Rabu, 26 Agustus 2015

My Ayah, My Hero....



Dua tahu berlalu begitu cepat, sejak terakhir kali aku meninggalkan rumah dan kau memilih untuk bertahan di rumah itu. aku tak berfikir panjang dengan keputusanku dahulu. semua itu untuk kebahagiaan kita, tetapi semua itu menorehkan luka sangat dalam. Bukan hanya kau yang terluka tetapi aku juga. Kita sama-sama melanjutkan hidup yang memberikan janji-janji kehidupan. Kita tidak saling mengetahui hidup seperti apa yang kita jalani, karena selama dua tahun ini hanya ada kisah indah dari hidup kita yang saling kita ceritakan. Aku tidak tau apakah kebohongan menghiasi hidup ini, begitu juga kau. Yang menjadi pertanyaanku saat itu adalah apa yang membuatmu merelakan aku pergi? Ingin aku menanyakannya tetapi aku tak berani.

Pertamakalinya aku akan berpisah darimu selama kebersamaan yang kita jalani. Di bandara itu kau tersenyum bahagia kepadaku, mengantarkan aku ke gerbang sana.  Lambaian tanganmu yang mengartikan selamat tinggal itu menghujam hatiku seakan-akan aku akan kehilangan dirimu yang selama ini menjadi idola bagiku. Gurat di wajahmu sungguh aku mengingat semua hari-hari yang telah kita lalui. Kau adalah sosok menginspirasi dalam hidupku, memaknai hidup dengan semua nasihat dan tingkah lakumu. Aku menyembunyikan kekaguman akan sosok dirimu. Terkadang aku takut menghadapi dunia, karena yang aku tau dunia itu adalah dirimu. Kita tidak saling mengucapkan kata cinta dalam hari-hari kita, kau menunjukkan rasa cinta itu dengan melindungi diriku yang lemah ini. lantas pantaskah aku menjadi orang yang akan kau lindungi? 

Dua tahun berlalu begitu cepat, dan hari ini aku sudah berada di bandara menunggu dirimu yang datang kepadaku. Langit sangat cerah memberikan harapan yang sebentar lagi akan datang kepadaku. Dibenakku saat ini adalah seperti apa rupamu? Apakah masih sama seperti dulu? Waktu dua jam yang aku tunggu tidak sebanding dengan dua tahun perpisahan kita. Berapapun waktu yang aku perlukan untuk menunggu dirimu, aku akan menunggu.  Selagi itu adalah dirimu.

Aku duduk di atas troli, sesekali melihat jam di layar handphoneku. Belum ada tanda-tanda kedatanganmu. Aku iri melihat orang-orang dijemput oleh keluarganya, mereka saling berpelukkan, wajah-wajah kebahagiaan untuk orang-orang yang dicintai. Hari ini akan ada kebahagiaan. Bandara selalu menorehkan sejarah hidup manusia karena menurutku bandara adalah tempat pertemuan dan perpisahan. Seperti yang aku alami. Dahulu bandara menjadi perpisahan bagiku, dan sekarang adalah pertemuaan untukku. sedari tadi, pria itu gelisah menunggu sama seperti diriku yang gelisah menunggu sosok dia. Berpindah kesana-kemari dengan satu tas kecil yang ditenteng, penantian panjang ini membuahkan hasil, wajah pria itu berubah dengan senyuman setelah dari kejauhan wanita separuh baya menghampirinya dan pelukkan itu pertanda meluapkan perasaan pria itu. kejadiaan itu menyentuh hatiku. 

Dari kejauhan aku melihat dia berjalan menuju diriku. Aku bediri dan melihat dia dengan perasaan rindu yang mendalam. Mata kami saling bertatapan, tanpa mengalihkan pandangan kami. Gurat wajahnya semakin jelas dari tempat aku berdiri. Aku tidak sanggup melangkahkan kaki kearahnya, aku biarkan dia terus berjalan. Tiba-tiba saja bulir air mata ini tertumpah membasahi pipiku dengan sigap aku menghapusnya, aku tidak ingin dia mengetahuinya. Sampai akhirnya dia sudah berdiri dihadapanku. Aku tersenyum. Dia tersenyum. Air matanya tersembur diujung matanya. 

Rambutnya yang dahulu selalu tegak berdiri didepannya sekarang mentupi jidatnya. Wajahnya tampak kusam, bajunya lusuh tidak disetrika. Garis celananya tidak beraturan. Sepatunya hitamnya meninggalkan bekas debu yang menempel. Aku menyentuh tangannya yang keriput itu dan ku ciumi tanda hormat ku kepadanya. Tangan satunya lagi mengusap kepalaku. Aku ingin menangis, tetapi aku tidak ingin menunjukkannya. Hati ini terasa sesak, rindu yang meluap ini tak bisa terbendung. Aku terus menahannya dengan senyuman yang aku berikan. Kami berpegangan tangan sangat erat. Sungguh aku merindukanmu. Seorang yang aku rindukan selama ini adalah seorang pria yang tulus mencintaiku tanpa syarat, pria yang selalu melindungi diriku, pria yang tidak pernah menyakitiku, pria yang tak pernah bosan mengajari aku dalam memaknai hidup, pria yang menjadi inspirasiku, pria yang sampai detik ini mengorbankan hidupnya demi aku. Aku biasa menyebutnya Ayah!

Kamis, 20 Agustus 2015

Raja Kehidupan

Aku dijamu dengan berbagai hidangan mewah di suatu ruangan yang megah, atap yang menjulang keatas memberikan kesan jauh antara dasar rumah. Di antara orang-orang yang memakai jas dan gaun cantik aku berada diantaranya dan mengenakan gaun berwarna hitam nan elegan. Aku tidak berfikir bahwa aku yang paling cantik hanya saja aku merasa suatu perasaan yang aneh berkecambuk di dalam.

Satu per satu pelayan di rumah tersebut menghidangkan makanan dan minuman yang menimbulkan bau yang sedap, menggugah selera seakan-akan air liur ini akan jatuh, aku menahan dan memperlihatkan keanggunan seorang wanita. Tak seorang pun mulai memakan makanan yang tersaji di atas meja sebelum aba-aba dari sang tuan rumah mentitahkan untuk mulai. Sang tuan rumah hanya berkata “selamat makan” dan kami pun makan. Aku memegang sendok dan garpu seperti yang ku lihat sang tuan rumah itu, diam-diam aku memperhatikan cara ia makan. Sungguh menawan dan indah untuk dilihat, tenang dan penuh nikmat. Aku mengikutinya dan tak ada yang tahu. Sedangkan yang lainnya dengan lahap memakan makanan itu. Sangat cepat dan tak bersisa, begitu juga dengan diriku tak menyisakan makanan di piring makanku. Kami saling melihat dan tersenyum bahagia, tetapi berbeda dengan perasaanku. Aku menyadari satu hal dengan keadaan ini, tidak sama sekali menemukan pembuat makanan itu. Sedari tadi sang tuan rumah hanya diam dan tidak berkata sedikitpun, setidaknya mengenalkan siapa yang membuat makanan-makanan ini.

Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya ketika pelayan-pelayan membersihkan semua yang di atas meja makan. “maaf tuan, bolehkan saya mengajukan pertanyaan?” Sang tuan rumah seketika beralih diamana sumber suara itu berasal dan mendapati diriku penuh ketegangan ketika mata kami bertemu. Dengan santai dan penuh hormat ia berkata “tentu, pertanyaan apa itu?” Aku terdiam dan menarik nafas sesaat “makanan-makanan ini sungguh enak sampai kami tak meninggalkan sisa sedikitpun. Siapa yang memasak semua makanan ini, tuan?” Dengan santai ia menjawab “kami memiliki koki yang hebat-hebat dari penjuru dunia, aku meminta mereka untuk memasak yang enak terkhusus untuk tamu yang sangat istimewa” kami yang mendengar jawaban dari sang tuan rumah sangat bahagia karena kami di anggap tamu istimewa. 

Kami di ajaknya berkeliling melihat rumah sang tuan rumah nan megah dengan desain interior yang sungguh menakjubkan membuat mata-mata ini menemukan keindahan yang sejati. Bisik-bisik para tamu berkerumun melihat patung sang tuan rumah beridiri kokoh memperlihatkan raut wajah yang tegas penuh wibawa. Sungguh menakjubkan! Kami melihat koleksi-koleksi guci, lukisan yang memberikan kesan mahal dan penuh arti setiap seni-seni itu. Perasaan dalam hatiku masih tetap sama dengan keganjalan yang tak bisa kutemukan apa maksdunya itu. 

Selesai berkeliling kami duduk di sofa yang empuk dan membaringkan badan kami di atasnya. Benar-benar lembut dan nyaman. Di hidangkan pula makanan-makanan ringan melepas lelah. Minuman dingin yang segar. “dari mana Anda mendapatkan harta kekayaan yang melinpah ini?” Tak sadar aku berucap seolah-olah sopan santun terhadapnya hilang karena lelah. Wajahnya berubah gugup dan berusaha mencari jawaban yang tepat. “saya mendapatkan dari warisan keluarga” katanya. “apa pekerjaan Anda sehingga kami harus menghormati Anda?” Katakku. “saya adalah pengusaha barang-barang antik” wajahnya semakin pucat, aku melihat keringatnya membasahi wajah tegasnya itu. Aku menangkap ke dalam matanya yang terus mengalihkan matanya ke arahku. Membuat aku bertanya-tanya siapa dia. Menyadari kelakuanku ini aku langsung minta maaf kepadanya “maaf aku tuan jika kata-kataku tak pantas kepada Anda” kataku. “siapa nama Anda?” dia menanyakan namaku.

Tiba-tiba rasa takut menghantui diriku, dengan terbata-bata aku menjawab “saaaa...yaaaa Maryam, tututu...aaann” tiba-tiba saja ia berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri diriku sambil menyodorkan tanganya kearahku, aku berdiri dan menyambut tangannya “senang berkenalan denganmu Maryam, nama yang indah” sang tuan rumah tersenyum kepadaku aku pun membalasnya. “kamu tau tentang ‘jangan berbicara mengenai pohon rumah kaca’?” sontak aku kaget dan mengangguk. Yang lain pun terdiam melihat tingkah laku kami. “apakah ada yang salah, tuan?” kami berdiri berhadapan saling bertatapan “kamu harus berjanji, untuk tidak membicarakan kesemua orang selain kita disini” pintanya. “apa itu tuan?” aku memenuhi keinginannya. “aku bukan lah pengusaha melainkan peminta-minta” wajahnya menerawang jauh kedalam masa lalunya. Kami terkejut mendengarnya. Apa maksudnya? “harta ini adalah milik keluargaku, semua ini menjadi milikku setelah aku melakukan hal yang tidak pantas kepada mereka, aku telah membunuh mereka”.

Orang-orang yang mendengar pernyataannya terbelalak dan tidak percaya dengan apa yang di ucapkannya. Aku terdiam beberapa saat dan mencerna kata demi kata. “kamu pembunuh!” aku berteriak keras, yang lain pun berbisik-bisik. Sang tuan rumah sangat pucat, tidak mampu berbuat, membisu. “aku tau ini semua kesalahan saya, tetapi saya pemimpin di negara ini. Tak mungkin aku mengaku. Siapa yang memimpin negara ini?” katanya tergagap. Ada raut wajah penyesalan. Menghalalkan semua cara untuk mendapatkan kekuasaan. “Anda harus dihukum!” tetapi tidak ada satu pun yang membawanya ke penjara untuk menghukumnya. Orang-orang yang bekerja di rumah itu diam dan tidak banyak berbuat. 

“saya akan membawamu ke penjara!” kataku penuh keyakinan. “kalau itu yang terbaik bawalah aku, hukumlah aku!” kata-katanya pasrah dan menyesali apa yang di perbuat. Aku membawanya penuh keyakinan, tanpa penyesalan karena kebenaran itu harus ditegakkan. Salah adalah salah, dan benar adalah benar. Walaupun pemimpin negara sekalipun. Mengakui kesalahan adalah suatu tindakan keberanian dan harus di hargai. Selama kita masih hidup didunia ini, tindakan kejahatan di berantas sehabis-habisnya, tidak memandang buluh. Tapi ingat jangan kita kucilkan dalam kehidupan sosial  karena orang-orang itu perlu diperhatikan dan didukung untuk kehidupannya yang lebih baik.

Wajah Pemerintahan Indonesia

Politik dan kekuasaan memiliki hubungan yang sangat erat, dewasa ini semua orang menggunakan kekuasaan untuk berpolitik demi kepentingan diri sendiri maupun sekelompok orang. Untuk mencapai cita-cita bangsa ataupun tujuan kelompok orang-orang tersebut. Semakin berkembangnya zaman dibarengi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, berbagai cara dilakukan untuk mewujudkannya. Disayangkan sekali jika kode etik tidak di perhatikan sehingga menghalalkan berbagai cara. Banyak cara-cara yang menyimpang dilakukan seperti ketika calon presiden mengkampanyekan partai politik atau dirinya sendiri masalah sogok-menyogok sudah lumrah dilakukan, gratifikasi juga menjadi alasan untuk itu.

Wajah pemerintah suatu negara adalah gambaran masyarakat negara tersebut. Pemerintah berlomba-lomba mendapat simpatik masyarakat agar masyarakat menyukai dan memilih mereka, namun setelah itu lalai akan tugas-tugas yang dijanjikan dahulu ketika kampanye. Kurangnya transparansi diberbagai sektor pemerintah membuat kepercayaan masyarakat memudar. Sebagai warga masyarakat kita harus jeli dan pintar dalam memilih pemimpin negara. Namun pada faktanya masyarakat terlena dengan berbagai pemberian dan iming-iming. Menurut saya tingkat pendidikan mempengaruhi masyarakat dalam memilih wakil rakyat ataupun pemimpin negara. Kita dituntut untuk pintar dan selektif, untuk itu dibutuhkan kemampuan memilih dengan berbagai pertimbangan dan kriteria setiap individu. Masyarakat harus cerdas mengenai hal ini untuk mewujudkan cita-cita bangsa. Memiliki pendirian dan prinsip yang kuat, dan tegas tentang yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah, bukan sebaliknya. 

Sulit menegakkan nilai-nilai kebenaran yang nantinya berujung kepada nilai-nilai agama. Setiap agama mengajarkan kebaikan, perdamaian, kerukunan, kepedulian, tolong-menolong dan lain-lain. Tetapi sekarang ini kehidupan bernegara ataupun kehidupan yang kita jalani mulai menjauhkan diri dari nilai-nilai agama. Malahan agama menjadi hal yang bersifat pribadi dan rahasia. Ketika manusia tak lagi menjadikan agama sebagai pedoman kehidupan mereka. Setiap pemerintahan pasti menginginkan kesejahteraan masyarakat dalam visi-misi mereka. Pemerintah membuat dan melakukan berbagai program-program yang pro masyarakat untuk mencapai masyarakat madani. Kita lupa bahwa agama juga berperan penting dalam hidup manusia. Seperti mengatur hidup manusia, pengambilan keputusan, dan lain-lain. Tidak ada agama yang menjerumuskan umat ke dalam keburukkan. Semua agama mengajarkan kebaikan. 

Bagaiamana jika politik dan agama bersatu? Akankah impian yang di harapkan masyarakat akan tercipta? Ataukah sebaliknya? Jawabannya adalah pada diri kita apakah kita mampu menggabungkan keduanya. Banyak masalah-masalah yang di hadapi pemerintah yang berakibat pada pengabaian masalah tersebut. Seperti KKN yang semakin merajalela, infrastruktur negara, kemiskinan meningkat, pengangguran dimana-mana, dan lain-lain. Masalah-masalah seperti ini apakah ada solusi yang tepat? Atau takkan pernah ada solusi? Siapa yang harus disalahkan? Dan apa solusis yang tepat? Menjadi PR untuk setiap negara terutama Indonesia. Kita sebagai masyarakat dan pemerintah harus sama-sama kompak dalam menangani permasalahan negara, menciptakan pola pikir masyarakat yang positif dan semangat dengan penuh keyakinan perwujudan impian cita-cita bangsa. Ketika kita menentukan kebijakan di perlukan pemikiran yang matang akan akibat dari kebijakan tersebut yang memakan korban terutama rakyat miskin.

Harapannya adalah pemerintah segera mengatasi masalah-masalah yang ada dan menuntaskan sampai keakar-akarnya. Mampu mengatasi konflik dan memikirkan nasib rakyat bukan nasib diri sendiri. Menurut saya pemerintah harus membenahi sistem pendidikan dan membagi rata semua baik fasilitas yang menunjang pendidikan diberbagai daerah. Tidak adanya kesenjangan pendidikan di berbagai daerah. Tegas akan kebijakan dan peraturan yang di buat dengan sanksi-sanksi yang jelas dan tepat.