bolehkah aku cemburu?

Aku mulai mengerti.......

Selasa, 12 Mei 2015

Penantian Sang Pejuang

Detik-detik berlalu memanjakan diri dalam bergelimpangan nikmat
Terikat syahdunya menebar cinta yang tak mudah ditebak
Terhuyun menelusuri jejak-jejak penebar cinta
Terbuai akan kerinduan memuja-Nya

Sembunyi ketika mereka datang, malu menatap dunia fana
Terhempas raga dalam kejamnya ombak kehidupan
Membawa diri dalam lautan kemaksiatan
Jiwa memberontak akan bayangan sejati yang terus menetap

Jejaknya menghilang dalam rumunan jiwa-jiwa pemberontak
Tak mampu mengendalikan diri sampai menangis tersedu-sedu
Bagai hujan menghapus jejak cinta-cinta sejati
Bermukin disuatu tempat terpencil mempersiapkan diri menyebar rahmat-Nya

Lagi-lagi mereka tak terlihat, mereka ada...
Tapi dunia memojokkan dalam hina-dina
Memandang sebelah mata, menjerumuskan jiwa-jiwanya dalam lubang kehampaan
Mendaki beratus tahun, tak gentar mereka lakukan

Mereka berkelompok, aku sendiri
Mencari mereka melelahkan raga, demi menyampaikan cinta sejati
Hari-hari sangat letih tetapi mereka lebih dari itu!
Aku mempersiapkan diri membantu mereka

Aku siap menebar cinta-Nya
Cinta yang tak mudah aku temukan
Meninggalkan dunia tempat aku berjalan hingga akhirnya menemukan Dia
Aku siap ketika panggilan cinta dari-Nya

Wahai mereka mari kita satukan perjuangan di bumi ini
Sungguh melelahkan bahkan hati ini ingin menjerit
Kita lakukan sampai dunia menghilang dari pandangan
Menyongsong harapan yang kita bangun

Kita siap membangun cinta, ketika makna cinta tak bisa kita temukan, cinta-Nya yang sebenar-benar cinta.

Senin, 11 Mei 2015

Buku

Ruangan gelap tak mampu mata menjangkau keseliling
Tersembur satu cahaya, gerak hati mengikuti sumber cahaya
Terus berjalan mengikuti petunjuk yang tak terlihat
Mendapati keadaan mengoyak hati untuk mengiba

Mereka berteriak-teriak berharap aku menggenggamnya
Memilikinya saja sudah cukup
Mereka menginginkan lebih, aku tak mengerti
Aku sudah membaca tulisan yang ada disana

Mereka menginginkan lebih, aku tak mengerti
Aku kembali ketempat semula ku, tapi aku tak bisa melihat
Cahayanya hanya disana, ya dekat buku-buku tertumpuk
Aku menyerah, aku kembali ketempat cahaya itu

Apa maksudnya? Aku berfikir keras
Aku duduk di kursi yang ada, menatapi setiap buku-buku
Aku membaca pada setiap halamannya berulang-ulang
Cahyanya semakin bersinar, menyilaukan mata

Cahaya? Buku? Dua kata yang tak ku mengerti
Buku? Cahaya?
Cahaya? Buku?
Aku menyerah!

Aku akan membacanya lagi!

Sabtu, 09 Mei 2015

Hanya Seseorang

Duduk kita bersama di suatu tempat, mengamati kesibukan orang-orang disekitar kita
Melamun, terdiam dalam kesibukan masing-masing
Sekelebat  rasa yang takkan pernah orang tahu
Menyadari ada perubahan yang aku rasa saat bersamamu

Berusaha bersembunyi di balik bayang-bayangmu
Kau tersenyum kepadaku, aku tidak mampu membalasnya membuat hati ini berhenti seketika
Tak mau larut dalam cintamu yang palsu
Kini diriku hanya sebagian orang yang memujamu

Kau tak pernah tahu bahwa aku mencintaimu
Kau selalu menganggap diriku teman yang kau percaya untuk mencari cintamu
Tapi pernahkah kau melihat diriku lebih?
Sakit hati ini melihat tingkahmu yang tidak peduli

Aku tidak mau kau tahu betapa bodohnya aku mencintaimu
Membuat hari-hariku bingung setiap aku merasakan cintamu
Biarlah aku merasakan cinta bodohmu dan biarlah kau tidak melihatku
Menemukan cinta sejatimu mungkin itu yang terbaik

Aku juga tidak tahu apa aku sanggup melihat kau tersenyum kepadanya?
Aku berharap Tuhan tak pernah mempertemukan kita yang saling membisu
Kau datang dihidupku yang terkadang aku tidak menginginkan itu
Apakah ini takdir? Takdir seperti apa?

Sudah berapa lama aku menunggumu yang pergi jauh
Apakah kau menemukan cintamu? Aku harap seperti itu
Tapi bagaimana denganku? Berapa lama aku tidak melihatmu yang bodoh
Aku juga tidak tahu perasaan ini masih adakah untukmu?

Aku harap tidak, karena kau sudah ku lupakan
Melupakan perasaan yang pernah kau berikan kepadaku tanpa kau sadari
Tapi mengapa setiap hariku bayang-bayangmu selalu ada?
Bisakah kau lepaskan aku? Biarlah aku mencari cinta yang lain

Cinta yang mampu mematahkah cinta yang kau berikan dulu.

Tetap Bersamamu Ibu!

Aku menangis dalam kegelapan malam yang berharap malam itu cepat berlalu dan berganti siang. Malam yang selalu membuatku larut dalam kepedihan dan kesedihan mendalam. Entah aku yang salah mengartikan malam sebagai derita. Ku ukir senyum palsuku ketika mentari tersenyum indah. Mentari yang selalu menghiasi dan menutupi kesedihan hatiku. Setiap langkahku terhenti melihat, mendengar, merasakan yang tak sepantasnya aku terima. Masa dimana aku belum mengerti menyelesaikan masalah. Langkahku yang serba salah membuat diriku memilih DIAM. DIAM mungkin itu yang terbaik. Tak kusangka pilihan ku itu membuat aku tak seperti diriku lagi. entah diriku yang seperti apa? Aku tak mengenal diriku! Aku ingin terlepas dari itu! Aku ingin keluar dari beban itu! Aku ingin berlari menjahui semua! Tetapi derita itu mengikatku sangat kuat. Begitu kuatnya, sampai aku tak tahan dan merderai setiap malam tiba.

Malam yang larut, aku terbangun dan melihat dia tertidur pulas. Kulihat senyum tipisnya yang polos. Kulihat wajahnya! Kumenangkap arti dibalik wajahnya yang polos itu. Dia menanggung beban itu! Beban yang tak kumengerti sampai detik ini. Beban yang membuat dia tak mengenali dirinya. Setiap pagi ia tersenyum kepadaku. Senyum apa itu? Senyum kebahagiaan atau kesedihan? Aku tak bisa membedakannya. Dia seperti aku. Dia tak ingin memperlihatkan kesedihannya. Pada akhirnya aku melihat dalam kegelapan ia menangis. Rasanya ingin kutanyakan “MENGAPA ENGKAU MENANGIS IBU?” seolah mulut itu tekunci tak mampu terucap. Berulang kali setiap ia tidur ditaruhnya beban itu di sudut bibirnya yang mungil. “APA YANG ENGKAU RASAKAN IBU? APAKAH YANG KAURASA SAMA SEPERTI YANG AKU RASA?” Kubiarkan hari-hariku begitu saja, hari yang sama seperti dulu, hari yang akan selalu sama. Begitu juga dia. Kami sama-sama DIAM. Kami sama-sama terlarut dalam pikiran dan kesedihan kami.

Dalam do’a ku, aku berharap aku dan dia bisa kuat. Aku ingin mengembalikan senyumnya. Senyum yang membuatku luluh dan melupakan masalah itu sejenak. Senyum yang membuat aku tegar dan yakin kalau aku bisa keluar dari derita ini. Ku pegang erat tangannya, ku pandangi wajahnya yang sayu dan aku berkata “IBU, MASIH ADA AKU!”

Aku Cinta Ayah

Percakapan seorang anak dan ayahnya di pagi hari. Kala itu aku terbangun dari pagiku. Ku lihat sesosok pria duduk dan tersenyum kepada ku. Ku tatap wajahnya sembari tersenyum. Beberapa saat senyum itu berubah. Sorotan matanya kaku tak berdaya, ditahan semua beban dipelupuk mata kecilnya. Aku tak bisa menangkap arti tatapan itu. “ayah ada apa?” tanya ku penuh tanya.


Pria itu hanya bisa diam, senyumnya memaksa seolah beban itu tak sanggup ditanggungnya. Beberapa saat ia menarik napas dan memejamkan mata, setelah itu kembali menatap. Aku masih tak mengerti. “apa yang kau rasakan ayah?” tanyaku lagi. “nak, apa kamu bahagia?” tanyanya setelah beberapa saat terdiam cukup lama. “mengapa ayah menanyakan itu? Tentu aku bahagia ayah!” jawabku dengan yakin. “ayah minta maaf!” katanya lagi yang membuat aku terus bertanya-tanya. “ada apa ayah? Mengapa engkau minta maaf?” seketika itu perasaan ku seolah tersayat-sayat, apakah ayahku tak bahagia dengan kehadiranku. Ada apa ini? Aku mulai gelisah tatapan itu berubah menjadi kesedihan. “nak maaf kan ayah yang tak bisa membahagiakan kamu, maaf ayah tak bisa memberikan semua apa yang kamu mau, karena keterbatasan ayah ini, nak!” Katanya yang membuat aku sedih. 


Kami terdiam sejenak, aku masih diam dalam pikiranku. Sesaat itu ia melanjutkan lagi perkaataannya seolah masih banyak lagi yang akan diungkapkannya. “nak, ayah bukan orang yang bisa membahagiakan kamu, kamu tumbuh dengan keterbatasan ilmu yang ayah miliki, kamu tumbuh dengan keterbatasan harta yang ayah miliki...” aku mulai meneteskan air mata. “ayah tak bisa seperti ayah yang lain, yang bisa memberi apa yang kamu inginkan.” Sesaat pria itu terdiam dengan air mata mengalir membasahi wajahnya yang mulai keriput karena termakan usia. Ia seolah terus menyalahkan apa yang ia lakukan untuk diriku. Aku menangis mendengar perkataan ayah seperti itu. “ayah...” panggilku lirih. “aku tak menyalahkan apa yang telah kau berikan kepadaku.” 


Airmata yang terus berlinang. “aku bersyukur mempunyai ayah seperti dirimu, janganlah kau tetap menyalahkan dirimu ini ayah, kau mampu membuat keterbatasan mu ini menjadi suatu kelebihan, aku bisa seperti ini berkat kerja kerasmu mendidikku ayah. Tak sedikitpun aku menyesal karena mu. Aku bangga padamu walau kau tak memiliki harta dan ilmu banyak, tapi kau mampu mennyekolahkanku sampai aku menjadi seorang sarjana, ayah.” ku pandangi wajahnya yang terus berlinang air mata. Kesedihan di wajahnya mulai sedikit berkurang. Ia tersenyum. “ayah bersyukur nak! Jangan sia-siakan kehidupan ini nak! Karena hidup mu ada di pundakmu” katanya sambil meletakan tangannya dibahuku. Aku seolah bangkit dari kesedihan.


Ku hapus air mataku dan kubulatkan tekad untuk kuat dan bertahan. Menyongsong pagi dengan harapan dan impian. Ayah aku berjanji, dunia ini untuk mu. Aku tak akan menegecewakanmu. Apa yang aku raih adalah berkat didikanmu, aku tak sedikitpun mengukur dari segi harta dan ilmu yang kau miliki. Aku kuat karena genggaman tanganmu menguatkanku menghadapi dunia. Ayah tetaplah pegang tanganku sampai kapanpun. Aku mencintaimu ayah.

Lion King Reggae - B. N. N

Intro
Kamu minta, aku nggak punya
Kamu mencari, aku nggak ada bukti
Kamu memaksa aku, untuk mencari
Mencari apa yang kau mau
Sungguh ku tak mengerti
Semua yang kau lakukan takkan berujung indah
Tiada kebahagiaan
Tiada kesenangan dalam jiwa...
Reff:
Semua yang t’lah ku lalui
Tak ingin ku ulangi kembali
Bersama teman
Rembulan malam menjadi saksinya...
Karena aku ini hidup bebaskan diri
Tanpa ada yang menjajahi hidupku kembali
Semua yang t’lah ku lalui
Tak ingin ku ulangi kembali
Bersama teman
Rembulan malam menjadi saksinya...
Semua yang t’lah ku lalui
Tak ingin ku ulangi kembali
Semua yang berlalu
Semua yang terjadi

Tiada arti...

Jumat, 08 Mei 2015

Cinta, Aku Pergi!

Fiona yang tengah tertidur dikamarnya, terbangun dari tidur malamnya. Saat itu pukul tengah malam lewat. Tanpa sadar pandangan Fiona tertuju pada sosok pria yang berdiri didepan pintu kamarnya. Pria jangkung dengan badan yang atletis itu berdiri mematung didepan pintu kamar Fiona. Pandangan matanya yang kosong sedang menatap Fiona. Bibir pucat dan wajah dingin itu seolah-olah ada yang berbeda dengan pria itu. Entah dari mana pria itu bisa masuk kekamar Fiona. Fiona yang melihat heran dan masih tak percaya akan kehadiran pria itupun menghampiri sambil mengucek-ngucek matanya. Sesaat setelah itu akhirnya Fiona menyadari pria yang berdiri dihadapannya sekarang itu adalah Gerald Firnando. Ia adalah teman SMA Fiona yang belum pernah ditemuinya setelah kelulusan sekolahnya pada saat itu. Fiona menatap pria itu dengan seksama, Fiona berfikir apakah ia sedang bermimpi bisa bertemu Gerald. Pria yang sudah lama tak ditemuinya. Pria itu tetap berdiri mematung dihadapan Fiona.

“Gerald?” panggil Fiona dengan ekpresi heran. Mungkin Fiona berfikir darimana pria itu bisa masuk kedalam kamarnya apalagi pada waktu tengah malam begini. Dimana orang-orang beristirahat untuk tidur. Tapi pria itu tidak menjawab.

“lo Gerald kan? Kenapa lo ada disini? Terus bagaimana bisa lo masuk kekamar gue?” Tanya Fiona bertubi-tubi sambil mengguncang-guncang tubuh pria dihadapannya itu. Tatapan matanya yang kosong, bibir pucat dan wajah dingin itu membuat bulu kuduk Fiona berdiri seketika. Fiona yang mulai ketakutan dengan siapa yang ia temui mulai memukul-mukul pipinya berharap bahwa semua ini hanya mimpi, namun kenyataannya tidak.

“maafin gue” kata pria itu yang akhirnya membuka suara. suara pria yang berdiri dihadapan Fiona terdengar datar dan dingin.

“mma..mmaksud loo aaa..ppa? Kk..Kenapa lo harus mmminta mmmaaf?” Tanya Fiona dengan suara agak tergagap-gagap.

“maafin gue karena gue ga bisa nemuin dia buat lo” setelah kalimat terakhir yang diucapkan pria itu, tiba-tiba pria itu menghilang dihadapan Fiona. Fiona yang melihat kejadian itu pun syok dan berteriak sekuat-kuatnya. Fiona pun terbangun dari mimpinya. Wajahnya yang panik dan keringat yang mulai membasahi dahinya menandakan bahwa Fiona sedang mimpi buruk. Mimpi bertemu dengan hantu mirip Gerald. Malam itu Fiona tidak bisa tidur dan takut mimpi buruk lagi. Tapi apa maksud Gerald berkata seperti itu?
*
Dua hari setelah kejadian mimpi buruk yang dialami Fiona, Fiona mendapat kabar bahwa teman SMA nya bernama Gerald meninggal dunia akibat tumor otak yang dideritanya setahun belakangan ini. Fiona yang mendengar kabar itu langsung mengunjungi rumah Gerald dan ikut memakamkannya. Fiona yang kini berada dirumah almarhum Gerald, tiba-tiba ibu Gerald menghampirinya dan membawanya kesebuah kamar. Kamar itu adalah kamar Gerald Firnando, karena didinding kamarnya terpampang foto-foto Gerald yang sedang bermain futsal dengan teman-temanya. Wajahnya yang ceria menghiasi disetiap foto dikamar itu.

“kamu yang namanya Fiona kan?” Tanya ibu Gerald sambil membawa Fiona duduk di kasur di kamar itu.
“ iya tante aku Fiona. Ada apa tan?”

“ada surat dari Gerald. Tante menemukan ini dilaci kamarnya. Dan disitu tertulis nama kamu. Mungkin ini untuk kamu.” Ibu Gerald memberikan surat kepada Fiona yang di ambilnya dari laci itu.
Surat? Pikir Fiona. Fiona yang ditinggal sendiri oleh ibu Gerald dikamar itu. Fiona memandangi surat yang ia pegang. Dan perlahan membuka dan mulai membacanya.


Hi Fiona
Gimana kabar lo? Gue harap lo baik-baik ajah! Semenjak lo sms gue waktu itu, gue seneng banget. Gue udah lama cari nomer lo tapi ga ketemu. apa lo masih inget janji itu? Janji dimana gue akan ketemuin lo sama dia. Gue minta maaf karena gue ga bisa nepatin janji gue itu. Semenjak lo minta tolong cariin dia ke gue, semenjak itu juga gue cari dia dimanapun yang gue tau. Tapi hasilnya nihil. Walaupun hasilnya nihil gue tetep berusaha nyariin dia buat lo selagi tubuh ini sehat. Tujuan gue nulis surat ini sebenernya buat jaga-jaga. Jaga-jaga kalo gue ga bisa cari dia untuk selamanya. Semenjak gue tau gue menderita tumor otak, gue mulai pesimis untuk hidup. Dan… gue takut ga bisa ketemu lo lagi. Jujur gue ngelakuin ini semua karena… aku sayang sama kamu Fi. Gue tau ini kedengeran konyol, tapi perasaan gue ini masih sama kaya dulu. Walaupun lo ga pernah menyadarinya. Gue pengen lo tau, aku cinta kamu melebihi cinta kamu ke dia…

GERALD

Fiona menyesali semua yang terjadi. Seandainya ia tidak pernah meminta tolong untuk mencari seseorang yang tidak pernah ada kepada Gerald, mungkin Gerald tidak akan mati. Air mata Fiona tak bisa terbendung lagi. Ia menangis tersedu-sedu dan matanya menerawang keluar jendela kamar Gerald. Seandainya ia dulu menyadari perasaan Gerald mungkin Gerald sekarang bersamanya.
*The end*

Rabu, 06 Mei 2015

Pendidikan, Solusi Masalah Negara?

Berbicara tentang pendidikan, masyarakat kita masih menganggap pendidikan bukan hal yang diutamakan atau penting. Pendapat yang beredar di masyarakat sangat beragam, dimulai dari persoalan finansial, pelarangan wanita untuk sekolah tinggi oleh kebanyakan orang tua, menghabiskan waktu yang berakibat kepada penganguran, yang sering kita sebut sebagai “pengangguran itelejensi”, dll. Disini saya mencoba meluruskan pendapat yang beredar tersebut. Kita tahu bahwa pemerintah mewajibkan untuk setiap warga negara Indonesia menempuh pendidikan 12 tahun, dimulai dari tingkat SD, SMP, SMA. Tapi pada faktanya saja masih banyak anak-anak Indonesia yang tidak sekolah atau putus sekolah. Alasan paling mendasar adalah persoalan ekonomi keluarga, kemampuan suatu keluarga dalam membiayai pendidikan anak. Indonesia merupakan negara berkembang, masyarakat kalangan bawah secara finansial lebih mendominasi dari pada masyarakat kalangan atas. Jarak antara si kaya dan simiskin masih sangat jelas. Persoalan pendidikan menjadi kendala penting yang harus dilakukan pemerintah guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sekolah adalah tempat seseorang dalam menimba ilmu, ilmu yang dimaksudkan bukan hanya secara akademik maupun non-akademik, tetapi kemampuan anak dalam bersosialisasi. Seiring berkembang ilmu pengetahuan dan teknologi, menjadi memicu masyarakat untuk lebih dalam hal pendidikan. Sulitnya mendapatkan pekerjaan yang layak menjadi kedala karena kurangnya pendidikan, sehingga perekonomian keluarga stag bahkan menurun. Setiap keluarga pasti menginginkan perekonomian yang meningkat. Untuk itu saya tekankan lagi kuncinya adalah pendidikan. Memang benar pendidikan tinggi tidak menjamin seseorang sukses ataupun kaya. Tetapi pendidikan mengajarkan kita untuk berfikir kreatif, menjadi kreatif, inovitif, dll; pembentukan karakter; melatih mental; dll. Proses pembelajaran banyak yang akan didapat menajadikan pendewasaan dan memperkuat mental. Makanya itu pemerintah sekarang menginginkan adanya revolusi mental. Revolusi mental bisa didapat ketika proses belajar disekolah. Para orang tua tidak perlu khawatir untuk menyekolahkan anaknya karena pemerintah menyediakan beasiswa bagi anak-anak tidak mampu dan sekolah gratis.

Ada banyak hal yang membuat saya khawatir mengenai pendidikan, yaitu kurang meratanya kualitas pendidikan yang didapat oleh anak pada sekolah-sekolah, terutama pada daerah-daerah teperncil. Kita bisa membandingkannya dari sarana dan prasarana, kualitas tenaga pengajar, dll. Jika pemerintah berfokus kepada pendidikan dan melakukan perombakan habis-habisan, mungkin untuk mencapai masyarakat sejahtera kita bisa. Sistem pendidikan yang rumit menjadi pembahasan yang tiada habis-habisnya dalam forum ataupun rapat evaluasi. Diharapkan sekali pemerintahan yang sekarang berfokus kepada pendidikan dan berupaya untuk secara total menjadikan pendidikan sebagai sarana untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Mampu bersaing dengan tenaga kerja asing, semenjak terbentuk MEA, Masyarakat Ekonomi ASEAN menjadi motivasi dan tantangan besar untuk pemerintah dan masyarakat. Saya mengkritisi pemerintah yang tidak punya malu secara terang-terangan melakukan tindakan kejahatan besar yang merugikan masyarakat Indonesia, yaitu mengambil uang dan hak rakyat, melakukan KKN. Lagi-lagi pemabahasan korupsi menjadi topi hangat dikalangan masyarakat. “Padahal uang hasil korupsi itu bisa dikatakan cukup mendanai pendidikan”. Dengan begitu pendidikan akan berjalan kondusif dan harapan bangsa dan negara dalam kesejahteraan dapat terwujud. Tak perlu jauh-jauh memikirkan bagaimana menciptakan negara yang sesuai harapan cukup dengan pendidikan, itu sudah cukup. Jadi harapan saya dan masyarakat adalah pemerintah melakukan upaya besar dalam dunia pendidikan terutama pemerataan fasilitas sekolah yang menunjang diberbagai daerah, kualits guru, sistem yang mudah (tidak rumit), beasiswa yang tepat sasaran, dll.

Simalakama BBM

Pemerintahan baru telah terbentuk, harapan masyarakat adalah pemerintahan yang lebih baik dari sebelumnya dan membawa nama Indonesia ke dunia Internasional. Setelah pelantikan Jokowi pada tanggal 20 Oktober 2014 lalu, masyarakat memberikan kepercayaan kepada Jokowi untuk memajukan Indonesia, memperbaiki program-program kerja yang kurang maksimal dan program-program unggulan yang di sampaikan dahulu ketika kampanye. Walaupun proses kampanye sampai penghitungan suara menuai polemik dimasyarakat tentang siapa yang pantas menjadi pemimpin Indonesia setelah era SBY ini, mau tak mau masyarakat Indonesia harus menerima hasil dari pemilu yang telah diselenggarakan. Pada pemilu tersebut dimenangkan oleh calon presiden nomer urut 2 yaitu Jokowi Dodo-Jusuf Kala. Perbedaan yang sangat tipis dengan peasainganya nomer urut 1 yaitu pasangan Prabowo-Hatta. Bangsa yang bijak adalah bangsa yang menerima hasil dan mendukung kebijakan yang dibuat oleh presiden. Pemerintah untuk lima tahun kedepan dengan nama Kabinet Kerja Jokowi ini menawarkan program unggulannya yaitu Kartu Sehat, Kartu Indonesia Pintar dan lain-lain.

Sudah hampir 6 bulan menjabat sebagai presiden, Jokowi menuai kritikan oleh berbagai lapisan masyarakat mulai dari pedagang, mahasiswa, beberapa partai politik, dan lain-lain. Babak baru dimulai pada perseteruan antara Polri dan KPK menjadi tantangan pemerintahan Jokowi dalam pengambilan sikap maupun keputusan. Keputusan yang lemah dan dinilai kaku ini, Jokowi tidak mampu menengahi kedua kubu. Ketika era SBY perseteruan antara Polri dan KPK mengenai simulator SIM ini mampu ditangani dengan baik. Berbeda dengan Jokowi lamban bertindak dan seolah membiarkan perseteruan tersebut terbukti dari keputusan yang lemah dan berbeli-belit. Dengan hal ini masyarakat bisa melihat dan menilai pemerintahan Jokowi. Masyarakat mempertanyakan kepemimpinan Jokowi, yang sebelumnya menjabat sebagai walikota Solo dan Gubernur Jakarta. Jabatan terdahulu lagi-lagi Jokowi berlaku sombong, belum habis masa jabatanya malah mengambil resiko sebagai calon kepala negara. Tidaklah mudah memimpin Indonesia yang terdiri berbagai suku bangsa, adat istiadat, dan lain-lain. Apalagi masalah-masalah yang dihadapi itu-itu ajah. Jangan memperparah Indonesia dengan segudang masalah itu.

Baru-baru ini yang sangat menghebohkan dari pemerintahan Jokowi adalah tentang kebijakan kenaikan BBM. Kenaikan harga BBM, pada awal tahun 2015 dengan kisaran Rp 8.500/liter untuk premium dari Rp 6.500/liter dan untuk solar Rp 7.500/liter dari Rp 5.500/liter ini membuat masyarakat resah karena fenomena ini pasti dibarengi dengan kenaikan bahan pokok dan transportasi. Tujuan menaikan harga BBM adalah meperbaiki infratruktur melalui peningkatan APBN dengan mencabut minyak bersubsidi. Padahal dengan menaikan harga BBM akan meningkatnya inflasi, masyarakat tidak sejahtera dan meningkatkan kemiskinan. Untuk mensejahterakan masyarakat tidak harus menaikan harga BBM bisa dengan alternatif lain seperti memperbarui kontrak dengan perusahaan asing. Harga minyak dunia yang sedang turun sekitar US$ 75-77 per barel. Kebijakan yang tidak logis, padahal pemeintah dalam penetuan harga BBM didasarkan kepada naik-turunnya minyak dunia. Ketika harga minyak dunia turun, Jokowi lebih memilih untuk menaikan harga BBM. Seolah pemerintah hanya mengambil jalan pintas. Gegabah mengambil keputusan tanpa memikirkan dampak yang lebih besar terhadap Indonesia. Menaikan harga BBM merupakan hal yang sangat sensitif, perlu didiskusikan lebih lanjut dan mencari alternatif lain untuk meningkatkan pendapatan negara. Ketika kampanye Jokowi secara gamblang menyatakan bahwa ia pro terhadap rakyat, janji yang diucapkan dijadikan angin lalu. Mengurangi subsidi pada perusahaan pabrik, sangat jelas dampaknya kepada masyarakat. Jika ditelaah meningkatnya biaya tarsportasi, maka biaya produksi otomatis meningkat juga, harga jual naik dan menurunnya daya beli masyarakat. Masyarakat tidak sejahtera bahkan kemiskinan dimana-mana. Inikah yang namanya pro rakyat?

Setelah beberapa waktu lalu menurunkan harga BBM dari harga Rp 6.500/liter menjadi Rp 6.400/liter untuk premium dan Rp 5.500/liter menjadi Rp 5.400/liter untuk solar dan kemudian menaikan kembali sekitar Rp7.300/liter. Membuat masyarakat bingung apalagi pemberitaan kenaikan harga yang kurang jelas. Pedagang enggan menurunkan harga jual ketika harga BBM turun pada waktu lalu. Alasanya karena mangantisipasi kenaikan harga BBM yang tidak menentu tersebut. Fluktuasinya harga BBM menuai kritik berbagai eleman masyarakat. Masyarakat menangkap adanya praktik mekanisme pasar, yaitu penetuan harga BBM di tentukan oleh mekanisme pasar.

Dalam 17 tahun terakhir setelah reformasi, pemerintahan Jokowi-JK merupakan pemerintahan terburuk karena nilai tukar rupiah hampir mencapai Rp 13.000/dolar. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar dikarenakan faktor eksternal yaitu pengaruh politik Yunani dan kekuatan mata uang dolar terhadap rupiah. Tidak hanya Indonesia melainakn negara-negara di Asia juga mengalami depresiasi nilai mata uang. Maka Bank central (BI) melakukan interfensi yaitu, menjual valuta asing dan membeli uang domestik, yang mengakibatkan cadangan valuta asing berkurang. Untuk mempertahankan nilai tukar rupiah Jokowi mengambil tindakan yaitu, menerima devisa dari utang luar negeri sehingga hutang negara bertambah. Meningkatnya hutang negara maka berdampak pada penurunan ekspor dan peningkatan impor. Produksi dan output akan menurun sehingga perekonomian melemah. Negara akan berfokus kepada pembiayaan impor, dan mengenai produktivitas negara akan habis hanya untuk membayar bunga hutang.

Pendapatan terbesar negara adalah berasal dari pajak. Kalau tujuannya untuk membangun infrastruktur maka memberdayakan pajak bukan menaikan harga BBM dan bukan menambah beban negara yaitu menambah hutang luar negeri. Aset negara Indonesia secara sumber daya alam sangat melimpah ruah, jika Jokowi tegas terhadap pihak asing dan mengcover aset negara untuk mengolah sendiri, kenapa tidak? Aktivitas pertambangan di daerah timur Indonesia bisa dimaksimalkan kembali dan memperbarui kontrak-kontrak perusahaan asing, disini Jokowi harus pandai memilah mana perusahaan asing yang menguntungkan untuk negara. Kalau alasannya adalah SDM, masyarakat Indonesia mampu, banyak orang hebat di Indonesia yang diabaikan dan kurang diapresiasi oleh negara, mereka lebih memilih untuk bekerja kepada negara lain ketimbang negara sendiri. Apa yang salah dengan pemerintah? Lain pula cerita jika ‘politik’ dan ‘kepentingan-kepentingan pribadi’ berperan. Jika disinggung lagi tentang janji Jokowi ketika kampanye tidak akan menambah hutang, maka janji Jokowi dipertanyakan! Sama saja seperti pedagang yang mengobral ‘barang dagangan’. Diperlukan pemimpin negara yang tegas dan peduli kepada rakyat. (Okt.)

S1 Max 5 Tahun, Siapkah Unand?

Kebijakan baru dari kementerian pendidikan yaitu akan diberlakukannya S1 maksimal 5 tahun yang tertuang pada Permendikbud 49/2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SNPT), persisnya pada pasal 17 ayat 3c, dengan memangkas masa perkuliahan dari 7 tahun menjadi 5 tahun, dengan beban sks minimal yaitu 144 sks. Kebijakan yang di tunjukkan pada mahasiswa angkatan 2014, tidak untuk seluruh mahasiswa dan mulai diterapkan pada tahun ini. Beberapa perguruan tinggi mulai menerapkan kebijakan tersebut. Dampak positif dari kebijakan tersebut, yaitu dilihat dari segi ekonomi, sangat bagus karena dengan pemangkasan masa perkuliahan adanya pengurangan subsidi pada bidang pendidikan, sehingga pemerintah bisa mengalihkan ke sektor lainnya, dan dapat menghemat anggaran pemerintah (APBN). Dan juga membantu mahasiswa dalam penghematan biaya kuliah dan berkurangnya beban keluarga. Terlebih lagi kurikulum setiap 4 tahun mengalami perubahan yang ditakutkan jika mahasiswa melebihi batas waktu 5 tahun maka berportensi mahasiswa mengalami dua kurikulum yang berbeda, yang dampakanya kepada mahasiswa itu sendiri. Kebijakan ini membuat resah dikalangan mahasiswa, banyak yang menganggap kebijakan ini terlalu tergesa-gesa ditinjau dari sistem perkuliahan yang berbeda-beda dari setiap perguruan tinggi di Indonesia. Banyak pro dan kontra. Permasalah yang timbul adalah tantangan terbesar bagi negara, yaitu dalam hal kesiapan pemerintah dalam menyediakan lapangan kerja setiap tahunnya. Misalkan, IPK seorang mahasiswa 2,75 atau dibawah 2,75 dengan batas waktu 5 tahun, untuk memperbaikinya sangat sulit, pada akhirnya ia akan lulus dengan IPK seadanya. Apakah akan memenuhi standar kerja? Jika kebijakan ini dibuat tanpa ada solusi ataupun perbaikan dalam mengatasi pengangguran, maka yang ada menjadi beban negara yaitu tingginya tingkat pengangguran untuk sarjana atau disebut dengan pengangguran intelejensi. Seharusnya pemerintah harus memikirkan lagi dampak tersebut. Apakah dengan kebijakan ini menghasilkan lulusan yang berkualitas? Jika kebijakan sebelumnya dan kebijakan sekarang menghasilkan output yang sama tanpa adanya perbedaan yang signifikan, sama saja. Hanya akan membuang-buang waktu dan tenaga. Untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang mengarah pada bidang pendidikan, yaitu terletak kepada kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang baik mencerminkan kemajuan suatu negara, tidak harus memangkas masa perkuliahan. Kita tahu sistem pendidikan di Indonesia pada tahap pembenahan apakah kebijakan ini solusi yang tepat? Apakah kebijakan ini sesuai dengan Tri Dharma perguran tinggi yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian kepada masyarakat. Bagaimana kalau kebijakan tersebut hanya menimbulkan masalah? Perlu adanya perbaikan sistem pendidikan, metode pendidikan, kurikulum, dan lain-lain untuk pencapaian cita-cita bangsa Indonesia.

Dewasa ini, dalam dunia kerja tidak hanya mengandalkan kemampuan akademik melainkan softskill yang dimiliki. Mahasiswa sadar akan pentingnya softskill. Banyak mahasiswa melakukan organisasi atau kegiatan-kegiatan lainnya untuk menunjang softskill. Kebijakan ini akan menghambat aktivis kampus, karena ketika masa perkuliahan yang bisa dikatakan “singkat”, mereka akan berfokus pada akademik dan meninggalkan organisasi yang masa jabatannya belum habis. Akan menimbulkan permaslahan yang kompleks apalagi mahasiswa itu adalah petingi dalam organisasi yang diikuti. Kalau tidak begitu akan mendapat sanksi berupa Drop Out (DO). Pemerintah janganlah mementingkan egoismenya, bagaimana dengan prodi eksak? akan banyak melakukan pratikum belum lagi organisasi yang diikuti. Khususnya kedokteran yang memerlukan waktu 7 tahun untuk menyelesaikan studinya, paling cepat sekitar 5 tahun, dan juga teknik. Mungkin untuk prodi sosial untuk masa 5 tahun bisa meraka terapkan. Untuk prodi eksak akan cenderung berfokus pada akademik, maka menghambat softskill dan dengan begitu tingkat persaingan dalam dunia kerja juga menurun. Lebih parahnya lagi meningkatkan pengangguran untuk sarjana, padahal mahasiswa adalah “penerus bangsa”. Ada mahasiswa dapat bekerja dibawah tekanan ada yang tidak. Mahasiswa yang dibawah tekanan dengan adanya kebijakan ini mungkin bisa mereka terapkan, lain lagi dengan mahasiswa yang tidak bisa dibawah tekanan, ini akan menghambat kreativitas. Kualitas mahasiswa tidak hanya dilihat dari seberapa cepat dia menyelesaikan studinya. Terkadang mahasiswa yang lulus lebih lama adalah yang lebih unggul. Dengan pengalaman organisasi yang diikutinya membuat dia menjadi mahasiswa lebih kompeten. Bagaimana dengan mahasiswa yang melakukan BSS yaitu Berhenti Studi Sementara. Karena dalam faktanya mahasiswa yang melakukan BSS karena alasan pekerjaan. Mereka kuliah sambil berkerja untuk memenuhi biaya kuliah mereka. Mereka mandiri secara financial agar orang tua tidak terlalu terbebani. Akankah dengan tamat lewat dari 5 tahun mengakibatkan DO untuk mereka, sangat disayangkan sekali.

Apa langkah kongrit yang dilakukan Universitas Andalas untuk penerapan UU S1 maksimal 5 tahun? Untuk mengatisipasi keburukan yang timbul Unand harus siap dengan perbaikan-perbaikan yang menunjang keberhasilan dalam mencetak lulusan yang unggul. Yaitu infrastruktur seperti sarana dan prasarana. Akses kepada kemudahan mahasiswa dalam belajar dan organisasi. Menurut Prof. Nasri Bachtiar selaku wakil dekan 3 Fakultas Ekonomi bidang kemahasiswaan dijumpai di ruang rapat dekanat Fakultas Ekonomi dalam menanggapi berlakunya kebijakan oleh Permendikbud, seharusnya semakin aktif mahasiswa dalam organisasi (aktivis kampus) semakin baik dalam pengontrolan waktu belajar. Ditekankan pada mahasiswa tahun awal mulai aktif berkegiatan atau berorganisasi untuk mempermudah kecepatan kelulusan. Dengan penyeimbangan antara akademik dan softskill maka mencetak mahasiswa yang berkualitas. Apalagi tahun 2015 akan berlakunya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) atau Association Economic ASEAN (AEC), diperlukan daya saing yang tinggi. Agar tidak ketertinggalan diantara negara ASEAN lainnya pada bidang SDM. Jangan sampai kita menjadi penonton di negara sendiri. (Okt)