Orang bilang SMA adalah masa-masa indah anak remaja. Memang benar. Di sana Mereka akan menemukan hal-hal seru. Menemukan jati diri, cinta, sahabat, bergaul, bebas berekpresi, bekarya, dll. SMA juga adalah masa pengujian. Pengujian tentang arti hidup, sahabat dan cinta. Ketika satu persatu pengujian itu datang bertubi-tubi dalam hidup kita, apakah kita mampu menghadapinya?
Senja itu, ketika matahari malu-malu bersembunyi di ufuk barat, memancarakan cahaya yang mulai redup, seharian telah memberi penerangan. Esok adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang, kebanyakan orang-orang memanfaatkan waktu libur untuk refresing dan pergi ketempat-tempat funtasy atau ketempat yang ingin dikunjungi setelah melakukan aktivitas-aktivitas yang padat. Apalagi Jakarta adalah salah satu kota terpadat, termacet dan berpolusi. Tidak seperti gadis yang sedang asik mendengarkan lagu di kamarnya sambil bernyanyi-nyanyi mengikuti setiap lagu yang diputarnya. Gadis itu lebih banyak menghabiskan waktu liburnya dengan membantu orang tuanya. Membersihkan rumah atau pun sesekali membantu mengantarkan barang jualan ke toko pakaian milik orangtuanya di salah satu Mall yang ada di Jakarta.
Dinding kamar dipenuhi poster-poster rider MotoGp, Marc Marquez, ia adalah rider terkenal asal Spanyol yang tahun depan akan naik kelas 1000cc. wajahnya yang tampan, bibir tipis sexy dan alis tebal membuat Resa tergila-gila padanya. Ia salah satu rider termuda, dan tahun kelahirannya berbeda satu tahun lebih tua dari Resa. ia tak pernah melewatkan menonton MotoGp yang tayang di salah satu TV nasional.
Lagu yang diputarnya menggema memenuhi seluruh sudut kamarnya yang bersih dan rapih. Alunan musik K-Pop asal Korea itu membuat Resa tak henti-hentinya bernyanyi dan menghayati setiap lirik lagu walau dengan suara pas-pasan. Ia tidak memperdulikan siapapun yang mendengar suaranya. Karena asik bernyanyi sampai-sampai ia tak mendengar suara apapun. Bahakan suara cicak dikamarnya pun tak dapat didengarnya.
Suara itu semakin keras! Resa menyadari ada seseorang di balik pintu memanggil namanya. untuk cepat-cepat dibukakan. Menyadari itu Resa segera mematikan lagu yang diputarnya. Dengan wajah sedikit kesal karena telah mengganggu aktivitasnya, ia akhirnya membuka suara.
“siapa sih?” dengan nada sedikit emosi dan keras.
“woiii, berisikkk!! Suara lo pales banget!” terdengar suara keras dibalik pintu kamar Resa memaki-maki.
“apaan sih lo kak? Ganggu gue ajah! Bodo amat mau pales atau nggak yang penting gue hepi! Masalah gitu buat lo?” balas Resa dengan kesal setelah mengetahui siapa yang menggangunya, yaitu kak Agra.
“yaialah masalah buat gue, masih mending suara elo bagus, ini suara udah kaya kaleng rombeng!” teriak Kak Agra lagi dari balik pintu.
“bodoooo! Maaa itu kak Agra ganggu aku mulu!!” teriak Resa menuju pintu kamarnya dan membuka pintu terlihat kak Agra yang berdiri dihadapannya.
“Agra kamu seneng banget sih ganggu adik kamu!” suara lembut mama terdengar dari ruang tamu.
“ tau nih Ma, Resa ajah nggak pernah ganggu kak Agra!” sambil menjulurkan lidah kearah Kak Agra menandakan bahwa Resa mengejek Kak Agra dan merasa mama membelanya. Kak Agra yang tidak bisa terima, membalasnya dengan mengacak-acak rambut Resa.
“gue sih udah biasa denger suara elo yang kaya gitu, masalanya ada temen gue, kalau mereka denger suara pales adik gue tersayang ini, apa kata dunia?” lontarnya.
“bodoo ah, biar mereka tau betapa indahnya suara gue!” dengan kesal Resa menutup pintu kamarnya rapat-rapat agar Kakaknya yang ngeselin itu nggak bisa masuk dan menganggunya lagi.
“aduhh kenapa kak Agra nggak bilang dari tadi ke gue kalo temennya kesini! Sumpah malu banget kalo sampe mereka denger suara gue! Apalagi kalo didenger kak Rere yang ganteng, suara gue kaya gini, mau di taro dimana muka gue kalo ketemu dia?!” keluh Resa yang langsung berbaring dikasur empuknya.
*
Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang kenaikan kelas. Saatnya kita akan menemukan teman-teman baru, teman yang akan memberi kita pengalaman-pengalaman seru dan akan menjadi bagian cerita indah dalam hidup kita yang perlu diingat dalam memory kita. Kita tidak pernah tau apa yang bakalan terjadi dihidup kita, sebelum kita merasakan yang namanya persahabatan, tantangan, cinta, sakit hati, sedih, kecewa, bahagia dan lain-lain. Itu semua adalah sebagian besar dari proses kehidupan. Masa-masa yang nggak bakalan terlupakan adalah masa-masa SMA terutama kelas dua. Ini yang akan dirasakan Resa selama ia duduk di bangku kelas dua IPS.
Kelas 11 IPS 1 itu berada di pojok atas lantai dua. Resarma Sista itulah salah satu nama yang terpampang di selembaran kertas yang menempel dibalik jendela kelas tersebut. Resa memasuki kelas barunya dan melihat teman barunya yang asik dengan kesibukan mereka masing-masing ada yang sedang mengobrol dengan temanya, ada yang sedang mendengarkan musik, ada yang memperhatikan Resa yang masuk kelas setelah itu melanjutkan kegiatannya dan ada juga yang sedang bercanda dengan temannya. Resa berjalan cuek menuju tempat duduk yang kosong persisnya di pojok barisan keempat dekat pintu. Berhubung sahabat-sahabat Resa tidak ada yang satu kelas dengannya, maka terpaksa ia duduk sendiri.
Datang pria jangkung, berkumis tipis, kemeja coklat dengan rambut klimis yang di belah tengah dan rapih memasuki kelas. ia memperkenalkan dirinya sebagai wali kelas 11 IPS 1, namanya pak Dahlan Suntoro. ia asik bercuap-cuap di depan kelas. Selang beberapa menit masuk seorang siswa yang sedikit asing di kalangan angakatan Resa. Terdengar bisik-bisik dari siswi di kelas itu, entah apa yang di obrolkan oleh mereka ketika siswa itu memasuki ruang kelas. Suara pak Dahlan yang keras dan melengking, memberitahu siapa siswa tersebut, ternyata dia adalah murid baru di kelas 11 IPS 1, namanya Darma Sandwika. Dan yang lebih mengejutkan lagi ternyata Darma TIDAK NAIK KELAS. Resa yang mendengar pernyataan tersebut kaget siswa tersebut tidak naik kelas. Anak baru yang tidak naik kelas itu memperkenalkan dirinya didepan kelas. Tiba-tiba jantung Resa berdebar kencang dan ia mulai merasa resah entah apa yang akan terjadi, Resa menerka-nerka hal itu dalam pikirannya namun berusaha ia singkirkan. Ia semakin resah dan apa yang terjadi? Siswa YANG TIDAK NAIK KELAS ITU duduk sebangku dengan Resa. Karena bangku disampingnya kosong, maka mau tak mau ia menerima dan pasrah menerima kenyataan itu.
