Trik matahari yang begitu panasanya di Jakarta sudah menjadi hal yang biasa. Bagi penduduk disana berpanas-panasan ketika melakukan aktivitas sudah menjadi santapan sehari-hari. Mereka fine-fine saja dan enjoy melakukan aktivitasnya, walaupun keringat bercucuran. Sekelompok anak SMA yang sedang menunggu giliran lari mengelilingi GBK untuk nilai ujian praktik, sibuk dengan aktivitas lain. Ada yang sedang sekedar berlari-lari kecil, ada yang sibuk dengan HP-nya, ada yang sedang ngobrol disertai tawa dari beberapa anak disana. Duduk di salah satu bangku penonton mengingatkan akan pertandingan Indonesia melawan Malaysia di ajang AFF Cup 2011. Indonesia yang menjadi tuan rumah pada pertandingan itu kalah telak yaitu 1-3. Walaupun kecewa dengan hasil pertandingannya tidak membuat pendukung Indonesia patah semangat untuk mendukung Timnas. Semangat juang yang berkobar-kobar menyatakan kalau bangsa Indonesia satu. Pertandingan yang seru kala itu membumbung rasa sportif dan persatuan dari bangsa Indonesia, tidak sama seperti pendukung Malaysia yang memcoba curang dengan menyorotkan sinar laser ke mata Markus Horison, kipper Indonesia itu, saat bola datang kearah gawangnya. Sering kali seporter Malaysia melakukan perbuatan itu membuat Markus geram dan sempat protes namum haknya tak terpenuhi. Walaupun pada pertandingan itu Indonesia kalah, kalah dengan sportif bukan menang karena curang. Berharap untuk rakyat Indonesia terus tetap mempertahankan rasa Nasionalisme dan untuk pemain Timnas lebih semangat untuk meraih prestasi.
Dari tadi ia melihat ke arah pintu gerbang. Entah siapa yang ia cari, matanya tak sedikitpun beralih pandangan hanya beberapa saat ketika sahabatnya berbicara dengannya, setelah itu kembali menatap ke arah pintu gerbang GBK. Ketika orang-orang berbondong masuk sesekali ia menghebuskan nafas dengan nada kecewa. Itu terus berulang sampai akhirnya ia menyerah dan kembali fokus dengan sahabat-sahabatnya. Lira yang asik ngobrolin gebetanya itu tidak tau kalau Alika, sahabatnya tidak memperhatikan apa yang ia bicarakan. Alika sesekali berdeham dan berkata ia! Terus? Bagaimana! Wah seru dong! Rasa penasaran akan sosok yang ingin ditemui Alika membuat ia terus sesekali melirik ketika lawan bicaranya lengah. Ketika harapan yang dinanti itu tak kunjung tiba, terlintas dalam pikirannya “siapa yang aku suka? hijau atau dia?” ia belum bisa menentukan siapa yang ia suka. Sampai akhirnya ia berkata pada diri sendiri “kalau nanti dia dateng, terus dia pakai sesuatu yang berbaur warna hijau, berarti dia yang aku suka” ketika kalimat itu terlintas dan ia berusaha mencoba mencari seseorang yang akan datang itu. Namun harapannya sia-sia.
“kalian tau nggak sih, gue lagi ngebayangin ketika gue ngeliat kearah pintu gerbang itu tuh seolah-olah terdengar sebuah lagu tentang cinta yang mengalun indah dan pada saat itu juga seseorang yang dinanti sedang menunggu gue di depan sana?!” khayal Alika.
“pengen banget sih!” seru Fara
“gue berharap dia dateng!” harap Alika
“siapa Lik? Si hijau? Kan dia adik kelas kita. Mana mungkin dia dateng ini kan cuman buat kelas tiga nya doang! Gimana sih!” sahut Dian
“tau nih! Miss Khayal kita yang satu ini mulai ngada-ngada!” balas Lira
“oh iyaya! Hehehe”
Alika ingat sesuatu bahwa yang tau kalau Alika juga suka seseorang yang satu angkatan dengannya itu cuman Fara dan Mela. Fara yang tau maksud Alika hanya mengkode dengan lewat matanya. Mereka hanya tau kalau Alika suka dengan si Hijau. Hijau itu nama samaran gebetan Alika. Di kelompok mereka setiap salah satu dari mereka punya gebetan, mereka harus punya nama samaran masing-masing gebetannya. Supaya ketika mereka ngomongin gebetan mereka dimanapun bisa leluasa dan orang lain tidak ada yang tau. Kenapa bisa dinamain si Hijau? karena gebetan Alika suka warna hijau. Dibalik itu semua Alika masih bingung dengan perasaannya. Ia bingung siapa yang ia suka padahal ada satu orang lagi yang membuat harinya deg-degan setiap bertemu dan bertatap muka dengannya. Nama samaran seseorang itu adalah Ehri. Awalanya Alika bingung untuk namain si Ehri. Dan yang namain Ehri itu adalah Fara. Fara memang sahabat terbaik Alika.
“eh Syasa mana?” tanya Alika mengalihkan pembicaraan.
“nggak tau nih, tadi gue udah sms dia. Kayanya masih dijalan.” Balas Dian
“kalau sih Mela sama Risma?”
“mereka kan lagi foto BTS, kayanya masih belom kelar deh!” jawab Fara
“nanti mereka juga dateng!” seru Lira
“eh hampir ajah ketauan!” bisik Fara ke Alika.
“hehehe iya, maaf deh!” jawab Alika cengengesan.
“untungnya mereka taunya elo suka sama Hijau, bukan sama Ehri!”
“yaelah gue ajah masih bingung sukanya sama siapa?!”
“itu Syasa!” teriak Lira antusias memberitahu.
“sama siapa tuh?” tanya Dian
“kayanya sama adiknya deh!” jawab Alika
“elo semua udah pada lari?” tanya Syasa setibanya
“udah dong! Cepet gih lari!” jawab Lira
“iyeiye!” sambil tergesa-gesa Syasa lari secapat mungkin.
Seseorang yang dtunggu Alika adalah seseorang yang sama yang ingin ditemui Dian. Karena mereka menyukai pria yang sama. Alika dulu yang menyukai Ehri. Karena sudah setahun yang lalu hati Alika pindah ke orang lain dan melupakan Ehri. Tiba-tiba Dian menyatakan bahwa dia suka sama Ehri. Alika yang mendengar itu biasa saja. karena cintanya ke Ehri sudah pudar. Tetapi beberapa waktu ini, ia diingatkan kembali akan sosok pria yang ia sukai dulu. Alika mencoba untuk tidak terlalu larut dengan perasaannya, kalau seandainya ia tidak bisa mengendalikan perasaannya bisa-bisa persahabatanya dengan Dian hancur. Alika yang tau risiko itu hanya bisa memendam dan diam. Alika memberitahu ke dua orang sahabatnya saja yaitu Fara dan Mela. Awalnya Fara dan Mela tidak bisa terima dengan pernyataan Alika. Kenapa bisa menyukai seseorang yang juga disukai sahabatnya, namun karena mereka mengerti posisi Alika akhirnya mereka menerima. Dengan syarat jangan sampai Dian tau. Seharusnya Alika tidak seperti ini. Dalam persahabatan tidak ada namanya rahasia. Sudah tiga tahun mereka bersahabat semenjak mereka masuk dan diterima disekolah ini. Sudah begitu banyak hal-hal seru yang mereka lalui, mulai dari yang memalukan sampai yang menegangkan. Entah bagaimana kalau masalah ini bisa diketahui Dian. Bayangkan tiga tahun persahabatan dijalani bakalan hancur hanya karena cowok.
Ya tuhan, aku tidak ingin seperti ini. Hapuskan rasa cinta ini. Lebih baik tidak punya rasa cinta dari pada harus kehilangan sahabat. doa Alika didalam hati ketika perasaannya menjadi-jadi terhadap Ehri.
Tiba-tiba senyum Alika menghiasi wajah ovalnya itu. Bagaimana tidak senang seseorang yang ditunggunya kurang lebih dua jam itu, akhirnya datang juga. Tapi dibalik senyumnya ada rasa kecewa karena cowok itu tidak mengenakan sesuatu yang berwarna hijau. Cowok itu meneganakan baju kaos hitam, jeans hitam, sepatu hitam, tas hitam dan jaket hitam yang di taruh dipundaknya. Itu menandakan bahwa bukan dia yanng ia sukai saat ini. Cowok yang disebut Ehri itu menghampiri teman-teman lainnya tak terkecuali Alika yang berada disana. Disisi lain senyum Dian juga menhiasi wajahnya. Siapa lagi kalu bukan cowok itu. Cowok yang juga disukainya itu datang dan menyapanya. Alika tidak merasa cemburu setiap Ehri lebih banyak mengobrol dengan Dian dari padanya.
“tuh si Mela sama Risma!” kata Fara
“bagaimana foto-fotonya?” tanya Syasa
“wah seru kok! Sangat melelahkan ya!” jawab Risma
“ciecie!” seru Alika
“elo semua udah pada lari?” tanya Risma
“udah dari tadi! Tinggal nunggu elo berdua doang!” jawab Fara
“hehehe kelamaan ya?”
“iyaaaaaaaaaa!” teriak semuanya
“cepet gih lari! Yang telat larinya tigak kali puteran! Untung kita cuman sekali doang ye!” kata Fara pamer
“iya dah yang cuman sekali puteran doang!” balas Mela bete.
“yaudah gue lari dulu. Tungguin yeee!” kata Risma yang langsung berlari kearah Bung yang sedang memandu murid-muridnya yang akan mulai berlari.
Terlibat dalam kisah cinta mereka yang rumit adalah suatu hal yang menyenangkan bagiku. Mendengar kisah cinta mereka, melihat tingkah laku mereka yang aneh, kegalauan yang tidak ada habisnya. Setiap waktu, mereka bercerita tentang cinta, cinta dan cinta. Kebahagiaan, gelak tawa, senyuman menghiasi hidup mereka. Sebagai sahabat yang baik, aku tentu senang dengan semua itu. Cinta itu memang indah. Membuat siapapun yang merasakan cinta melayang-layang, Seolah-olah telah menemukan kehidupan yang kekal. Bagaimana dengan diriku? Yang mencintai gebetan sahabatnya sendiri. Ingin sekali aku keluar dari diriku yang bodoh. Aku adalah orang yang sulit mendapatkan cinta. Sekali mendapatkannya malah salah pilih. Mencintai gebetan sahabatnya sendiri adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Aku hanya bisa pasrah dengan perasaanku saat ini. Kami bersahabat sejak kelas satu SMA sampai sekarang. Aku sekarang kelas tiga SMA. Kami tujuh orang sahabat yang memiliki sifat berbeda dan tingkah laku yang unik-unik. Meskipun banyak perbedaan yang ditonjolkan dari kami, tapi kami tetap kompak dalam segala hal. Pikir Alika dalam hati sambil tersenyum melihat sahabat-sahabatnya.
“eh bentar, minum dong! Gila capek banget!” kata Risma dengan suara tersengal-sengal.
“nih minumnnya!” sodor Fara
“mauuuuuuu!” pinta Mela dengan memasang wajah melasnya. Wajah melas Mela paling nggak tahan. Membuat orang-orang yang melihat akan iba setiap kali melihatnya.
“yaahh habis!” melas Risma
“yaudah nggak apaapa!” jawab Fara pasrah.
“eh istirahat dulu yaaa! Capek!” kata Mela yang masih memasang tampang melasnya.
“iyaaa!” teriak Dian
“guys pulang dulu ya, gue udah ditunggu bokap! Soalnya habis ini gue mau kerumah tante gue!” pamit Syasa yang sudah punya rencana.
“okeee! Hati-hati Sya!” balas Alika
“iyaa hati-hati” balas semuanya.
Beberapa saat kepergian Syasa. Anak-anak ini masih saja duduk dan mengobrol.
“guys pulang yukkk!” pinta Lira
“yaudah ayokkk!” sahut Dian
Beberapa anak itu mulai mengemasi barang yang mereka bawa sambil mengobrol. Siap-siap untuk pulang, dilangkahkan kaki mereka beranjak dari kursi penonton di GBK itu. Ketika sosok cowok yang sedang berlari melewati mereka, tanpa seketika Alika menoleh kearah Ehri setelah Dian menyebut namanya. Dan membuat hatinya meloncat-loncat kegirangan karena Ehri mengenakan celana training berwarna hijau. Alika pada saat itu hanya bisa tersenyum dan tertawa tanpa menghiraukan sahabat-sahabatnya yang menatapnya aneh. Sahabatnya mengira Alika seperti itu teringat dengan si Hijau. Padahal bukan itu, ternyata kalimat yang sempat dipikirkan itu terbukti bahwa Ehri lah yang ia cintai saat ini. Yang ia lakukan hanya untuk memastikan perasaannya. Ternyata Allah memberi petunjuk. Lekas Alika memberitahu Fara yang berada disampingnya dengan nazarnya itu. Itu termasuk nazar bukan sih? Entahlah!
Tanpa sepengetahuan sahabatnya, Alika senyum-senyum sendiri mengingat kejadian itu. Padahal Ehri datang mengenakan pakaian berwarna hitam bagaimana bisa berubah menjai hijau. Apa ini kebetulan? Bukankah dalam hidup ini tidak ada namanya yang kebetulan? Ini lah yang dinamakan TAKDIR. Ini membuktikan bahwa Alika benar-benar menyukai Ehri.
#
Kamar yang tak terlalu besar itu tampak rapih dan bersih, terbukti pemilik kamar ini merawatnya dengan baik. Tak ada debu sedikitpun termasuk dekorasi kamar yang indah. Penuh poster-poster para rider MotoGp menghiasi disetiap dinding kamar. Gadis yang tengah berbaring dikasurnya sambil mendengar alunan musik dari Big Bang-Haru Haru. Boyband asal Korea Selatan yang terdiri dari lima pria ganteng dan keren termasuk idola Alika.
Pergi!
Akhirnya aku sadari aku bukan apa-apa tanpamu
Aku sangat bersalah maafkan aku
Seperti pasang, hatiku hancur
Seperti angin, hatiku berguncang
Seperti asap, cintaku memudar
Ini tak pernah terhapus seperti tatto
Aku mendesah dan tanah berguncang
Hatiku penuh debu (katakan selamat tinggal)
...............
Lagu yang menggambarkan suasana hati Alika membuatnya memikirkan apa yang terjadi seandainya orang yang ia cintai mengetahui perasaanya dan terlebih lagi dengan Dian.
Alika yang teringat kala itu..........
Segerombolan anak SMA yang berbaris rapih seperti sedang mengantri untuk medapatkan sesuatu, alunan musik islami terdengar merdu dan indah didengar. Mendapatkan sebuah kata maaf dari hati tanpa harus terlontar di mulut setiap anak, dapat mewakilinya dengan berjabat tangan atau lebih tepatnya bersalam-salaman. Alika dan sahabatnya yang berbaris sambil menyodorkan kedua tangan untuk bersalaman kala itu menanti untuk bisa bersalaman dengan seseorang yang ia sukai seperti Syasa mengharapkan bersalaman dengan Pikky, Lira dengan Rotom. Ketika yang diharapkan itu datang begitu senangnya mereka bisa bersalaman dengan gebetan masing-masing. Alika hanya bisa tersenyum kepada semua orang yang ia salami. Ketika sosok cowok yang tak begitu dikenalnya datang untuk bersalaman, di sodorkan tangannya kearah cowok itu dan yang terjadi adalah si cowok itu tidak menyodorkan tangannya ke Alika. Saat itu Alika berpikir mungkin si cowok itu menjaga kehormatanya untuk tidak bersentuhan dengan cewek karena bukan muhrimnya. Alika kala itu menanggapi santai saja. tetapi setelah beberapa detik cowok itu melalui Alika dan bersalaman dengan cewek lain disamping Alika membuatnya memikirkan apa maksud si cowok itu. Alika sedikit marah karena cuman cowok itu saja yang tidak mau bersalaman denganya. Padahal si cowok itu jelas-jelas melihatnya. “apa banget deh tuh cowok! Nggak mau salaman sama gue! Emang begitu hinanya sampai dia nggak mau salaman sama gue! Ihhh” dumel Alika.
“Kenapa Lik? Dumel sendiri?” tanya Syasa yang menatap heran Alika.
“nggak apa-apa kok, hehehe” dusta Alika.
“gimana perasaan elo? Udah salaman sama Pikky?” tanya Alika
“gillaa, gue deg-degan banget pas tangan gue sama dia bersentuhan, hahahha.”
“ah elo mah keenakan!”
Setelah usai acara tersebut, para siswa masuk kekelas masing-masing. Alika yang masih memikirkan kejadian tadi hanya diam dalam pikirannya ketika para sahabatnya menceritakan salaman tadi.
“Lik elo kenapa, kok lesu deh?” tanya Mela yang berdiri dihadapannya.
“Gue nggak apa-apa Mel!”
“tau nih nggak semangat gitu sih!” seru Risma.
“bener gua nggak apa-apa, cuman pusing doang karena panas-panasan tadi” jawab Alika meyakinkan.
“eh guys kekelas yuk, bel udah bunyi tuh!” perintah Lira setelah beberapa saat bel berbunyi.
Mereka balik kekelas masing-masing Alika yang berbeda kelas dengan sahabatnya pun berpisah karena yang sekelas dengan Alika saat itu hanya Dian.
Kembali ke masa kini!
Dalam pikirannya masih saja terekam disetiap adegan kejadian itu. Cowok itu adalah Ehri. Nama samaran yang diberikan Alika untuknya. Cowok yang bikin hari-harinya saat ini berdebar setiap kali melihatnya. Cowok yang selalu dipikirkannya sampai saat ini.
Alika yang masih mendengar alunan musik dari Big Bang menghela napas, kejadian setahun yang lalu awal dari perkenalannya. Seandainya tidak ada kejadian itu mungkin Alika tidak tau siapa nama cowok itu dan tidak akan mencari tau secara diam-diam. Walaupun pada setahun lalu tentang perasaanya belum ada rasa ketertarikan, yang ada hanya rasa penasaran. Tapi ia bersyukur bisa mengenalnya.
Kasih, aku menangis, menangis
Kau segalanya bagiku, katakan selamat tinggal
Jika kita bertemu secara kebetulan satu sama lain
Berpura-puralah kau tak melihatku dan tetaplah pergi
Jika kenangan lama tetap terpikirkan
Aku akan pergi melihatmu secara diam-diam
Selalu berbahagia dengannya, jadi aku takkan memikirkan apapun lagi
Kau kan terus begitu jadi ini tidak saja penyesalan kecil dalam diriku
Seperti langit putih dan seperti birunya awan
Ya, hanya tersenyum seperti tak ada apapun yang salah
.....................................
Alika benar-benar dalam kebingungan apa yang harus ia lakukan dengan perasaanya. Ia takut kalau seandainya ia tidak bisa menahan perasaan ia khawatir akan perbuatan konyol yang pernah ia lakukan seperti waktu ia SMP. Ketika SMP Alika suka sama cowok yang namanya Resta. Cowok yang jago gambar dan manis itu membuat harinya bahagia. Sampai akhirnya ia menembak cowok itu secara langsung. Cowok yang ditembak Alika menolaknya secara halus. Alika yang tidak bisa terima itu lari meniggalkan cowok itu sambil menangis. Selama setahun ia benar-benar merasakan dilema cinta. Semenjak itu ia mulai menutup hatinya untuk siapapun. Sampai akhirnya Ehri datang membuka hatinya. Tapi ia tau resiko terbesar kalau ia mencintai Ehri. Ia akan menghancurkan sahabatnya sendiri. Ia selalu berdoa agar rasa cinta ini dihilangkan saja. ia rela akan ngelakuin apa saja untuk sahabatnya demi mempertahankan persahabatannya. Orang bilang kalau kita mencintai seseorang itu tidak dosa. Tapi bagaimana dengan kisah cinta Alika? Alika tidak mau menyakiti Dian yang kedua kalinya. Dimana yang pertama Lira mengambil seseorang yang dicintai Dian yang membuat persahabatan kami hampir hancur. Untungnya kami semua bisa menyelesaikan masalah itu dengan baik. Tetapi disaat Dian sudah move on, dan menemukan cinta yang lain, ternyata Alika juga mencintai seseorang yang dicintai Dian.
*
“Lik, ngapain elo disini?” tanya seseorang yang berada dibelakangnya. Sontak Alika menoleh kebelakang dan melihat cowok yang dicintainya itu. Siapa lagi kalau bukan Muhammad Erik Ramadan. Cowok yang sering di sebut sebagai Ehri oleh Alika. Alika yang berada di suatu makam, saat melihatnya ia tersenyum tipis.
“gue berziarah kemakam temen gue, namanya Gerald Firnando.” Jawab Alika berkaca-kaca. Ia teringat akan kenangannya dengan Gerald.
“elo sendiri ngapain disini?”
“hmmm gue juga lagi ziarah ke makam temen gue” balas Erik.
“dimana makam nya?”
“agak sedikit jauh dari sini sih, yuadah gue kesana dulu ya!”
“oke!”
Tanpa disadari pertemuan Erik dan Alika lebih banyak dihabiskan diluar Sekolah. Kalau disekolah Alika dan Erik tidak terlalu dekat. Hanya saja sesekali kalau ada keperluan. Bagaimana tidak karena rumah mereka dikomplek yang sama.
Tanpa disadari pertemuan Erik dan Alika lebih banyak dihabiskan diluar Sekolah. Kalau disekolah Alika dan Erik tidak terlalu dekat. Hanya saja sesekali kalau ada keperluan. Bagaimana tidak karena rumah mereka dikomplek yang sama.
Alika mulai membacakan doa-doa untuk keselamatan Gerald. Diambilnya buku kecil dari dalam tasnya dan mulai membaca. Ia terlihat khusyuk.
Setelah membaca doa, Alika langsung menuju kearah Erik. Erik yang masih berada ditempat itu.
“elo udah selesai? Dia siapa?” tanya Alika yang kini berada disamping Erik.
“dia, Ria Andini. Dia seseorang yang berarti dihidup gue.”
“apa dia cewek yang elo suka?” tanya Alika hati-hati
“dia pacar gue, dia meninggal dua tahun yang lalu karena suatu penyakit.”
“gue cukup prihatin tentang itu” kata Alika sambil mengusap pundak Erik.
“iya terimakasih. Lu pulang naik apa?”
“gue tadi kesini naik bis. Yah pulang juga naik bis lah.”
“yaudah kita bareng, lagian kan rumah kita deket.”
“gue ajah nggak tau rumah elo dimana!”
“hahha yaiyalah, elo kan nggak pernah kerumah gue!”
“oh ya bener, hahahhaha”
Alika dan Erik pulang bersama setelah mereka ziarah. Erik yang kala itu mengendarai motornya.
“elo laper nggak Lik?” tanya Erik yang sedang mengendarai motor. Suaranya yang keras mampu mengalahkan kebisingan kendaraan yang ada di jalan raya. Alika bisa mendengar suara Erik dibalik helmnya.
“gue nggak laper kok!” tolaknya halus.
“ayolah makan dulu! Gue belom makan nih! Atau nggak gue traktir deh!” tawarnya.
Ah lumayan ditraktir! Jarang-jarang ditraktir gebetan hahahaha pikir Alika.
Ah lumayan ditraktir! Jarang-jarang ditraktir gebetan hahahaha pikir Alika.
“oke deh! Kalo ditraktir gue mau!” katanya setuju.
“ah dasar elo!”
Mereka makan di kedai kecil di pinggir jalan. Kedai yang bersih dan wangi itu yang mereka pilih. Disana banyak menu yang enak-enak. Seperti pecel lele, ayam bakar, udang saus tiram, ayam penyet dan lain-lain.
“mau pesan apa Mas dan Mbak?” tanya pelayan di kedai itu. Sambil menyodorkan menu di selembar kertas yang di press.
“saya pesen ayam bakar ajah deh mbak. Kalo minumnya teh ajah!” pesan Erik dan setelah itu menatap Alika. Alika yang dlihatnya seperti itu merasa jantungnya berdebar lebih kencang melebihi kecepatan bedug di Masjid.
“saya pesen pecel lele, minumnya juga teh manis! Makasih” pesannya ramah.
“tunggu sebentar ya!” perintah pelayan ramah itu.
Untung saja Alika mampu mengendalikan perasaannya terhadap Erik. Debaran jantungnya setiap Erik menatap Alika mampu diatasinya sehinga Erik tidak tau kalau Alika mempunyai perasaan terhadapnya.
*
Kala itu jam menunjukan jam tiga sore. Jam-jamnya anak sekolah pulang. Tapi beberapa anak masih saja berada disekolah. Termasuk gengnya Alika. Dilangkahkan kakinya keluar kelas dan menuju kelas 12 ipa 2. Mereka biasa berkumpul disana. Lir dan Syasa asik dengan obrolannya. Mela dan Risma asik dengan handphonenya.
“Dian elo kenapa?” tanya Alika yang sedang menatap Dian dengan bingung. Tak biasanya ia menunjukan ekspresi itu. Entah ekspresi apa itu. Seperti sedikit kecewa.
“ya elo kenapa? Sakit?” sembur Fara yang berada disamping Alika.!
“gue benci banget sama diri gue sendiri” jawab Dian dengan nada kecewa.
“kenapa elo harus benci? Apa yang udah elo lakuin?” tanya Alika.
“gue nggak bisa nahan perasaan gue ke Abang, rasanya gue pengen bilang ajah ke dia kalau gue cinta sama dia. Semakin gue pendem perasaan ini... semakin nggak kuat” jelas Dian dengan apa yang ia rasakan sekarang.
“gue juga bingung sih. Tapi nanti dia ngejauh kalau sampe elo bilang ke dia” saran Alika.
“itu yang gue takutin. Gue emang deket sama Abang di kelas, tapi kedekatan gue itu membuat gue nggak bisa nahan ini, Lik!” lirih Dian yang matanya berkaca-kaca menatap Alika dan sesekali kearah Fara.
“gue tau perasaan elo. Tapi gue harap elo jangan sampe bilang ke dia. Karena itu hal yang bodoh kalau cewek yang ngaku duluan” kata Fara yang memberi pendapat.
“gue juga nggak tau harus bagaimana, itu semua tergantung elo. Kalau elo ngaku ke Abang itu yang terbaik, yaudah lu lakuin. Tapi kalau itu nggak, mending nggak usah.” Pendapat Alika.
Beberapa saat mereka diam.
Apa yang terjadi dengan Alika? Ia tak bisa berbuat banyak dengan keadaan Dian. Semakin kita mengenal orang yang kita cinta secara diam-diam semakin dalam cinta ini dan mungkin hal-hal konyol akan terjadi. Seperti Fara yang menyatakan cintanya kepada Merah dan setelah itu mereka tidak saling menyapa dikelas. Alika juga pernah mengalami itu. Dia juga pernah menyatakan cintanya kepada Resta dan yang terjadi setelah itu sama seperti yang dialami Fara. Olehsebab itu Alika berharap agar Dian tidak mengalami hal sama dengannya.
Gue saat ini masih bisa nahan perasaan gue ke Erik. Apa gue bakal kuat dengan perasaan gue ini? Entahlah! Andai perasaan ini tak pernah ada...
Gue sadar satu hal, gue nggak mungkin makan temen gue sendiri hanya karena cinta. Setelah Dian bilang gitu ke gue, ternyata dia yang lebih butuh Erik. Bukan gue. Gue masih bisa nahan, tapi Dian? Mulai sekarang gue harus berhenti. Berhenti mencintai Erik. Yahh itu cara terbaik demi persahabatan. Walau sakit, demi sahabat gue korbanin. Termasuk CINTA.
*THE END*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar