Senin, 20 April 2015

Kak Ardian

Kring… kring... kring… terdengar suara telpon rumahku berdering, yang berada di sudut rumahku dekat lemari berisi penyimpanan gelas-gelas antik koleksi mamaku. Waktu menunjukkan hampir tengah malam. Orang-orang dirumahku sudah tidur semua. Cuman aku yang masih terjaga. Kamarku yang berada dilantai atas dan letak telpon rumahku yang berada dilantai bawah, mengharuskan aku untuk turun kebawah dan ingin memaki seseorang yang menelpon orang larut malam. Kumulai menuruni anak tangga rumahku dengan langkah gontai. Setelah aku berada dilantai bawah hawa yang tadinya biasa saja menjadi sedikit dingin dan menyeramkan, ditambah lagi kedaan rumah yang remang-remang, sepi dan sunyi. Dering telpon itu semakin menjadi-jadi yang mengharuskan siapa saja untuk menerima telpon dari seseorang misterius itu.

Bulu kudukku mulai berdiri, seolah-olah dengan keadaan rumah yang gelap aku menangkap bayangan hitam yang ternyata itu hanya perabot rumahku saja. Aku mulai mencari-cari sakelar. Setelah kuhidupkan lampu, aku berjalan menuju sumber suara telpon yang masih berteriak-teriak untuk diangkat. Setelah aku mendekat, suara dering itu berhenti. Mungkin karena aku lama mengangkatnya. Atau saja seseorang yang menelepon tengah malam itu menyerah menunggu seseorang membalas telponnya. Aku menunggu beberapa menit siapa tau saja seseorang itu menelepon lagi. Tapi kenyataannya tidak. Karena kesal aku menunggu siapa orang yang berani-beraninya mengganggu tidur malamku, ku putuskan untuk kembali kekamar. Tidak sampai beberapa langkah dering telpon rumahku berbunyi lagi. Aku mulai mengangkatnya.

“halooo…” kataku. Tapi tidak ada jawaban sedikitpun atau bunyi apapun. Hawa dingin, sunyi, sepi dan mencengkram kembali aku alami. Aku tidak bisa berfikir jernih karena tiba-tiba lampu dirumahku mati. Aku hanya diam sambil memegang gagang telpon. Kurasakan ada tangan yang memegang pundakku, dan sekarang tangan itu mulai menjalar ke leherku. Aku dicekiknya. Aku berusaha untuk melepasnya namun tidak bisa. Cekikannya semakin kuat dan aku mulai tidak bisa bernafas. Nafas ku mulai tidak teratur.

Dannnnn….. itu hanya mimpi. Aku mimpi buruk. Kulihat jam masih jam setengah satu.” Oh my God…” sebutku. Aku kembali tidur setelah aku terjaga. Tapi… mimpi itu seolah-olah nyata sampai aku tidak bisa tidur. Ku ambil selimut dan menutupi semua tubuhku. Tunggu dulu! Suara apa itu? Pikir ku. Suara itu… yah benar. Suara dering telpon rumah ku. Tapi, bagaimana bisa mimpi ku tadi menjadi kenyataan? Apakah aku akan dicekik setelah menerima telpon itu? Atau aku akan bertemu hantu? Tidak, tidak, aku tidak akan mengangkatnya. Suara itu semakin keras dan menyeramkan walau aku berada di lantai atas tapi tetap saja suaranya menyeramkan.

Aku tutupi tubuhku dengan selimut dan menutup kupingku agar aku tak mendengar. Ada suara lagi dirumahku sepertinya aku kenal. Yah aku mengenalnya. Itu dering ponselku. Ponselku berada di meja samping tempat tidurku. Aku mulai mengintip dari balik selimut dan melihat ponselku yang menari-nari dimeja. Aku mengambilnya dan melihat nama yang tertera di layar ponsel ku. NO NUMBER yang tertera disana. Siapa yang menelponku selarut ini? Apa si penelpon misterius itu seseorang yang sama yang baru saja menelpon ke nomor telpon rumahku? Jantungku mulai tidak stabil. Aku pencet tombol answer yang tertera dilayar ponselku. Ku dengar seseorang disebrang sana menghembuskan nafas, aku hanya diam saja tanpa bersuara.

“happy birthday Clara !”apa? Siapa yang ulang tahun? Aku? Benarkah? Ia benar aku berulang tahun. Aku lupa kalau hari ini adalah ulang tahunku yang ke-22. Tapi siapa dia? Sipenelpon itu?

“selamat ulang tahun adikku yang manja, Clara! Kenapa kamu diam? Apa kamu lupa padaku? Kakakmu yang ganteng ini?” balasnya lagi karena dari tadi aku tidak bersuara. apa? Kak Ardian? Ia benar itu dia. Kak Ardian adalah kakak angkatku yang kini tinggal di Singapur. Tapi sudah lama ia tidak menghubungiku kurang lebih empat tahun. Mungkin karena ia sibuk. Sibuk kuliah, tentu saja. Karena kak Ardian mendapat beasiswa kuliah di Singapur.

“haloo? Kamu kenapa? Ada sesuatu yang terjadi disana? Dari tadi kamu diam saja?” Tanya kak Ardian sekian kalinya karena aku tidak menjawab ucapannya.

“kak Ardian?” jawabku kaget
“iya ini aku?”
“kak kenapa malam-malam nelpon? Bikin aku takut ajah, kakak juga yang nelpon ke telpon rumah?”
“hahaha kamu takut ya malem-malem di telpon orang? Untung kakak yang telpon kalau hantu gimana? Hahaha” balas kak Ardian yang mulai menakut-nakuti.
“ihhh… kakak, kalau aku jantungan gimana? Apalagi aku dikamar sendiri!” keluh ku kepadanya.
“adikku yang satu ini memang penakut!”
“kak, kapan pulang?”

“pulang? Hemm gimana ya? Kamu kangen sama aku ya?”
“kangen? Tentulah, berapa lama kau meninggalkan kami disini? Apa sedikitpun kau tidak rindu pada kami?”
“maafkan aku tidak bisa menghubungi kalian, bukan karena aku tak rindu, karena tugas kuliah ku disini sangat padat sampai-sampai mengangkat telpon saja tidak bisa” jelas ka Adrian. Suaranya yang lembut membuat aku semakin merindukannya.
“kapan pulang?”
“minggu depan aku akan ke Jakarta!”
“benarkah? Aku harap secepatnya kau pulang, betapa kami merindukanmu kak!”

Setelah percakapan ku dengan kak Ardian, aku akhirnya bisa tidur nyenyak

*

Aku dan keluargaku sedang berada dibandara Soekarno-Hatta, kami sedang menunggu seseorang yang sudah lama tak kami temui. Dialah kak Ardian. Kakak yang sangat kurindukan. dialah cinta pertamaku. Awalnya aku tidak menyangka kenapa aku bisa jatuh cinta padanya. Aku dan kak Ardian tidak pernah menganggap kami itu adik-kakak, kami menjalani hubungan sebagai kekasih. Kami pacaran diam-diam, sampai akhirnya mama tau hubungan kami. Mama yang syok dengan hal itu, mengharuskan kami untuk mengakhiri hubungan kami. Walau aku dan kak Ardian itu tidak sedarah, mama tetap menentang hubungan kami. Begitu beratnya menanggung beban ini, berbagai cara yang kulakukan untuk melupakan perasaan itu, tapi selalu gagal. Sampai akhirnya mama mengirim kak Ardian ke Singapur dan ia juga mendapat beasiswa disana. Sudah 5 tahun ini kami tidak bertemu. Awalnya aku sangat berat dengan keputusan mama, tapi aku harus bisa melupakan perasaan ku kepada kak Ardian. Pertemuan ini adalah pertemuan pertamaku setelah kepergian kak Ardian 5 tahun lalu. Untuk perasaan ku saat ini… aku sungguh masih mencintainya. Demi mama kukorbankan cintaku. Aku tidak tau apa kak Ardian masih mencintaiku atau tidak. Aku harap tidak. Aku harap kak Ardian bisa menerimaku sebagai adiknya, bukan sebagai kekasihnya. Biarlah aku yang sendiri merasakannya.

Seorang pria yang tak asing bagiku melambai kearah kami. Dia kak Ardian. Senyumnya yang menghiasi wajahnya sama seperti dulu tak ada yang berubah hanya style rambutnya saja yang berubah. Aku senang bisa bertemu dengannya. Dia memeluk mama dan aku. Aku berusaha menahan perasaan ini. Dalam perjalanan kami kerumah, kami tak sedikitpun menyingung kejadian 5 tahun lalu. Berat untuk kami mengingat kejadian 5 tahun lalu. Membuat aku harus berpisah dengannya.

Aku rasa kak Ardian benar-benar sudah melupakan kejadian itu, dia seperti kakak yang kuinginkan. Kejadian itu kesalahan aku dan kak Ardian. Entah awalnya dari mana sampai-sampai kami memiliki perasaan yang sama. Mama sangat kecewa padaku, terutama kepada kak ardian. Dia tidak bisa menjagaku sabagai adiknya. Aku harap aku terus bisa bersandiwara. Aku harus bisa mencari pengganti kak Ardian yang pernah ada di hatiku. Andaikan aku bisa… mungkin aku tidak seperti ini. Ketahuilah aku masih mencintaimu, kak!

*The End*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar