Jumat, 08 Mei 2015

Cinta, Aku Pergi!

Fiona yang tengah tertidur dikamarnya, terbangun dari tidur malamnya. Saat itu pukul tengah malam lewat. Tanpa sadar pandangan Fiona tertuju pada sosok pria yang berdiri didepan pintu kamarnya. Pria jangkung dengan badan yang atletis itu berdiri mematung didepan pintu kamar Fiona. Pandangan matanya yang kosong sedang menatap Fiona. Bibir pucat dan wajah dingin itu seolah-olah ada yang berbeda dengan pria itu. Entah dari mana pria itu bisa masuk kekamar Fiona. Fiona yang melihat heran dan masih tak percaya akan kehadiran pria itupun menghampiri sambil mengucek-ngucek matanya. Sesaat setelah itu akhirnya Fiona menyadari pria yang berdiri dihadapannya sekarang itu adalah Gerald Firnando. Ia adalah teman SMA Fiona yang belum pernah ditemuinya setelah kelulusan sekolahnya pada saat itu. Fiona menatap pria itu dengan seksama, Fiona berfikir apakah ia sedang bermimpi bisa bertemu Gerald. Pria yang sudah lama tak ditemuinya. Pria itu tetap berdiri mematung dihadapan Fiona.

“Gerald?” panggil Fiona dengan ekpresi heran. Mungkin Fiona berfikir darimana pria itu bisa masuk kedalam kamarnya apalagi pada waktu tengah malam begini. Dimana orang-orang beristirahat untuk tidur. Tapi pria itu tidak menjawab.

“lo Gerald kan? Kenapa lo ada disini? Terus bagaimana bisa lo masuk kekamar gue?” Tanya Fiona bertubi-tubi sambil mengguncang-guncang tubuh pria dihadapannya itu. Tatapan matanya yang kosong, bibir pucat dan wajah dingin itu membuat bulu kuduk Fiona berdiri seketika. Fiona yang mulai ketakutan dengan siapa yang ia temui mulai memukul-mukul pipinya berharap bahwa semua ini hanya mimpi, namun kenyataannya tidak.

“maafin gue” kata pria itu yang akhirnya membuka suara. suara pria yang berdiri dihadapan Fiona terdengar datar dan dingin.

“mma..mmaksud loo aaa..ppa? Kk..Kenapa lo harus mmminta mmmaaf?” Tanya Fiona dengan suara agak tergagap-gagap.

“maafin gue karena gue ga bisa nemuin dia buat lo” setelah kalimat terakhir yang diucapkan pria itu, tiba-tiba pria itu menghilang dihadapan Fiona. Fiona yang melihat kejadian itu pun syok dan berteriak sekuat-kuatnya. Fiona pun terbangun dari mimpinya. Wajahnya yang panik dan keringat yang mulai membasahi dahinya menandakan bahwa Fiona sedang mimpi buruk. Mimpi bertemu dengan hantu mirip Gerald. Malam itu Fiona tidak bisa tidur dan takut mimpi buruk lagi. Tapi apa maksud Gerald berkata seperti itu?
*
Dua hari setelah kejadian mimpi buruk yang dialami Fiona, Fiona mendapat kabar bahwa teman SMA nya bernama Gerald meninggal dunia akibat tumor otak yang dideritanya setahun belakangan ini. Fiona yang mendengar kabar itu langsung mengunjungi rumah Gerald dan ikut memakamkannya. Fiona yang kini berada dirumah almarhum Gerald, tiba-tiba ibu Gerald menghampirinya dan membawanya kesebuah kamar. Kamar itu adalah kamar Gerald Firnando, karena didinding kamarnya terpampang foto-foto Gerald yang sedang bermain futsal dengan teman-temanya. Wajahnya yang ceria menghiasi disetiap foto dikamar itu.

“kamu yang namanya Fiona kan?” Tanya ibu Gerald sambil membawa Fiona duduk di kasur di kamar itu.
“ iya tante aku Fiona. Ada apa tan?”

“ada surat dari Gerald. Tante menemukan ini dilaci kamarnya. Dan disitu tertulis nama kamu. Mungkin ini untuk kamu.” Ibu Gerald memberikan surat kepada Fiona yang di ambilnya dari laci itu.
Surat? Pikir Fiona. Fiona yang ditinggal sendiri oleh ibu Gerald dikamar itu. Fiona memandangi surat yang ia pegang. Dan perlahan membuka dan mulai membacanya.


Hi Fiona
Gimana kabar lo? Gue harap lo baik-baik ajah! Semenjak lo sms gue waktu itu, gue seneng banget. Gue udah lama cari nomer lo tapi ga ketemu. apa lo masih inget janji itu? Janji dimana gue akan ketemuin lo sama dia. Gue minta maaf karena gue ga bisa nepatin janji gue itu. Semenjak lo minta tolong cariin dia ke gue, semenjak itu juga gue cari dia dimanapun yang gue tau. Tapi hasilnya nihil. Walaupun hasilnya nihil gue tetep berusaha nyariin dia buat lo selagi tubuh ini sehat. Tujuan gue nulis surat ini sebenernya buat jaga-jaga. Jaga-jaga kalo gue ga bisa cari dia untuk selamanya. Semenjak gue tau gue menderita tumor otak, gue mulai pesimis untuk hidup. Dan… gue takut ga bisa ketemu lo lagi. Jujur gue ngelakuin ini semua karena… aku sayang sama kamu Fi. Gue tau ini kedengeran konyol, tapi perasaan gue ini masih sama kaya dulu. Walaupun lo ga pernah menyadarinya. Gue pengen lo tau, aku cinta kamu melebihi cinta kamu ke dia…

GERALD

Fiona menyesali semua yang terjadi. Seandainya ia tidak pernah meminta tolong untuk mencari seseorang yang tidak pernah ada kepada Gerald, mungkin Gerald tidak akan mati. Air mata Fiona tak bisa terbendung lagi. Ia menangis tersedu-sedu dan matanya menerawang keluar jendela kamar Gerald. Seandainya ia dulu menyadari perasaan Gerald mungkin Gerald sekarang bersamanya.
*The end*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar