Senin, 20 April 2015

Invisible Hand

Aku jauh dengan mereka untuk beberapa saat, yang aku rasakan adalah darah perjuangan untuk melalui hari-hari tanpa mereka demi menggapai mimpi bersama. Aku berkorban tentang perasaanku yang akan terus merindukan mereka. Setiap kali aku sendiri, tetes-tetes air mata mendera malam-malamku. Aku sibukkan diri agar malam-malam ku tenang. Seberapa aku berusaha untuk menahannya pasti akan ada suatu malam yang membuat aku terkapar menahan rasa sakit. Seolah tertusuk duri-duri kecil yang terus melekat didalam dada. Aku sembunyikan diri dalam kenyataan yang begitu sulit untuk aku terima. Pikiran ini selalu mengganggu, aku tak menemukan jalan, aku masih tersesat di jalan yang biasa aku lalui. Aku pun masih melihat jejak kakiku sendiri. Aku merasakan keadaan yang berulang-ulang tanpa menghindari aku terus melakukan. Ketika sadar aku melakukannya seolah kaki ini ingin berjalan pada jalan yang sama, dan ketika terjatuh aku pun terjatuh. Aku merasakan sakit. Sakit yang sama hanya saja yang membedakannya adalah aku bisa menahan sakit-sakit itu.

Suatu malam aku melihat diantara mereka menangis dalam malam yang singkat. Aku sembunyi dibalik lemari sehingga dia tidak melihat keberadaanku. Dari kejauhan aku melihat mata nanarnya meluapkan segala perasaan yang tak bisa ditahan, sesekali dia menghapus air matanya dengan tangan lemah pembawa kedamaian itu ketika aku memegang tangan lembutnya. Setiap kali menghapusnya, air yang keluar dari matanya tak mau berhenti. Aku merasakan kepedihannya. Hatiku terus merasakan sakit yang menumpuk bagaikan jarum menarik magnet. Magnet itu aku ibaratkan seperti hati, hati merasakan kesedihan dengan mudah menarik segala hal tentang kesedihan (jarum). dalam keadaan seperti ini aku hanya diam dalam persembunyian. Aku juga menagis dalam batin sehingga air mata terus membasahi pipiku. Aku tak mau mengusapnya, biarkan saja mengalir, aku ingin tau kesedihan yang aku rasakan sampai mana itu mengalir dan terjatuh. Dia tertidur sambil membawa kesedihan kealam mimpinya. Air mata itu terus terjatuh, aku usap air matanya dengan lembut dan aku pergi dalam penyesalan yang tak berujung.

Aku terduduk disuatu tempat yang telah menjadi teman untuk mencurahkan isi hati, bersama cahaya rembulan dan bintang menemani malam-malam panjang. Aku tersender pada tembok kokoh mengeluarkan bau bebatuan tua, tanda bangunan ini sudah lama dibangun. Aku bagaikan bunga layu, ketika aku membutuhkan matahari tetapi matahari hanya menyinari bunga-bunga cantik disekelilingku. Yang membuat aku bertahan hidup adalah keajaibanNya. Atas kuasaNya aku tetap tumbuh namun tak berwarna, tak cantik, tak dilihat, terabaikan. Aku menikmati dan membiarkan kesedihan ini mendera. Sekujur tubuhku terkulai lemas membayangkan masa-masa yang akan aku lalui. Disisi lain bayang-bayang raut wajah dia yang sedang tidur itu, mampu mematahkan hasrat untuk kembali kepada kehidupan yang dulu. Kehidupan yang kukenal hanya canda tawa dari mereka yang pandai menyembunyikan sisi gelap dunia ini. Aku terpedaya oleh keadaan saat itu. Semakin aku tumbuh dan berfikir ternayata dulu adalah sandiwara yang mereka ciptakan untuk diriku yang polos. Aku dibodohi oleh topeng wajah yang mereka buat. Dan sekarang adalah rupa asli dari mereka, membuat aku takut. Aku menginginkan topeng itu! Dimana? Aku ingin memakainya untuk masa-masa yang akan datang agar orang lain tidak mengetahu asli rupaku yang menakutkan ini.

Aku terbangun di pagi hari dari tempat tidur, aku di gendong oleh satunya lagi dari mereka ketika aku tertidur dalam linangan air mata. Aku merasakan bagaiamana dia membawaku. Setelah itu aku tak merasakan apa-apa. Sempat ku buka mata dan kulihat punggung belakangnya dengan langkah gontai. Aku terduduk sambil melihat sekeliling, aku mengenali tempat ini. Yah inilah kamarku. Aku terdiam beberapa saat dan membawa diriku ke cermin. Sungguh menyedihkan dengan mata bengkak di pagi hari. Perasaan yang menyelimuti ku pada malam itu telah hilang di pagi harinya. Seolah aku diberi pencahayaan olehNya. Aku kembali pada diriku, yaitu diriku yang lain. Aku menemukan topeng yang mereka tinggalkan diam-diam aku mengambil dan memakainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar