Senang sekali karena di Seoul sedang musim semi. Musim yang paling aku sukai diantara musim-musim yang lain. Musim yang selalu membuat aku bahagia setiap saat, termasuk hari ini. Karena bosan dirumah kuputuskan untuk berjalan-jalan sebentar di luar rumah. Orang-orang dirumah ku sibuk melakukan aktivitasnya masing-masing. Tidak seperti aku yang tidak memiliki aktivitas sendiri, setelah aku lulus kuliah. Aku belum memutuskan untuk melamar kerja, karena aku ingin menikmati kesendirian ku sebagai pengangguran. Setelah aku benar-benar ingin bekerja aku akan mulai melamar kerja. Setelah beberapa lama aku berjalan dan menghirup udara segar di Seoul, pandanganku tertuju pada sebuah toko kecil yang menjual aneka bunga-bunga yang cantik. Toko itu berada di sebrang jalan dan diapit dua pohon besar disisi kiri dan kanan. Cat dindingnya berwarna pink campur biru menambah kesan keasrian. Pemebelinya pun lumayan ramai. Aku yang bediri di depan toko itu hanya bisa mematung dan tiba-tiba kepalaku berat, penglihatanku mulai gelap dan aku pingsan lagi. Ini bukan kali pertama aku pingsan karena sebelum-sebelumnya aku mengalami hal yang sama, setiap kali aku melewati ataupun melihat toko bunga itu. Seperti ada sesuatu yang tidak kuketahui tentang masa laluku. Setelah kecelakaan yang menimpaku dua bulan yang lalu, aku selalu merasa ada yang hilang dariku. Yaitu masa laluku yang sampai sekarang belum ku ketahui. Aku sudah berusaha mencari tahu tapi hasilnya pun nihil.
“Soo Hee, kau sudah sadar?” Tanya mama yang khawatir dengan keadaan ku. Aku melihat mama yang sedari tadi berada di sampingku.
“tadi kau pingsan, Joo Hwan yang bawa kau kesini.”
“Joo Hwan?”
“ia, Joo Hwan, temanmu. Masa kau lupa?”
“maksud aku Joo Hwan dimana mah?”
“dia sudah pulang, tadinya dia mau menunggu sampai kau sadar, tapi setelah ia menerima telepon dari seseorang ia langsung pamit untuk pergi.”
“bagaimana keadaan mu sekarang? Apa yang terjadi dan mengapa kau bisa pingsan?”
“udah agak mendingan mah, tapi sedikit pusing. Dengan istirahat sedikit juga sudah tidak apa-apa. Hem soal yang itu.. aku juga tidak tau kenapa mah. Tiba-tba saja aku tidak enak badan”
Aku tidak mungkin cerita ke mama soal aku pergi ke toko bunga itu, karena mama sudah melarang aku sebelumnya untuk tidak pergi kesana lagi.
*
Di pagi hari pemandangan kota Seoul begitu indah. Aku semangat untuk menghadapi hari ini apa lagi ini hari Minggu. Kuputuskan untuk kerumah Min Ji. Min Ji adalah teman dekatku. Ia sudah ku anggap sebagai keluarga sendiri. semenjak kecelakaan yang menimpaku waktu lalu dan aku dirawat dirumah sakit dimana Min Ji dirawat disana juga. Min Ji lah teman yang menemani hari-hari ku disana hingga aku tidak bosan di rumah sakit. Min Ji adalah anak yang ceria dan asik. Aku senang punya teman seperti Min Ji. Aku nyaman berteman dengannya dan sampai sekarang kami sering bertemu dan berhubungan baik. Rumah Min Ji cukup jauh dengan rumahku, tapi tidak menjadi halangan bagiku untuk tidak bertemu dengannya, begitu juga dengan Min Ji.
“mah, aku mau pergi kerumah Min Ji!” teriakku. Mama yang sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk kami.
“iaaa.. tapi kau makan dulu, Soo Hee!” teriak mama dari dapur.
“iaaa..” balasku yang sudah siap di ruang makan.
Diruang makan sudah berkumpul semua ada papa, mama, aku dan kak Min Hoo yang siap untuk sarapan pagi. Aku senang kalau lagi kumpul seperti ini dan aku bahagia punya keluarga seperti keluarga ku saat ini. Tapi aku kadang sebel sama kak Min Hoo yang selalu menjahiliku dan nyebelin itu. Seperti pagi ini, tadi pagi ia membangunkanku dengan menyetel lagu keras-keras ke telingaku. Wajar sih ia melakukan itu, karena aku susah banget dibangunin. Tapi kan tetep ajah dia itu nyebelin. Walaupun dia super duper nyebelin aku tetep sayang dengannya.
*
Aku tiba dirumah Min Ji. Rumah Min Ji sangat besar, karena Min Ji anak orang kaya. Orang tuanya saja pengusaha Restoran daging babi yang cukup terkenal di Korea. Walaupun begitu ia tidak pilih-pilih teman dan anaknya tidak sombong. Aku melihat seorang pria keluar dari rumah Min Ji. Saat pria itu keluar dari gerbang rumahnya, aku bersembunyi dibalik tembok besar rumah Min Ji. Aku tidak ingin pria itu melihat ku. Saat aku melihatnya tiba-tiba ada yang aneh dengan perasaan ku. Bukan perasaan cinta, melainkan perasaan yang aneh. aku sendiri saja tidak tahu perasaan apa itu. Aku menerawang akan kejadian di toko bunga itu. Ya benar perasaan yang sama yang aku alami pada saat itu. Kali ini aku tidak pingsan tidak seperti tempo lalu. Tapi otak ku tidak mampu memecahkan masa laluku itu. Ada hubungan apa aku dengan pria itu.
Padahal aku baru melihatnya hari ini dan baru pertama kali. Tapi feelingku merasakan aku seperti sudah kenal dengannya. Dalam lamunanku, aku mendengar seorang gadis memanggil namaku. Ternyata aku sadar dia adalah Min Ji. Gadis cantik dengan rambut panjang terurai, poni didepan, tren rambut Korea yang banyak digandrungi gadis-gadis Korea pada umumnya. Termasuk aku, tapi rambutku tidak sepanjang rambut Min Ji dan rambutku berwarna hitam. Karena aku keturunan Korea-Indonesia. Papaku yang berkebangsaan Indonesia dan kami tinggal di Korea. Setiap setahun sekali keluargaku mengunjungi keluarga papa yang ada di Indonesia. Aku juga bisa berbahasa Indonesia, walau logat Korea ku masih sedikit kental.
Padahal aku baru melihatnya hari ini dan baru pertama kali. Tapi feelingku merasakan aku seperti sudah kenal dengannya. Dalam lamunanku, aku mendengar seorang gadis memanggil namaku. Ternyata aku sadar dia adalah Min Ji. Gadis cantik dengan rambut panjang terurai, poni didepan, tren rambut Korea yang banyak digandrungi gadis-gadis Korea pada umumnya. Termasuk aku, tapi rambutku tidak sepanjang rambut Min Ji dan rambutku berwarna hitam. Karena aku keturunan Korea-Indonesia. Papaku yang berkebangsaan Indonesia dan kami tinggal di Korea. Setiap setahun sekali keluargaku mengunjungi keluarga papa yang ada di Indonesia. Aku juga bisa berbahasa Indonesia, walau logat Korea ku masih sedikit kental.
“Soo Hee!” teriak Min Ji pada ku yang masih melamun.
“hey Soo Hee! Apa yang kau lakukan disana?” Min Ji berusaha untuk menyadarkan ku dari lamunanku. Tanpa sadar ada yang menepuk pundak ku. Aku ingin marah tapi atas alasan apa aku marah, karena ini salah ku sendiri. aku sadar yang menepuk pundakku adalah Min Ji. Setelah aku tahu itu dia aku hanya bisa cengengesan.
“apa yang kau lakukan? Aku memanggilmu? Apa yang kau pikirkan Soo Hee?” aku melihat reaksi Min Ji sangat khawatir padaku. Mungkin ia mengira aku sakit.
“hemm… aku tidak melakukan apa-apa. Sudah lupakan saja!” jawab ku yang akhirnya membuka suara. “sudah jangan pikirkan aku. Aku benar tidak apa-apa. Aku hanya bengong saja tadi. Dan maaf telah membuatmu khawatir”. Lanjut ku sambil berjalan masuk kedalam rumah Min Ji.
“dasar kau!” Min Ji malah memukul pundakku lagi yang mebuatku meringis kesakitan.
*
Kamar Min Ji selalu rapih, tidak seperti aku yang selalu berantakan. Karena Min Ji sangat memperhatikan kebersihan kamarnya dan rajin membersihkannya. Kalau aku tergantung mood saja. Hahahaa
.
.
“Boleh aku bertanya?” sedari tadi aku duduk di kasur empuknya Min Ji
“ada apa denganmu? Sejak kapan kau meminta izin dengan ku untuk menanyakan sesuatu? Bukankah kau selalu bertanya tanpa harus meminta izin dengan ku?” reaksi Min Ji membuatku menjadi salah tingkah saja. Mungkin ia merasa aku menutupi sesuatu darinya.
“hahaaha tidak apa-apa, siapa pria itu?”
“pria? Yang mana?”
“pria yang baru saja keluar dari rumah mu!”
“ooh kak Jae Woon!”
“Jae Woon? Siapa dia?”
“dia kakak sepupu ku! ada apa? Kau tertarik padanya?” saat Min Ji bertanya apa aku tertarik pada Jae Woon, aku hanya diam.
“wajar kau tertarik padanya, karena kak Jae Woon memang tampan dan cool. Banyak gadis-gadis yang suka padanya dan menanyainyan ke padaku,”
“dia memang tampan dan cool, tapi dia terlihat sombong dan dia bukan tipeku.”
“apa yang kau katakan Soo Hee? Baru kali ini aku mendengar ada gadis yang tidak tertarik pada kak Jae Woon. Biasanya setiap gadis-gadis melihat kak Jae Woon, pasti mereka akan tertarik. Tapi kau tidak!” kali ini aku diam. Min Ji melajutkan perkataannya lagi. “andaikan aku bukan sepupunya, mungkin aku akan jatuh cinta padanya.” Kata Min Ji yang mulai menghayal.
“ada-ada saja kau!” aku menjitak kepala Min Ji dengan pelan
“kak Jae Woon sangat baik dan pengertian. waktu aku dirawat dirumah sakit, ia menjengukku dan menceritakan hal-hal yang lucu.”
“ahh tetap saja aku tidak suka padanya!”
“kau kan belum kenal dengannya?”
“entahlah, tapi aku merasa ada sesuatu yang aneh pada pria itu dan tadi aku melihatnya tiba-tiba aku seperti mengingat sesuatu, tapi aku belum bisa menebak apa itu.”
“pasti itu hanya perasaan mu saja! Yah sudah lah jangan bicarakan dia lagi. Mending kita nonton VCD saja!” Min Ji sangat semangat sekali dan menunjukkan VCD barunya.
“apa ini?” Tanya ku sambil menghampiri Min Ji yang sedang memegang VCDnya
“kau ini sangat lucu sekali Kim Soo Hee! Ini VCD! Apa karena sakitmu itu sehingga kau mengalami amnesia?”
“bukan, maksudku judulnya apa?” elakku ku.
“tadi kau tidak menanyakan judulnya? Kau ini kalau bertanya tidak dipikir dulu! Kebiasaan!” makinya pada ku.
”heeheheh maaf!”
Aku dan Min Ji menonton film bersama. Kaset yang dibelinya waktu ia berlibur ke Paris bersama keluarganya.
*
“Soo Hee! Soo Hee!” teriak mama dari lantai bawah
“ada apa mah?” teriak ku dari dalam kamar
“ada Joo Hwan! Cepat kau temui dia!”
“Joo Hwan? Baik mah!”
Setelah mama membertitahu bahwa ada Joo Hwan, aku langsung keluar kamar dan menuruni anak tangga yang ada dirumah ku. Joo Hwan adalah teman SMA ku dulu. Ia yang selalu melindungiku dari anak-anak brandal yang suka menggangguku. Dia juga pernah memukul salah satu anak brandal di sekolah kami. Karena anak itu telah membuatku menagis. Tapi akibatnyanya Joo Hwan di skors selama seminggu. Membuatku merasa bersalah padanya. Dia juga yang membantu aku waktu aku pingsan tempo lalu. Wajahnya yang tampan dan senyumnya yang manis membuat gadis-gadis iri kepadaku setiap kali aku berjalan dengannya. Waktu itu aku sempat jatuh cinta padanya, tapi dia dulu sudah punya kekasih. Jadi aku hanya memendam perasaan itu. Entahlah sekarang!
“Joo Hwan!” sapa ku. Joo Hwan yang sedang duduk diruang tamu dan saat ku panggil ia langsung menoleh.
“Soo Hee!” sapanya. Ia tersenyum kepadaku. Senyumnya yang manis membuat gadis-gadis meleleh setiap kali di senyuminya seperti itu.
“kau baik-baik saja?” tanyanya dan beranjak dari tempat duduknya dan menghampiriku.
“ia aku baik-baik saja. Terimakasih kau telah menolongku waktu itu.”
“oh yang itu, ia sama-sama. Apa kau sibuk?”
“hemm.. kurasa tidak!” kataku sambil mengingat-ingat aktivitas ku hari ini.
“ayo kita pergi keluar!” pintanya.
“kemana?”
“jalan-jalan”
“jalan-jalan kemana?”
“mengelilingi kota ini.”
“kau gila! Kota ini kan luas, apa kita sanggup menelusurinya dalam sehari? Sehari saja tidak cukup untuk mengelilinginya!”
“kau ini sangat bawel! Siapa bilang kalau kita benar-benar ingin mengelilingi kota ini! Maksud ku kita jalan-jalan untuk menghirup udara segar dan melihat pemandangan yang indah.” Jelasnya. Aku yang mulai tidak nyambung jadi malu sendiri.
“jalan kaki?” tanyaku hati-hati.
“kau ini lucu! Apa kau tidak lihat aku membawa mobil?” jawabnya yang mulai kesal dengan kebodohanku. Ia aku melihat mobil Joo Hwan terparkir di halaman depan rumahku. Aku bisa melihat dari jendela. Mobilnya berwarna hitam.
“hehehehe, maaf!” aka hanya bisa nyengir.
“ayo kita pergi!” Joo Hwan menarik tanganku dan membawaku ke mobilnya. Aku pun masuk kedalam mobil setelah ia membukakan pintu mobilnya.
*
Tibalah kami ditaman kota Seoul. Taman ini menjadi kunjungan banyak orang karena taman ini sangat indah dan banyak bunga sakura bermekaran. Aku dan Joo Hwan duduk di salah satu bangku taman dibawah pohon sakura yang ada disana . Orang-orang berlalu lalang dan anak-anak kecil bermain dengan gembira. Ada yang berdagang juga.
“bagaimana kabarnya?” Tanya Joo Hwan yang membuka suara duluan. Karena dari tadi aku dan Joo Hwan hanya diam sepanjang perjalanan kami.
“siapa?” tanyaku sambil memperhatikannya
“kau masih tidak ingat padanya?” kali ini Joo Hwan melihatku.
“siapa yang kau maksud? Ingat dengan siapa?” Tanya ku masih penasaran. Apakah orang yang perlu kuingat itu ada hubungannya dengan masa laluku yang ku lupakan sampai sekarang ini?
“setelah kecelakaaan itu….” Joo Hwan tidak melanjutkan ucapannya yang membuatku semakin penasaran dengan siapa yang Joo Hwan maksud. “kau tidak menemuinya atau dia menemuimu?” lanjutnya lagi.
“siapa sih yang kau maksud?” aku pun mulai kesal pada Joo Hwan karena ia tidak menjelasakan siapa orang yang ia bicarakan dari tadi.
“ternyata kau memang benar-benar tidak ingat padanya, wajar saja kau tidak ingat. Karena memorimu hilang sebagian setelah kau mengalami kecelakaan yang begitu hebat itu.”
“memoriku hilang sebagian?”
“ia benar, waktu kau mengalami kecelakaan itu dan dokter berkata bahwa kau mengalami amnesia ringan. Ingatanmu akan hilang. Biasanya hal yang kau lupakan adalah hal yang paling menyakitkan dalam hidupmu yang pernah kau alami.”
“hal apa yang aku lupakan? Dan siapa yang telah ku lupakan? Apakah orang itu penting dalam hidup ku?”
“Jae Woon!”
“Jae Woon?” sepertinya aku pernah mendengar nama itu, tapi siapa? Ya aku baru ingat dia adalah pria yang kutemui waktu dirumah Min Ji. Batinku.
“apa kau melamun? Hey Soo Hee apa kau mendengarkan ku? Kau baik-baik saja?” Tanya Joo Hwan yang mulai panik karena dari tadi aku tidak menjawab pertanyaannya dan lebih memilih diam. Aku yang sadar dari pikiranku pun tidak mencerna apa yang di ucapkan Joo Hwan dari tadi.
“ada hubungan apa aku dengan pria yang bernama Jae Woon itu?” tanyaku.
“kau dan Jae Woon adalah sepasang kekasih!”
“apa? Kekasih?” aku tidak percaya dengan ucapan Joo Hwan. Mana mungkin aku pacarnya Jae Woon. Batinku.
“kau dan Jae Woon saling mencitai.”
“tidak mungkin!!” teriakku karena setiap aku berusaha mengingat masa laluku, kepalaku sakit!
“Soo Hee kau tidak apa-apa?” Joo Hwan mulai khawatir dengan reaksiku tadi.
“kalau itu benar! kenapa aku melupakannya?”
“kau mengalami kecelakaan setelah kau melihat itu!” jawabnya hati-hati.
“melihat apa?” tanyaku semakin histeris.
“itu juga kau tidak ingat?”
”tidak!”
“apa yang kau pikirkan waktu kau mengendarai mobil setelah melihat kejadian itu?”
Aku berusaha mengingat tapi kepalaku sakit. Aku memegang kepalaku dan penglihatanku gelap. Joo Hwan sangat khawatir dengan keadaan ku. Ia memanggil-manggil nama ku.
*
Untuk kesekian kalinya aku pingsan dan Joon Hwan yang menolongku. Akhirnya aku sadar dari pingsan ku. Aku melihat mama dan Joo Hwan sedang berbicara Entah apa yang mereka bicarakan mungkin saja mereka bicarakanku, tentang mengapa aku pingsan. Setelah aku bangun dan Joo Hwan melihatku, dia dan mama menghampiriku.
“bagaimana keadaanmu?” Tanya Joo Hwan.
“apa ada yang sakit?” Tanya mama sambil memegang kening ku.
Aku tersenyum kepada mereka karena mereka begitu perhatian. Mereka termasuk ke dua orang yang paling penting dalam hidup ku.
“aku baik-baik saja!”
“syukurlah!” Joo Hwan.
“yah sudah kalian mengobrol saja, mama tinngal dulu ya!”
“jangan kau paksakan untuk mengingatnya, memang tidak mudah mengingat hal itu!” kata Joo Hwan yang duduk dikasur setelah melihat mama pergi keluar. Mungkin Joo Hwan tidak ingin ucapan kami didengar oleh mama.
“ia aku mengerti!” aku mengangguk-angguk tanda bahwa aku mengerti.
“bisa kah kau ceritakan kepadaku tentang kejadian sebelum aku mengalami kecelakaan itu terjadi?” Tanya ku dan berharap Joo Hwan mau menceritakan semua pada ku.
“baiklah! Sebelum kau mengalami kecelakaan. Kau mengunjungi toko bunga itu. Disana kau ingin menunjukkan suatu hal kepada Jae Woon, tapi aku tidak tau apa itu. Kau melihat Jae Woon bersama seorang gadis. Mungkin kau berfikir kalau Jae Woon selingkuh. Tapi kenyataannya memang benar, Jae Woon menduakan mu.” Dengan sesekali ia melihat ku.
“apa kau datang bersama ku?” selaku.
“tidak! Maafkan aku, karena aku mengikuti mu.” Joo Hwan melanjutkan kembali ucapannya sesekali menarik nafasnya.” Setelah itu kau menghampiri Jae Woon dan menamparnya terus kau menangis dan mengendarai mobil dalam keadaan menangis.”
“terus apa yang terjadi setelah aku pergi dari tempat itu?”
“aku memukul Jae Woon! Dan setelah itu aku dapat kabar bahwa kau kecelakaan.”
Bayangan itu. Aku mulai sedikit-sedikit mengingatnya, tapi tidak semuanya aku ingat. Kepalaku pusing dan kubaringakan badan ku tempat tidur ku.
“apa benar itu gadis selingkuhan Jae Woon?” tanyaku sambil memegang kepala ku.
“entahlah, setelah aku menerima kabar itu. Aku langsung pergi menuju rumah sakit. Aku tidak menemuinya lagi setelah itu.”
“apa ia menjengukku?”
“ia sempat menjenguk mu dan minta maaf kepada mu. Tapi waktu itu kau sedang koma!”
“tapi kenapa sampai sekarang ia tidak menemui ku? Aku kan sudah sadar sejak lama?” aku sedikit kecewa.
“saat kau koma dia juga yang merawatmu. Setelah kau sadar dan dokter bilang bahwa kau amnesia! Apa kau ingat waktu kau sadar Jae Woon ada disana?” Aku mulai mengingat-ingat dan ternyata benar ada sosok Jae Woon disana.
“kau malah tidak mengenalinya!” lanjut Joo Hwan. Aku memang bodoh! Kenapa aku tidak ingat kepada pacarku sendiri. aku memukul-mukul kepala ku sendiri. Joo Hwan yang melihat kelakuan bodohku dan berusaha menghentikannya. Air mata ku menetes. Aku merasa tidak berguna sudah dua bulan ini ingatanku belum kembali juga. Perasaan ku! Ada apa ini? Rasa rindu yang mendalam tapi kepada siapa? Jae Woon? Ya benar Jae Woon! Perasaan ku tidak bisa di bohongi walaupun aku lupa padanya tapi hati ku tidak demikian. Ku rasakan Joo Hwan memulukku.
*
Aku ingin mencari tau masa laluku bersama Jae Woon. Aku ingin tau apa alasannya Jae Woon berselingkuh! Karena tak sabar. Aku langsung menuju toko bunga itu. Walau aku belum ingat sepenuhnya. Aku beranikan diri untuk mencari tau semuanya.
Aku berjalan memasuki toko itu. Ku lihat wanita separuh baya tersenyum kearahku dan menyambutku dengan pelukan hangatnya.
“nak Soo Hee…” panggilnya, setelah ia melepaskan pelukannya. Aku hanya diam saja. “kenapa kau baru datang? Sudah lama kau tidak mengunjungi tempat ini?” lanjut wanita itu. Aku tidak mengenalnya. Apa dulu aku mengenalnya? Karena aku hilang ingatan aku jadi tidak ingat kepada wanita ini.
“apa yang terjadi pada mu? Apa kau tidak ingat padaku?” tanyanya hati-hati. Aku Cuma bisa diam. “kecelakaan itu? Apa ini yang membuatmu lupa kepadaku?” lanjutnya lagi.
“maafkan aku. Aku memang tidak ingat kepada anda?” kataku yang akhirnya membuka suara.
“sini nak duduk!” perintahnya. Aku duduk di sofa bersama wanita itu.
“apa kau mencari Jae Woon?” tanyanya dan melihat kearahku.
“i..yaa..” jawabku terbata-bata.
“ Soo Hee?” panggil seseorang yang berdiri di depan pintu. Yah siapa lagi kalau bukan Jae Woon. Aku langsung mengenalinya karena sebelumnya aku pernah pertemu denganya. Aku bertemu dengannya saat aku mengunjungi rumah Min Ji. Memang benar pria ini sangat tampan kalau dilihat dari dekat. Berarti aku beruntung dulu sempat memilikinya. Entahlah dengan sekarang, karena ia mengkhianatiku jadi aku tidak bersamanya lagi.
“mengapa kau disini?” tanyanya dengan ekspresi kaget setelah melihatku.
Oh tidak ada apa ini denganku. Kepalaku! Dan ingatanku! Aduh kepala ku sakit! Aku jatuh kelantai sambil memegang kepalaku. Karena ingatanku mulai kembali. Tapi… penglihatanku gelap.
*
Dimana aku ini? Aku di rumah sakit. Ku lihat disana ada mama, Joo Hwan dan… Jae Woon. Aku sekarang sudah ingat semua masa laluku. Rasanya aku ingin melempar semua barang yang ada ditempat ini setiap kali melihat Jae Woon . Aku ingat waktu ia bermesraan dengan gadis itu. Gadis selingkuhannya yang tidak tau diri itu. Dan si brengsek Jae Woon. Ku tahan amarahku. Aku berusaha senyum kepada mereka.
“apa yang terjadi?” Tanya mama khawatir. “apa ada yang sakit? Sebelah mana?” Tanya mama bertubi-tubi karena ia sangat khawatir dengan keadaanku.
Aku memegang tangan mama.
“aku baik-baik saja mah, kalian tidak usah khawatir! Aku sudah tidak apa-apa.” Seskali ku lihat kearah mama dan Joo Hwan.
“benar kau tidak apa-apa?” Tanya Joo Hwan lagi untuk memastikan kalau aku baik-baik saja.
Setelah beberapa hari aku dirumah sakit Jae Woon sering menjengukku. Tapi dia tidak sekalipun membahas masa laluku. aku juga tidak memberitahunya bahwa aku sudah ingat semua.
*
Aku minta Jae Woon untuk menemuiku di suatu tempat. Tempat favorit kami berdua yaitu di danau.
“siapa gadis itu?” Tanya ku kepada Jae Woon ketika kami sedang berjalan-jalan di tepi danau. Ku lihat Jae Woon syok setelah mendengar pertanyaan ku itu.
“oh itu… maaf kan aku, saat kita pacaran, aku sedang menjalin kasih dengannya.” Jelasnya hati-hati.
“apa yang kau katakan? Jadi selama kita pacaran, kau memiliki dua kekasih?” aku sangat syok mendengar penjelasan Jae Woon. Aku tidak percaya ia tega melakukan itu pada ku. Memang ia kira aku gadis apa? Seenaknya saja ia selingkuh dibelakang ku. Aku menapar wajah Jae Woon. Ku lihat ia meringis kesakitan dan wajahnya yang merah.
“maaf kan aku, waktu kau bilang suka padaku…” kata-katanya terhenti. “aku sudah memiliki kekasih” lanjutnya sambil memegang pipinya setelah ku tampar tadi.
“dasar cowok brengsek! Idiot! Tega sekali kau berbuat seperti itu padaku.” Aku memukul-mukul badan Jae Woon. Jae Woon yang ku pukul badannya hanya diam saja dan pasrah ku pukuli. Air mataku keluar. Rasanya sakit sekali hati ini di khianati. Aku memang bodoh. Ini semua salah ku, karena aku yang mengejar-ngejar Jae Woon. Aku sama seperti gadis-gadis yang lain seperti yang diceritakan Min Ji. Wajahnya yang tampan dan cool mebuat gadis-gadis luluh padanya, termasuk aku. Aku sudah dalam pelukan Jae Woon. Aku menangis dalam pelukannya. Setelah aku sadar, aku langsung mendorong badannya. Aku berlari meninggalkannya. Ku dengar Jae Woon berteriak-teriak memanggil namaku. Tapi aku tidak menanggapinya. Aku lari dalam keadaan menangis. Jae Woon tidak bisa mengejarku, karena lariku sangat cepat. Aku sudah berada di jalan raya. Ku stopi bis yang melaju. Aku naik bis itu. Air mataku masih membasahi pipiku. Aku duduk dan melihat keluar jendela. Bayangan itu menari-nari dipikiranku. Sungguh aku tak sanggup harus kehilangan seseorang yang kucintai.. Apalagi seseorang itu hanya mempermainnkan aku.
aku yang sudah sampai rumah, ku lihat Joo Hwan memandangiku khawatir. Aku langsung berlari menuju kamarku, aku tidak menghiraukan Joo Hwan yang dari tadi menanyakan keadaan ku yang sangat menyedihkan itu. Aku menangis sepanjang waktu. Entah sampai berapa lama aku berhenti menangis. Kenyataan itu memang pahit.
*
Paginya saataku bangun tidur, aku bercermin, oh tidak! Matakku bengkak. Ini akibat aku menangis semalaman. Ini semua gara-gara Jae Woon. Aku benci padanya. Ku rasa aku tak sanggup untuk menghadapi hari ini. Tidak ada yang tahu kalau aku menangis. Hanya saja Joo Hwan yang mengetahuinya. Mama, papa, kak Min Hoo dan pembantu dirumahku juga tidak ada yang tahu, karena aku berkurung semalaman di kamar tanpa makan. Harus gimana ini, aku tidak ingin seisi rumah pada tahu kalau aku menangis gara-gara pria yang tak tau diri itu. Yah siapa lagi kalau bukan Jae Woon. Tapi perutku sakit. Aku tidak makan malam kemarin. Aku lapar!
“nona sarapan paginya sudah siap!” teriak pembantuku dari luar kamarku.
“iya bi, tolong antarkan kekamar ku saja!” perintahku.
“baiklah!”
Tidak lama kemudian, sarapan pagi ku sudah diantarkan kekamarku. Aku makan sangat lahap. Yah karena aku tidak makan malam kemarin. Kuhabiskan tanpa sisa.
Sampai kapan aku harus berkurung dikamar. Aku bosan dikamar. Tapi mataku masih bengkak. Ku buka laci lemariku dan apa yang aku temukan disana adalah benda berwarna hitam. Apalagi kalau bukan kacamata. Sebaiknya aku memakai kacamata hitamku hari ini. Ini tampak tidak terlalu buruk bukan?
Ketika aku mengendap-endap keluar. Tiba-tiba kacamatku ada yang mengambilnya. Siapa itu? Kak Minnnn Hoooooo. Teriakku dalam hati. Oh tidak ia meledekku dan membawa pergi kacamataku. Aku berlari-lari mengejar kak Min Hoo. Tapi sulit sekali untuk mengejarnya. Ia menertawaiku dan mengejekku. Dasar kakak tidak punya perasaan. Adiknya yang malang ini selalu menjadi bahan ejekkannya. Mama yang melihat kami seperti kucing dan tikus, memarahi kak Min Hoo. Hahaha. Aku senang sekali kalau kak Min Hoo sedang dimarahi mama. Mama selalu berada dipihakku. Kakak ku yang malang. Tuh kan gara-gara kak Min Hoo semua orang yang ada dirumahku pada tahu kalau aku menangis kemarin.
*
Senang sekali Min Ji berkunjung kerumahku. Min Ji yang sadar dengan penampilan ku hari ini yaitu memakai kacamata hitam, malah menertawaiku. Dasar Min Ji! Tidak tahu apa-apa malah meledekku. Seperti kak Min Hoo saja.
“dalam rangka apa kau memakai kacamata didalam rumah, Kim Soo Hee?” Tanya Min Ji yang masih menertawiku.
“kau ini sama saja seperti kak Min Hoo!” aku cemberut kearah Min Ji.
“kau ini sangat lucu sekali!” Min Ji mencubit pipiku.
Saat kami sudah berada dikamarku. Aku menceritakan semua hubunganku dengan Jae Woon dan apa yang telah ia lakukan kepadaku. Min Ji sangat syok mendengar ceritaku itu. Min Ji saja yang sepupunya tidak tahu kalau Jae Woon berhubungan denganku dan tega melakukan itu pada ku. Min Ji memang teman yang baik. Disaat aku sedih ia menghiburku, seperti saat ini.
*
Setelah berapa lama kejadian di danau itu, Jae Woon tidak lagi menemuiku. Perasaan rindu ini semakin menjadi-jadi. Dan aku tidak tahu ini ditunjukkan kepada siapa. Apakah Jae Woon atau… Joo Hwan. Apa? Joo Hwan? Bagaimana bisa aku memikirkannya? Ada apa denganku? Semudah itukah aku melupakan Jae Woon dan berpaling pada Joo Hwan? Yah Tuhan! Setelah pertemuan waktu itu. Joo Hwan tidak lagi menumuiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar