Dua
tahu berlalu begitu cepat, sejak terakhir kali aku meninggalkan rumah dan kau
memilih untuk bertahan di rumah itu. aku tak berfikir panjang dengan
keputusanku dahulu. semua itu untuk kebahagiaan kita, tetapi semua itu
menorehkan luka sangat dalam. Bukan hanya kau yang terluka tetapi aku juga. Kita
sama-sama melanjutkan hidup yang memberikan janji-janji kehidupan. Kita tidak
saling mengetahui hidup seperti apa yang kita jalani, karena selama dua tahun
ini hanya ada kisah indah dari hidup kita yang saling kita ceritakan. Aku tidak
tau apakah kebohongan menghiasi hidup ini, begitu juga kau. Yang menjadi
pertanyaanku saat itu adalah apa yang membuatmu merelakan aku pergi? Ingin aku
menanyakannya tetapi aku tak berani.
Pertamakalinya
aku akan berpisah darimu selama kebersamaan yang kita jalani. Di bandara itu
kau tersenyum bahagia kepadaku, mengantarkan aku ke gerbang sana. Lambaian tanganmu yang mengartikan selamat
tinggal itu menghujam hatiku seakan-akan aku akan kehilangan dirimu yang selama
ini menjadi idola bagiku. Gurat di wajahmu sungguh aku mengingat semua
hari-hari yang telah kita lalui. Kau adalah sosok menginspirasi dalam hidupku,
memaknai hidup dengan semua nasihat dan tingkah lakumu. Aku menyembunyikan
kekaguman akan sosok dirimu. Terkadang aku takut menghadapi dunia, karena yang
aku tau dunia itu adalah dirimu. Kita tidak saling mengucapkan kata cinta dalam
hari-hari kita, kau menunjukkan rasa cinta itu dengan melindungi diriku yang
lemah ini. lantas pantaskah aku menjadi orang yang akan kau lindungi?
Dua
tahun berlalu begitu cepat, dan hari ini aku sudah berada di bandara menunggu
dirimu yang datang kepadaku. Langit sangat cerah memberikan harapan yang
sebentar lagi akan datang kepadaku. Dibenakku saat ini adalah seperti apa
rupamu? Apakah masih sama seperti dulu? Waktu dua jam yang aku tunggu tidak
sebanding dengan dua tahun perpisahan kita. Berapapun waktu yang aku perlukan
untuk menunggu dirimu, aku akan menunggu.
Selagi itu adalah dirimu.
Aku
duduk di atas troli, sesekali melihat jam di layar handphoneku. Belum ada
tanda-tanda kedatanganmu. Aku iri melihat orang-orang dijemput oleh
keluarganya, mereka saling berpelukkan, wajah-wajah kebahagiaan untuk
orang-orang yang dicintai. Hari ini akan ada kebahagiaan. Bandara selalu
menorehkan sejarah hidup manusia karena menurutku bandara adalah tempat
pertemuan dan perpisahan. Seperti yang aku alami. Dahulu bandara menjadi
perpisahan bagiku, dan sekarang adalah pertemuaan untukku. sedari tadi, pria itu
gelisah menunggu sama seperti diriku yang gelisah menunggu sosok dia. Berpindah
kesana-kemari dengan satu tas kecil yang ditenteng, penantian panjang ini
membuahkan hasil, wajah pria itu berubah dengan senyuman setelah dari kejauhan
wanita separuh baya menghampirinya dan pelukkan itu pertanda meluapkan perasaan
pria itu. kejadiaan itu menyentuh hatiku.
Dari
kejauhan aku melihat dia berjalan menuju diriku. Aku bediri dan melihat dia
dengan perasaan rindu yang mendalam. Mata kami saling bertatapan, tanpa
mengalihkan pandangan kami. Gurat wajahnya semakin jelas dari tempat aku
berdiri. Aku tidak sanggup melangkahkan kaki kearahnya, aku biarkan dia terus
berjalan. Tiba-tiba saja bulir air mata ini tertumpah membasahi pipiku dengan
sigap aku menghapusnya, aku tidak ingin dia mengetahuinya. Sampai akhirnya dia sudah
berdiri dihadapanku. Aku tersenyum. Dia tersenyum. Air matanya tersembur
diujung matanya.
Rambutnya
yang dahulu selalu tegak berdiri didepannya sekarang mentupi jidatnya. Wajahnya
tampak kusam, bajunya lusuh tidak disetrika. Garis celananya tidak beraturan. Sepatunya
hitamnya meninggalkan bekas debu yang menempel. Aku menyentuh tangannya yang
keriput itu dan ku ciumi tanda hormat ku kepadanya. Tangan satunya lagi
mengusap kepalaku. Aku ingin menangis, tetapi aku tidak ingin menunjukkannya.
Hati ini terasa sesak, rindu yang meluap ini tak bisa terbendung. Aku terus
menahannya dengan senyuman yang aku berikan. Kami berpegangan tangan sangat
erat. Sungguh aku merindukanmu. Seorang yang aku rindukan selama ini adalah
seorang pria yang tulus mencintaiku tanpa syarat, pria yang selalu melindungi
diriku, pria yang tidak pernah menyakitiku, pria yang tak pernah bosan
mengajari aku dalam memaknai hidup, pria yang menjadi inspirasiku, pria yang
sampai detik ini mengorbankan hidupnya demi aku. Aku biasa menyebutnya Ayah!