“kiamat!” suara Resa terdengar keras membuat seluruh orang yang ada diruang kelas itu sontak kaget dan melihat kearah Resa.
“hei kamu, siapa namamu?” Tanya pak Dahlan sambil menujuk jarinya kearah Resa. Mungkin karena tergangu dengan suara Resa yang membuat kaget orang-orang yang berada diruang kelas itu.
Resa yang malu dengan perbuatannya membuka suara. “nama saya Resarma Sista” jawab Resa dengan hati-hati.
“jangan kamu ulangi lagi!” tegas pak Dahlan.
“baik pak!” kata Resa sambil mengangguk bahwa ia mengerti dengan perintah pak Dahlan. Hari pertama masuk sekolah saja sudah membuat malu, apalagi setahun kedepan? Aduh apa yang terjadi kedepannya dengan Resa? bagaiamana bisa ia duduk dengan seseorang yang tidak naik kelas? Pasti hari-hari Resa direpotkan oleh anak baru itu. Apa yang bakalan terjadi antara Resa dengan anak baru tersebut?
Cowok itu berjalan kearah Resa dan duduk disampingnya. Cowok itu tersenyum tipis kearah Resa dan begitu juga denga Resa yang membalas senyumannya. Cowok yang kini berada disamping Resa membuka suara “nama gue Darma Sandwika, elo bisa panggil gue Darma ajah. Salam kenal ya” kata cowok itu memperkenalkan dirinya kepada Resa. “nama gue Resarma Sista” elo bisa panggil gue Resa. Salam kenal juga” balas Resa yang memperkenalkan dirinya.
Setelah perkenalan itu mereka berdua tidak lagi saling berbicara ataupun sekedar menanyakan sesuatu karena Darma teman sebangku Resa hanya diam dan cuek. Begitu juga dengan Resa yang dari tadi diam. Mereka menjalani hari ini dengan kebisuan. Apa karena mereka masih canggung atau bingung menanayakan sesuatu? Tidak mungkin jugakan Resa menanyakan kenapa dia tidak naik kelas? Kalau Resa bisa menanyakan itu pasti Darma akan merasa kecewa dan membenci Resa. Oleh sebab itu Resa memilih diam saja dari pada menanyakan hal itu ke Darma.
*
“Resa pulang!” teriak Resa memasuki rumahnya. Pada jam segini pasti mama lagi berada di dapur dan nyiapin makan siang buat Resa dan kak Agra. “kamu udah makan?” Tanya mama menghampiri Resa yang duduk di ruang tamu.
“Resa udah makan Ma tadi di sekolah!”
“oh ya nanti kak Arga bawa temennya kesini palingan Rere sama Lian, mereka mau ngerjain tugas bareng katanya sih!” sambung Mama
“kak Rere Ma?” Tanya Resa antusias.
“yah siapa lagi kalau bukan mereka berdua, yaudah Mama mau nyiapin makan dulu!” Mama meninggalkan Resa. Kak Rere mau kesini aduh gue harus keliatan cantik nih pikir Resa dalam hati. Resa buru-buru ganti baju yang bagus dan rapih agar tidak mengecewakan Kak Rere. Hikhik
“selamat siang kak Rere, Kak Lian!” suara Resa mengejutkan mereka yang duduk di ruang tamu.
“selamat siang juga dik Resa” sambut Rere dan Lian berbarengan.
Agra yang melihat tingkah laku adiknya langsung menghampiri Resa dan melihat dengan intens.
“kayanya ada yang beda nih sama adik gue? Tapi apa yah?” selidik Agra sambil memincingkan sebelah matanya.
“iya nih ada yang beda!” sambar Lian yang tak mau kalah.
“apaan sih kalian berdua, aku tuh biasa ajah!” jawab Resa sekenanya.
“eh tunggu dulu, kok bibir adik gue merah yah? Elo pake lipstik ya?” Agra yang memperhatikan ada yang beda dengan bibir Resa dan membuat Resa memerah karena malu. Karena sebelumnya Resa tak pernah memakai lipstik. Dan lipstik yang ia pakai sekarang adalah lipstiknya yang ia beli seminggu lalu, belum pernah ia memakainya, baru sekarang ini saja.
“hehehe ia, sedikit doang!” jawab Resa cengengesan.
“tumben-tumbenan, jangan bilang elo ngelakuin ini buat Rere? Yakan? Ngaku lo?” Tuduh kak Agra.
“enak ajah gue ngelakuin ini buat diri gue sendiri!” dusta Resa yang tak mau ketahuan bahwa yang ia lakukan itu hanya semata-mata buat kak Rere. Rere yang melihat gelagat adik temannya itu hanya tersenyum tipis kearah Resa.
“nggak biasanya elo kaya gini? udah mulai genit ya?” ledek kak Agra. Resa yang mati kutu hanya bisa cengengesan.
“apa urusanya sama lo? Lagian kan gue cewek, malulah kalau kaga bisa dandan!” ngeles Resa
“wah ternyata adik gue ini udah gede ya!” ledek kak Agra lagi.
“ah terserah dah!” Resa mulai kesal dengan kelakuan kak Agra. Resa yang selalu dibikin kesal oleh kak Agra memilih untuk mengalah dan pergi dari pada ngeladenin kak Agra yang sok tau dan ngeselin itu. Apalagi kalau kak Rere tau kenyataan yang sebenarnya, pasti ia bakal malu banget. Ditambah kak Lian yang ikut-ikutan ngeledek dan tertawa lebih keras dari kak Agra bikin malu ajah.
“Kak Agra apa-apaan sih bikin gue mati kutu didepan kak Rere apalagi dengan bibir merah gue aduh pasti gue diketawain oleh mereka kalo gue ngelakuin itu semata-mata buat kak Rere. Pasti mereka lagi ketawa nih!” gerutu Resa yang duduk di kasurnya dan memajukan bibir tipisnya itu.
Hari ini banyak orang yang bikin Resa kesal pertama kak Agra, kedua kak Agra, ketiga Darma. Bagaimana tidak dua kali dengan kak Agra karena yang paling super duper nyebelin itu kak Agra, heran kenapa dia bisa jadi kakaknya Resa. Darma? Sebenernya sih dia belum ngelakuin sesuatu yang bikin Resa marah tapi karena dia tidak naik kelas pasti membuat Resa akan kerepotan ngadepin cowok bodoh itu. Sial!
*
Resa menjalani hari-harinya seperti biasa yaitu mengikuti pelajaran ekonomi dengan baik. Pelajaran yang membosankan itu membuat Resa sesekali menguap. menjadi teman sebangku yang baik, Darma juga tidak banyak bicara hanya berbicara sedikit-sedikit saja. Bel istirahat pun berbunyi, membuat Resa terbebas dari pelajaran yang susah itu. Resa memang tidak terlalu pintar di pelajaran ekonomi. Dengan langkah gontai Resa pergi kekantin.
“Res, kemana ajah elo?” teriak salah satu anak yang bergerombol duduk di sudut kantin sekolah. Resa duduk bergabung dengan temannya.
“gue nggak kemana-mana!” jawab Resa sekenanya. Yang duduk disamping Syisi.
“wes, tampang elo bete banget nih! Lagi kenapa sih say? Oh ya elo duduk sama Darma ya?” Tanya Syisi sambil menyeruput jus alpukatnya.
“siapa tuh Darma?” sambar Rifka.
“elo nggak tau Darma? Serius? Ah payah lo! Dia kan kakak kelas kita yang nggak naik kelas!” jelas Syisi
“apa? Nggak naik kelas?” Rifka yang tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
“kok bisa sih elo duduk sama dia?” Tanya Mela
Resa yang duduk dan mendengar percakapan ketiga sahabatnya hanya bisa diam. Matanya yang bulat dan besar itu menatap kearah cowok yang sedang duduk sambil makan nasi goreng dengan lahapnya. Yah siapa lagi kalau bukan Darma. Darma itu misterius seperti yang terlintas dipikiran Resa saat ini. Darma yang sadar dari tadi diperhatikan oleh Resa menyudahi makananya dan pergi begitu saja. Resa tidak sadar bahwa ketiga sahabatnya melihat kearahnya yang dari tadi melamun.
“Res, gue Tanya juga dari tadi elo diem ajah! “ senggol Mela. Resa yang sadar dari lamunannya stay cool kearah sahabatnya.
“elo liatin siapa sih?” Tanya Syisi penasaran
“gue, gue…hemm” Resa sedikit berdeham agar sahabatnya tidak tahu bahwa ia dari tadi melihat Darma yang sedang makan sampai ia pergi meninggalkan kantin. “gue nggak ngelamun, cuman lagi bete ajah tadi sama pelajaran Ekonomi!”
“jawab pertanyaan gue yang tadi!” bentak Mela yang masih penasaran tentang Darma itu.
“yang mana?” Tanya Resa polos. Karena ia dari tadi tidak mendengar obrolan sahabatnya itu.
“kenapa elo bisa duduk sama Darma?” ulang Mela
“Darma?” kata Resa kaget. Kenapa bisa mereka membicarakan Darma yang dari dipikirkan Resa?
“iya dia!” sambar Rifka
“hemm waktu awal gue masuk kelas, bangku samping gue kosong dan nggak ada yang mau sebangku sama gue, terus karena ada anak baru ya udah deh gue duduk sama dia, lagian kan gue duduk sama dia bukan kemauan gue, tapi karena pak Dahlan” jawab Resa panjang lebar.
“siapa yang elo bilang anak baru? Darma? Dia tuh nggak naik kelas!” tegas Syisi
“ah udah jangan ngomongin dia lagi!” kata Resa yang mulai bete
“iyaiaya gitu ajah sewot!” ledek Mela.
Kempat sahabat itu asik membicarakan hal-hal seru dan pengalaman-pengalaman seru mereka selama mereka libur panjang disertai gelak tawa dari mereka begitu juga dengan Resa. Setelah bel istirahat habis, Resa dan teman-temannya masuk kekelas masing-masing. Resa mengikuti pelajaran dengan baik walau sesekali menguap pada pelajaran yang sedikit membosankan menurut Resa.
*
“Res elo mau balik sama kita?” Tanya Rifka dan sahabat-sahabat lainnya yang berada di depan perpustakaan
“elo duluan ajah, gue masih ada tugas hari ini!” jawab Resa
“eh yaudah gue duluan yah!” jawab Rifka
“duluan yah!” kemudian disertai suara Mela dan Syisi yang berbarengan.
“oke! Hati-hati!”
Resa yang hari itu mendapat tugas piket kelas, harus membersihkan kelas. Resa mengambil sapu yang berada di lemari dan mulai menyapu. Tak lama setelah itu, Darma masuk kekelas untuk mengambil tasnya. Resa yang kaget kedatangan Darma sontak melompat sedikit dan melihat kearah Darma.
“elo bikin gue kaget! Kalo masuk kelas pake salam napa?” suara Resa menggema di kelas itu
“eh sori, gue kira nggak ada orang tadi!”
“jelas-jelas ada gue disini! Nggak liat dari mana?” gerutu Resa pelan.
Resa yang melihat penampilan Darma yang sedang mengenakan pakaian Silat langsung terpana dengan badan Darma yang atletis dan ototnya yang kekar itu menonjol.
“elo ekschool silat?” Tanya Resa yang masih memegang sapu.
“iya, kenapa? Ada yang aneh?” Tanya Darma simple
“biasa ajah sih, tapi kok gue baru liat elo ya?”
“gue udah lama ikut Ekschool silat dari kelas satu” jelas Darma yang berdiri di ambang pintu sambil merangkul tas dipundaknya.
“pantesan sabuk elo udah merah!”
”dikit lagi juga mau item! Yaudah iya gue mau latihan dulu, lanjutin gih nyapunya, yang bersih yah!” ledek Darma yang keluar kelas meninggalkan Resa.
apa? Yang bersih? Dia kira gue pembantu? Baru tau gue ternyata dia sama ngeselinnya kaya kak Agra! gerutu Resa.
Resa hari itu menyapu dengan tampang bete walau seperti itu, ia tetap menyelesaikan tugasnya itu dengan baik. Ia keluar kelas dan berjalan disepanjang koridor sekolah menuju gerbang sekolah. Tak lama ia mendengar suara anak-anak silat sambil berteriak-teriak yang sedang berlatih menghancurkan batu bata termasuk dengan Darma. Resa spontan duduk di bangku panjang yang berada di depan kelas dan memperhatikan anak-anak silat berlatih. Terpikir di pikiran Resa bahwa Darma itu kalau dilihat-lihat lumayan secara badannya seperti atlit-atlit nasional yang sudah-sudah. Tanpa disadari ternyata Darma menghampiri Resa, Resa yang melihat itu sedikit kaget tetapi tetap tenang.
“elo belom pulang? Udah bersih kelasnya?” Tanya Darma sedikit meledek Resa.
“sialan elo! Emang gue apaan?” jawab Resa sewot.
“hahahahaha sori sori, gue cuman bercanda tadi! Gue perhatiin elo dari tadi ngeliatin gue?” Tanya Darma yang membuat Resa malu.
“siapa juga yang ngeliatin elo, gue ngeliatin anak-anak silat!” jawab Resa tenang
“termasuk gue?” Tanya Darma yang mengangkat alisnya yang tebal itu.
“apa maksud elo?”
“gue kan anak silat, berarti elo ngeliatin gue juga dong!”
“emang elo doang yang anak silat?” ngeles Resa
“bener sih, tapi tadi pas dikantin elo juga ngeliatin gue?”
Apa? Berarti dari tadi Darma sadar kalau hari ini Resa memperhatikannya? Apa yang akan dijawab Resa? Haruskah berbohong lagi?
“o..oo yang itu, gue, gue..!” Resa menarik napas dan melanjutkan perkataannya “gue tadi lagi ngelamun, tapi sumpah deh gue nggak ngeliatin elo! Jangan Ge-Er dulu lo!”
“hahaha jangan salting gitu juga kali! Iya gue tau elo lagi ngelamun dan lagi ngelamunin gue! Haaa” tawa Darma geli
“apaan sih lo! Dasar cowok ke ge-eran, padahal yang cakep banyak, ngapain juga gue ngeliatin lo!”
“hahaha siapa tau ajah kan? Gini-gini gue banyak yang nyukain lo!” katanya yang memuji diri sendiri.
“cakep dari mana? Itu cewek yang suka sama lo itu pasti katarakan! Yakan?” canda Resa yang membuat Darma tertawa. Mereka terus berbincang bahkan saling mengejek satu sama lain yang membuat keduanya asik tertawa. Mereka merasakaan kenyamanan saat mereka berbicara. Sore itu Resa diantar pulang oleh Darma naik motor. Karena rumah mereka searah dan Darma sendiri yang mengajak duluan, membuat Resa menerima tawarannya itu. Mereka seperti sudah kenal lama. Apa itu dinamakan teman lama yang sudah tak lama bertemu? Resa tak lagi memikirkan hal-hal negatif tentang Darma apalagi ia salah satu siswa Feter. Hal-hal negatif itu sudah terbayar dengan gelak tawa mereka sepanjang jalan. Mereka menghabiskan waktu bersama dengan membicarakan lelucuon. Ternyata Darma anaknya asik walau terkadang ngeselin juga sih, tapi nggak apa-apa deh yang penting Resa nyaman berteman dengan Darma.
“thanks udah nganterin gue pulang! Nggak nyangka ternyata elo anaknya asik juga!” kata Resa sambil turun dari motor Darma.
“hahhaha iya, elo juga seru! Asik!” kata Darma memuji.
“hati-hati!” kata Resa melihat Darma memutar balik motornya dan pergi. Darma pun melambai tangannya sebagai tanda perpisahan pada sore itu. Resa yang melihat, tersenyum tipis dan membuka pintu pagarnya. Didepan pintu terlihat kak Agra yang sedang melihat kearah Resa, alisnya terangkat menandakan penasaran dengan apa yang ia lihat, karena baru kali ini ia melihat adiknya diantar pulang oleh seorang cowok. Resa yang menegetahui maksud kak Agra pun cuek dan santai memasuki rumah.
“siapa tadi?” Tanya kak Agra penasaran.
“kepo banget sih! Dia itu temen gue!” jawab Resa ketus. Kak Agra emang harus digituin , karena kalau tidak pasti ia bakal terus-terusan ngelakuin apa yang ia mau. Menindas yang lemah. Ibarat gajah dan semut. Gajah itu kak Agra dan semut itu Resa. Semut akan selalu kalah dengan gajah yang badannya besar.
“temen apa temen? Pacar kali? Kok nggak bilang? Rere dikemanain?” ledek kak Agra yang bikin Resa memajukan bibirnya yang mungil dan memasang tampang bete dan kesel.
“dia bukan pacar gue! Dia temen gue!” teriak Resa dan meninggalkan kak Agra sendiri didepan pintu.
*
Gadis yang berdiri di depan gerbang sekolah yang sedang menunggu jemputan, wajah yang lelah akan aktivitas sekolah yang padat dengan tugas-tugas yang diberikan guru-guru untuk murid-muridnya baik di hari biasa maupun waktu liburan. Keringat yang membasahi dahinya yang sedikit lebar itu sesekali mengelap keringat yang bercucuran dengan tisu yang dibawanya. Keadaan sekolah mulai sepi, karena sebagian murid sudah pulang dan beberapa murid saja yang masih berkeliaran disekitar sekolah. Exschool menjadi alasan beberapa murid yang masih berkeliaran di sekolah. Ada juga yang sekedar untuk nongkrong-nongkrong bersama murid lain. Gadis ini terus-terusan melihat jam tangan yang dipakainya dan tampak resah. Sambil menggigit bibir mungilnya dan bergumam tidak jelas.
Sesaat itu terdengar ringtone handphone lagu Shinee-Hello yang berteriak-teriak dari dalam saku bajunya. Setelah menyadarinya, ia segera mengangkat dan berbicara dengan seseorang yang berada disebrang sana. Setelah beberapa menit ia menyudahi telphone-nya terdengar nada kecewa pada gadis itu. Gue pulang sama siapa? Kalau gue tunggu mang Arif pasti lama? Gumam Resa. Resa memutuskan untuk menunggu mang Arif saja, karena ia tidak biasa naik kendaraan umum setelah kejadian itu. Kejadian dimana Resa pernah di copet ketika mang Arif tidak bisa menjemput karena istrinya sakit dan terpaksa Resa pulang naik metromini dan dompetnya ludes diambil oleh copet tersebut. Resa tidak bisa berbuat apa-apa karena copet itu sudah kabur. Orang-orang yang di dalam metromini tersebut hanya melihat Resa prihatin. Metromini yang melaju cepat membuat orang-orang disekitar tidak bisa berbuat banyak. Setelah kejadian itu Resa tidak mau lagi naik metromini dan lebih baik menunggu berjam-jam seperti yang ia lakukan sekarang.
Mang Arif sedang berada dibengkel karena ada kesalahan teknis dengan mobil yang dibawanya dan membuat Resa harus menunggu. Resa kembali masuk kedalam sekolah dan menuju kekelasnya yang berada dilantai bawah disamping lab. Biologi. Sesaat mata Resa tertuju pada seorang cowok yang sedang bermain bola basket dilapangan, bukan karena Resa jatuh cinta pada pandangan pertama yang dirasakan oleh kebanyakan orang pada umumnya, melainkan siswa itu adalah teman sebangku Resa yang tidak naik kelas dan super nyebelin. Membuat Resa ingin pindah tempat duduk tapi, tidak ada yang mau berganti tempat duduk dengannya. Terpaksa Resa harus bersabar untuk beberapa bulan ini. cowok itu menyadari bahwa dari tadi gadis yang menjadi teman sebangkunya memperhatikannya. Pria itu melihat kearah gadis itu dan menghampiri sambil mentribble bola.
Sesaat itu terdengar ringtone handphone lagu Shinee-Hello yang berteriak-teriak dari dalam saku bajunya. Setelah menyadarinya, ia segera mengangkat dan berbicara dengan seseorang yang berada disebrang sana. Setelah beberapa menit ia menyudahi telphone-nya terdengar nada kecewa pada gadis itu. Gue pulang sama siapa? Kalau gue tunggu mang Arif pasti lama? Gumam Resa. Resa memutuskan untuk menunggu mang Arif saja, karena ia tidak biasa naik kendaraan umum setelah kejadian itu. Kejadian dimana Resa pernah di copet ketika mang Arif tidak bisa menjemput karena istrinya sakit dan terpaksa Resa pulang naik metromini dan dompetnya ludes diambil oleh copet tersebut. Resa tidak bisa berbuat apa-apa karena copet itu sudah kabur. Orang-orang yang di dalam metromini tersebut hanya melihat Resa prihatin. Metromini yang melaju cepat membuat orang-orang disekitar tidak bisa berbuat banyak. Setelah kejadian itu Resa tidak mau lagi naik metromini dan lebih baik menunggu berjam-jam seperti yang ia lakukan sekarang.
Mang Arif sedang berada dibengkel karena ada kesalahan teknis dengan mobil yang dibawanya dan membuat Resa harus menunggu. Resa kembali masuk kedalam sekolah dan menuju kekelasnya yang berada dilantai bawah disamping lab. Biologi. Sesaat mata Resa tertuju pada seorang cowok yang sedang bermain bola basket dilapangan, bukan karena Resa jatuh cinta pada pandangan pertama yang dirasakan oleh kebanyakan orang pada umumnya, melainkan siswa itu adalah teman sebangku Resa yang tidak naik kelas dan super nyebelin. Membuat Resa ingin pindah tempat duduk tapi, tidak ada yang mau berganti tempat duduk dengannya. Terpaksa Resa harus bersabar untuk beberapa bulan ini. cowok itu menyadari bahwa dari tadi gadis yang menjadi teman sebangkunya memperhatikannya. Pria itu melihat kearah gadis itu dan menghampiri sambil mentribble bola.
“hi anak mami kok belom pulang sih? Lagi tunggu jemputan ya.” Pria yang sok cool ini meledek Resa dimana pun dan kapan pun. Membuat Resa memasang tampang cemberut dan bete setiap kali bertemu denganya.
“siapa yang elo bilang anak mami? Ha.”
“anak mami marah nihyee!.” Pria itu masih saja meledek Resa sambil memainkan bola basketnya itu.
“gue? Anak mami? Rese elo!” Resa yang tidak bisa terima dibilang anak mami itu memasang tampang bete kearah pria yang ada dihadapannya itu.
“emang bener kan. Buktinya belom dijemput ajah malah nggak pulang dan lebih baik nunggu berjam-jam dari pada pulang sendiri. apa buktinya lagi kalau bukan anak mami hayoo?”
“gg..gue disini bukan nunggu jemputan. Tapi ada tugas lain yang perlu gue kerjain. Jangan sotoy lo!” dusta Resa. Resa tidak mau kalah dengan pria itu dan terpaksa berbohong demi harga diri terhadap pria yang nyebelin dan ngebetein.
“tugas apa tugas? Terus elo ngapain ngeliat gue kaya tadi? Terpesona yaa sama permainan basket gue.” kali ini Darma memuji dirinya sendiri. Kenyataannya permainan basket Darma memang bagus dan siapapun yang melihatnya akan jatuh cinta padanya. Tapi, Resa tidak sama dengan cewek-cewek lain kebanyakan yang ada disekolahnya yang berteriak-teriak ketika Darma sedang bermain basket.
“bener ada tugas kok” dusta Resa lagi. “idih ngapain juga gue harus terpesona sama elo dari pada ngeliat elo mending gue...” tidak sempat melanjutkan perkataannya, tiba tiba bola futsal terbang mengarahnya. Mengenai hidungnya dan mengeluarkan darah. Resa yang merasa kesakitan langsung berlari menuju toilet. Meninggalkan Darma yang kasihan dengannya. Resa terus berlari, ia tidak memperdulikan dua pria yang memanggilnya. Resa mengelap darah yang keluar dari hidungnya dengan tisu. Sakitnya yang luar biasa di gebok bola futsal membuat Resa terus meringis kesakitan.
“Hidung elo berdarah!” suara yang terdengar bersalah itu mengagetkan Resa dan membuat Resa menoleh kearah sumber suara itu. Resa masih saja sibuk membersihkan darah yang keluar dari hidungnya. Dan mengacuhkan cowok yang kini berada disampingnya. Dari tadi cowok itu cuap-cuap kearah Resa untuk minta maaf dengan apa yang ia lakukan tadi. Setelah darah yang keluar dari hidung Resa berhenti. Resa menatap cowok itu dengan tampang bete.
“elo marah ya sama gue? Kan gue udah minta maaf. Gue nggak tau kalau ada elo disitu.” Kata cowok yang tidak diketahui namanya itu. Resa yang sangat marah pada cowok itu, meninggalkannya sendiri. pria itu masih saja mengejar Resa agar permohonan maafnya diterima. Tapi, Resa diam saja sambil berjalan. Resa melihat mang Arif sudah datang, bergegas ke mobil dan mengacuhkan cowok yang telah membuat hidungnya berdarah ditambah lagi sama cowok yang bernama Darma. Darma bukan teman yang baik. Buktinya disaat Resa terkena musibah bukannya menolong malah menghilang entah dimana.
“non kenapa hidungnya? Kok merah?” suara mang Arif menyadarkan Resa dari lamunanya.
“oh ini. Nggak apaapa kok mang, cuman gatel ajah tadi. Terus aku garuk jadi merah deh!” dusta Resa lagi kali ini dia berbohong supaya mang Arif tidak khawatir kepadanya. Mang Arif sudah terlalu baik kepada Resa dan keluarganya. Jadi Resa tidak mau membuat mang Arif cemas. Untung saja darahnya tidak lagi keluar. Sepanjang jalan menuju rumah Resa hanya bisa diam dan sesekali menghembuskan nafas. Berharap esok menemukan hari yang lebih baik dari pada hari ini dan tidak bertemu dengan pria-pria nyebelin. Terutama Darma. Darma? Kemana dia? Dasar cowok brengsek bukannya nolongin eh malah kabur. Awas saja besok!
*
Tidak tau kenapa hari ini Resa sangat gembira sekali. Senyumnya menghiasi hari-harinya. Apalagi Darma, teman sebangkunya yang nyebelin itu tidak masuk sekokah. Tidak ada keterangan apa-apa. Bagaimana mau naik kelas kalau kerjanya sering bolos sekolah seperti hari ini. Tapi bodolah apa pedulinya toh ini yang diinginkan Resa supaya nggak ketemu dia. Kalau ada dia juga, hari-hari Resa tidak tenang.
“Res, ada yang nyariin elo tuh!”
“siapa?”
*
Resa merasa cemas dan takut akan terulang lagi kejadian-kejadian yang ia alami ditahun sebelumnya. Resa menerka-nerka apa yang akan dilakukan sahabat-sahabatnya terhadapnya. Karena dari tahun ketahun pasti teman atau sahabatnya memberi surprise yang parah dan hancur!
Dikelas Resa biasa saja melakukan aktivitas belajar seperti biasa di hari-hari sebelumnya. Belum ada yang memberi ucapan selamat ulang tahun kepadanya. Bahkan Darma teman sebangkunya juga tidak ngucapin, mungkin karena ia tidak tau atau karena ia tak peduli. Bukannya dia orang yang cuek? Waktu itu sih nggak, tapi setelah kejadian Darma nganterin pulang Resa, keesokan harinya Darma bersikap cuek dan dingin. Darma itu tidak bisa ketebak, kadang apa yang dilakukannya hari ini belum tentu sama dihari esoknya. Terus dia juga sering nggak masuk, entah apa yang ia lakukan kalau tidak sekolah.
Dilangkahkanlah kakinya meninggalkan ruang kelas menuju lantai bawah. perasaannya seolah-olah ada yang berbeda yang akan terjadi pada sore ini. Menuruni anak tangga selangkah demi selangkah. Masih tak ada yang berbeda masih sama seperti biasa. Pikirannya tertuju pada setahun yang lalu di tanggal yang sama. Ketika sudah berada dilantai bawah tiba-tiba serangan sebuah telor tepat mengarah di badan Resa. Resa yang tau apa yang terjadi pada sore ini tak bisa berbuat banyak. Serangan demi serangan bertubi-tubi kearahnya. Bau amis telor yang melumuri badan dan rambutnya membuat orang-orang disekitarnya menutup hidung dan disertai gelak tawa dari beberapa anak. Siapa lagi kalau bukan sahabat-sahabat Resa. Resa yang di perlakukan seperti itu membalasnya dengan mengejar para sahabatnya sambil berteriak-teriak kaya cacing kepanasan.
“awas kalian bakal gue balessssssss!” teriak Resa.
“hahahahah” tawa para sahabatnya dengan senang dan puas dengan apa yang mereka perbuat terhadap Resa.
“happy birthday Resaaaaaaaaaaa!” teriak sahabatnya bersamaan. Ketika itu Syisi membawa kue ulang tahun dengan lilin berbentuk angka 16. Yap ulang tahun Resa yang ke 16. Mereka semua menyanyikan lagu selamat ulang tahun disertai tangis oleh Resa. Resa sangat senang karena ia beruntung memiliki sahabat seperti Syisi, Mela dan Rifka.
Hari ini adalah hari yang takpernah terlupakan. Hari dimana umur Resa bertambah dan memiliki sahabat yang mencintainya. Sahabat yang selalu ada di kala Resa senang dan sedih. Sahabat yang tak ternilai harganya. Walau saat kelulusan nanti akan berpisah tetapi hati dan jiwa kita akan selalu dekat. Karena sahabat tak pernah mengenal kata berpisah.
*
Resa pulang kerumah dengan keadaan yang memprihatinkan. Badan penuh telur dan tepung itu masih setia menempel di badannya dan aroma busuk yang tersembur keluar. Siapapun yang mendekatinya pasti akan illfeel. Setibanya dirumah Resa mendapatkan kejutan dari keluarganya. Disana ada Papa, Mama, Kak Ardian, Kak Rere, dan Kak Lian. Mereka semua menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Resa. Mama menyodorkan kue kerah Resa dan lilin diatasnya. Resa langsung meniup lilin itu dan berdoa.
“happy birthdayyyy adikkkku tersayang!” teriak kak Ardian
Resa tersenyum melihat mereka yang begitu menyayanginya. Ternyata Ardian tidak seburuk apa yang dipikirkan Resa.
“elo bau banget! mandi sonooo!” titah Ardian setelah mencium bau yang tak enak dari tubuh Resa.
“iyaiya! Semuanya terima kasih ya. Aku seneng banget!” segera bergegas kekamar untuk berganti pakaian.
Mereka sudah berada di taman belakang. Mereka menyiapkan pesta kecil dan hidangan makanan yang lezat. Semua anggota keluarga merayakan dengan gembira. Hari yang paling special untuk Resa.
*
Ini hari kelima dia tidak masuk sekolah! Apa sih yang dia kerjakan diluar sana? Mau jadi apa kalau kerjanya bolos terus!
“kalian tau nggak sih. Masa gue disuruh sama pak Jojo kerumahnya Darma. Buat cari tau kenapa dia nggak masuk! Nambah kerjaan ajah sih! Nyusahin banget sih tuh anak!” sesal Resa kepada Darma. Ia sedang berada di kantin bersama temannya.
“emang udah berapa hari dia nggak masuk?” tanya Rifka yg berada didepan Resa
“lima hari! Gila tuh!”
“nyalinya gede juga! Nyari masalah!”
“emang elo tau rumahnya?”
“nah mangkanya itu, gue pusing! Gue sih emang sebangku sama dia. Tapi bukan berarti gue tau segala hal tentang dia. Termasuk rumahnya!”
“gitu ajah pusing! Kan elo bisa cari alamatnya didata siswa!” saran Mela
“bener kata Mela!” respon Rifka
“iya tuh, kadang-kadang pinter juga yah!” balas Syisi
“kalian bantuin gue ya? Plisss!!” mohon Resa
Ketiga sahabatnya saling menatap satu sama lain. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk membantu Resa.
“iyaiya kita bantuin!” kata Rifka
“Thank you girls!” Resa sambil memeluk ketiga sahabatnya.
*
Setelah Resa mengetahui alamat Darma yang ia cari di biodata siswa, sore itu iya langsung mencari alamatnya. Untung saja alamat yang dituju tidak terlalu asing bagi Resa. Alamat yang dicari tak terlalu sulit.
Tibalah Resa dan teman-temannya dirumah cat putih bersih nan luas. Cukup besar. Sepertinya Darma anak orang kaya. Yah seperti itulah kelakuan anak orang kaya. Yang hanya bisa menghabiskan harta orang tuanya saja. hari untuk sekolah saja ia pergunakan untuk kesenangan.
Resa memencet bel terus menerus. Tak lama itu keluarlah seorang wanita paruh baya. Terlihat lusuh.
“silakan masuk non!” katanya mempersihlakan.
“terimakasih!”
Resa memasuki rumah yang lumayan besar itu. Perabotan rumahnya yang tertata rapih serta lukisan-lukisan yang indah dipandang itu membuat Resa kagum. Ia melihat sangat detail yang ada di rumah itu.
“silakan duduk!”
“saya ambilkan minum dulu”
“mbokkk!” panggil Resa sedikit keras
“saya dan teman saya dateng kesini ingin bertemu Darma” jelasnya
“oh kalian temanya den Darma!”
“iyaa”
“maaf Non. Darma sudah seminggu tidak pulang kesini!” katanya
“tidak pulang kesini? Emangnya Darma punya rumah berapa Mbok? Wah kaya sekali!”
“hanya satu. Maksud saya dia sudah seminggu tidak pulang dan saya tidak tau dia dimana!” jawab Mbok
“orangtuanya kemana Mbok? Mereka tidak mencarinya?” tanya Resa. Resa heran dengan kelakuan teman sebangkunya itu. Hanya bisa ngerepotin orang saja. teman Resa hanya bisa diam karena mereka tidak tau tentang Darma.
“mereka ada di Spanyol. Ada bisnis disana. Mereka sibuk. Saya sudah beritahu mereka. Tapi belum ada respon yang berarti.” Jelas Mbok
“apa mungkin di culik ya!?” pikir Resa.
“Husss, ngaco bae lu ngomong!” seru Mela
“tau nih!” sambar Rifka
“maaf-maaf!”
“kalau diculik... kaya nya tidak deh. Waktu den Darma tidak pulang dua minggu. Beberapa harinya ia kemabali kesini.” Pikirnya. Mbok melanjutkan kata-katanya lagi. “saya rasa den Darma tinggal ditempat lain dan mengurusi sesuatu. Walaupun saya tidak tau dia dimana.”
“apa mungkin seperti itu yah, tapi Mbok Darma beberapa hari ini juga tidak masuk sekolah. Saya datang disini untuk cari tau itu.”
“kalau urusan itu Mbok tidak tau. Den Darma orangnya baik. Kalau urusan sekolah menurut Mbok dia kalau lagi mau ajah. Jadi sesuka hatinya dia.”
“aduh saya bingung Mbok, harus bagaimana!? Masalahnya saya disuruh sama Pak Jojo wali kelas saya!”
“Mbok juga bingung non!”
“eh gimana nih?” tanya Resa kepada teman-temanya.
“gue nggak tau!” Syisi
“apa pulang ajah?” kata Rifka
“yaudah deh Mbok kami pulang dulu. Kalau Darma pulang beritahu dia kalau saya nyari.”
“oke non nanti saya sampaikan”!
Resa dan teman-temannya pamit pulang.
“Res mau cari kemana lagi?” teriak Mela dari belakang Resa
“nggak tau! Gue ajah nggak tau apa-apa tentang dia?”
“dimana sih tuh orang! Bikin jengkel kita ajah! Kasian kan temen gue yang satu ini bakal kepikiran dia terus!” gerutu Rifka.
“nggak mungkin lah gue mikirin dia! Lagian juga gue tinggal bilang ke Pak Jojo kalau dia nggak ada dirumah. Beres kan! Simple!” balas Resa sedikit emosi.
“yaudah guys pulang ajah! Panas nih!” kata Syisi
“yaudah ayukkk!!” balas Rifka
Resa yang sudah tiba dikamarnya langsung rebahan diatas kasur empuknya. Ia terus penasaran dengan Darma. Ia memikirkan apa yang sedang dikerjakan pria itu diluar sana. Tak sadar ternyata ia terlelap dikasurnya sampai keesokan harinya.
*
“gila ini buku-buku numpuk nggak berarturan!” dumel Resa.
Entah sudah berapa lama ia tak menyentuh buku-buku yang menumpuk tak karuan itu diatas meja belajarnya. Dan berserakan disudut kamar dekat lemari baju. Entah buku apa saja itu. Kalau dilihat-lihat sepertinya buku-buku itu buku lamanya Resa. Mungkin buku-buku waktu SD atau SMP. Iya itu buku pelajaran semua. Walau Resa sedikit malas, tapi walau malas ia tak pernah rela buku-bukunya dijual ke pengepul buku-buku bekas. Ia lebih memilih buku-bukunya berserakan dari pada dijual.
Ia merapika buku-bukunya. Ada sedikit debu yang menempel sampai ia terbatuk-batuk. Buku-buku itu ditaruhnya ke dalam karung yang ia ambil dari gudang.
“wah ini kan binder gue!” Resa menemukan bindernya disalah satu tumpukan bukunya. Dilihatnya lembar per lemabar. Dan ia membaca isi dari tulisannya. Ternyata lucu juga kalau ngebaca tulisan-tulisan lama.
17 Februari 2009
Haiii.....
Aku punya teman dekat namanya Indra, rumah aku dan dia lumayan dekat. Dia juga teman sebangku aku waktu aku duduk dibangku sekolah dasar. Tahun kelahiran kami juga sama, karena yang paling tua umurnya waktu itu aku dan Indra. Bukannya aku tidak naik kelas tapi, waktu mulai masuk taman kanak-kanak aku telat setahun. Sedangkan Indra, dia tidak naik kelas 5 SD. Awalnya aku sedikit kecewa kepadanya, karena dia tidak naik kelas. Mungkin waktu itu aku berfikir dia itu bodoh. Setelah aku menjalani kehidupan bersama dia selama kelas 5 SD dan dia menjadi teman sebangku aku, aku merasa dia tidak bodoh-bodoh banget. Manusia itu bisa berubah kan? Apalagi berubah lebih baik! Kenapa aku bisa sebangku dengannya? Karena wali kelas kami yang mengatur tempat duduk di kelas kami. Dia itu anaknya kocak, kadang-kadang nyebelin, pernah waktu itu dia bikin aku nangis. Gara-gara dia ngatain aku cengeng. Memang dulu aku sedikit cengeng. Hehehe.
Dia perhatian juga sama aku, solid, berani terima tantangan. Dia juga termasuk salah satu siswa cowok yang larinya paling cepat. Jago berenang juga! Pokonya banyak pengalaman-pengalaman seru saat aku bersama dia. Dia juga banyak yang nyukain, termasuk aku. Awalnya aku sih biasa saja. Aku tidak merasakan apa-apa waktu sama dia. Aku menyadari setelah terjadi sesuatu di hatiku. Ketika aku mulai memasuki dunia Sekolah Menengah Pertama, aku tidak lagi bermain dengannya apalagi sekedar menanyakan kabar. Dan rumah ku juga pindah membuat aku dan dia semakin jauh. Dulu waktu masa kecilku Hp saja tak punya. Hp jadul dibilang anak-anak jaman sekarang saja, termasuk yang wah banget waktu itu. Foto dia saja aku tak punya termasuk dia. Dia cowok pertama dalam hidupku yang tak paling istimewa sampai sekarang. Kadang ketika aku sedang sendiri, bayang-bayang waktu bersamanya menari-nari dalam pikiranku. Membuat aku sangat merindukannya. Aku tak berani untuk kerumahnya. Karena waktu itu egoku sangat tinggi. Aku malu kalau cewek duluan yang nyamperin cowok.
Banyak alasan yang membuatku tak berani kerumahnya. Banyak yang berubah denganku, mulai dari fisik ku yang mulai mengalami masa puber sampai dalam kehidupanku. Aku juga mulai merasakan yang namanya cinta monyet. Apalagi yang membuatku bahagia waktu aku dapat nomer HP Indra. Aku mulai smsan sama dia, telpon-telponan. Banyak hal yang dia ceritakan tentang kisah cintanya kepadaku. Aku kecewa banget waktu dia suka sama cewek lain. Tapi kutahan, mungkin cintaku sebatas teman saja! Begitu semangatnya dia berecerita dan senang ketika akhirnya dia jadian sama cewek yang dia suka. Dia cerita tentang kisah cintanya melalui sms atau telpon.
Mendengar suaranya saja aku senang banget. Walau dia tidak menyadari betapa aku mencintainya. Pernah dia ngajakin untuk bertemu, tapi aku tolak terus mungkin waktu itu aku sibuk. Seiring berjalannya waktu, perasaan itu sedikit demi sedikit memudar dan aku menemukan cinta yang lain. Mungkin itu yang tebaik menghapuskan perasaanku kepadanya. Walau dia sudah memiliki pasangan dan aku masih suka-sukaan biasa dengan orang lain, tak sedikitpun aku melupakannya. Hanya saja aku mencoba untuk melupakan rasa sukaku ke dia. Sampai akhirnya aku putus kontak, nomernya tidak aktif! aku mencari-cari nomer barunya, tapi tidak dapat. Aku berfikir positif saja, mungkin dia bukan yang terbaik dalam hidupku. Dan mungkin aku tidak berjodoh dengannya.
Dia perhatian juga sama aku, solid, berani terima tantangan. Dia juga termasuk salah satu siswa cowok yang larinya paling cepat. Jago berenang juga! Pokonya banyak pengalaman-pengalaman seru saat aku bersama dia. Dia juga banyak yang nyukain, termasuk aku. Awalnya aku sih biasa saja. Aku tidak merasakan apa-apa waktu sama dia. Aku menyadari setelah terjadi sesuatu di hatiku. Ketika aku mulai memasuki dunia Sekolah Menengah Pertama, aku tidak lagi bermain dengannya apalagi sekedar menanyakan kabar. Dan rumah ku juga pindah membuat aku dan dia semakin jauh. Dulu waktu masa kecilku Hp saja tak punya. Hp jadul dibilang anak-anak jaman sekarang saja, termasuk yang wah banget waktu itu. Foto dia saja aku tak punya termasuk dia. Dia cowok pertama dalam hidupku yang tak paling istimewa sampai sekarang. Kadang ketika aku sedang sendiri, bayang-bayang waktu bersamanya menari-nari dalam pikiranku. Membuat aku sangat merindukannya. Aku tak berani untuk kerumahnya. Karena waktu itu egoku sangat tinggi. Aku malu kalau cewek duluan yang nyamperin cowok.
Banyak alasan yang membuatku tak berani kerumahnya. Banyak yang berubah denganku, mulai dari fisik ku yang mulai mengalami masa puber sampai dalam kehidupanku. Aku juga mulai merasakan yang namanya cinta monyet. Apalagi yang membuatku bahagia waktu aku dapat nomer HP Indra. Aku mulai smsan sama dia, telpon-telponan. Banyak hal yang dia ceritakan tentang kisah cintanya kepadaku. Aku kecewa banget waktu dia suka sama cewek lain. Tapi kutahan, mungkin cintaku sebatas teman saja! Begitu semangatnya dia berecerita dan senang ketika akhirnya dia jadian sama cewek yang dia suka. Dia cerita tentang kisah cintanya melalui sms atau telpon.
Mendengar suaranya saja aku senang banget. Walau dia tidak menyadari betapa aku mencintainya. Pernah dia ngajakin untuk bertemu, tapi aku tolak terus mungkin waktu itu aku sibuk. Seiring berjalannya waktu, perasaan itu sedikit demi sedikit memudar dan aku menemukan cinta yang lain. Mungkin itu yang tebaik menghapuskan perasaanku kepadanya. Walau dia sudah memiliki pasangan dan aku masih suka-sukaan biasa dengan orang lain, tak sedikitpun aku melupakannya. Hanya saja aku mencoba untuk melupakan rasa sukaku ke dia. Sampai akhirnya aku putus kontak, nomernya tidak aktif! aku mencari-cari nomer barunya, tapi tidak dapat. Aku berfikir positif saja, mungkin dia bukan yang terbaik dalam hidupku. Dan mungkin aku tidak berjodoh dengannya.
Ini seperti Dejavu! Tiba-tiba saja Resa mengingat Darma. Yang ia alami dengan Indra hampir sama dengan Darma. Indra tidak naik kelas Darma juga. Hanya saja bedanya Indra tidak naik kelas waktu SD, sedangkan Darma SMA. Indra suka olahraga, Darma juga. Indra nyebelin kalau Darma sepertinya iya. Apa mereka orang yang sama? Nggak mungkin! Resa tidak ingin mengingat Indra lagi. ia langsung cepet-cepat menyudahi membacanya dan membereskan buku-buku itu.
“Awas ajah tuh anak kalau masuk sekolah nanti, gue bejek-bejek . gara-gara dia hidup gue nggak tenang!” dumel Resa.
*
“baaaanggggunnn!!!!” teriak Agra ketelinga Resa. Resa yang masih pulas dengan seketika terbangun dengan suara itu. Yap suara ka Agra. Resa yang masih setengah ngantuk langsung ngomel-ngomel dan melempar bantal-bantal yang ada disekitarnya ke arah kak Agra.
“kakak apaan elo! Jahat banget! kalo telinga gue budeg gimana? Mau tanggung jawab?” hentak Resa.
“elo yang gue bangunin, kaga bangun-bangun. Liat tuh jam! Udah jam berapa?!” menunjuk kearah jam dinding yang menghadap tepat di tempat tidur Resa. Resa segera melihat kearah yang ditunjuk Agra. Matanya yang bulat dan hampir mau keluar itu kaget dengan apa yang dilihatnya. Jam itu menunjukkan pukul 06.15.
“aaappaa? Gue telatttttttt!” teriak Resa.
Resa tergesa-gesa menuju sekolah, 15 meter dari gerbang sekolah Resa melihat pintu gerbang sudah tertutup. Ia terus berlari sampai gerbang itu tak memberi kesempatannya untuk masuk. Ia mohon-mohon ke security sekolah untuk membuka pintu gerbang. Dan didapat adalah security itu tak mau membukakannya, dengan raut wajah kecewa Resa memutuskan untuk pulang saja. langkah gotai ia terus berjalan sambil ngedumel sendiri. Baru kali ini Resa telat masuk sekolah, karena sebelumnya ia tak seperti ini. Entah siapa yang harus disalahkan. Ia tak ingin orang tuanya tau kalau ia tidak sekolah terutama kak Agra yang super duper nyebelin itu.
Resa terus berjalan sampai akhirnya ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang membuat Resa terenyah dan sepontan menoleh kebelakang. Yang di lihatnya adalah Darma. Cowok yang membuat Resa sedikit jengkel.
“kenapa nggak sekolah? Bolos yaaa?” ledek Darma.
Resa terdiam ketika melihat Darma. Perasaan Resa langsung berubah. Perasaan yang tak bisa diungkapkannya. Terkadang timbul rasa senang, sedih, jengkel, benci. Darma terus-terusan meledek Resa. Resa tak bisa membalasnya. Karena pikiran resa tidak fokus dengan pertanyaan Darma.
“haiii lihat jam berapa ini? Sudah jam tujuh!” Darma sambil memperlihatkan jam tangannya kearah Resa.
“elo mau bolos?” teriak Darma
“gue tadi tuh udah kesekolah, terus karena gue telat yaudah gue pulang!” jelas Resa yang akhirnya bisa mencerna pertanyaan Darma.
“lahhh elo kenapa disini! Elo mau bolos juga yaaa?!” gantian Resa meledek Darma.
“nggak kok, gue sama kaya elo! Nggak boleh masuk karena terlambat!”
“terus elo mau kemana?” lanjut Darma.
“ yahhh mungkin gue pulang!” jawab Resa sambil mikir.
“yakinn pulang? Emang elo nggak bakal dimarahin sama nyokap? Kenapa elo nggak sekolah?”
“bener juga sihh, terus gue harus kemana dongg?”
“elo ikut gue ajah!” sambil menarik tanga Resa.
“kemanaa?” memasang tampang curiga.
“tenang ajah gue nggak bakal ngapa-ngapain elo kok” sambil memegang tangan Resa.
“ihhh ada apa sih? Elo mau bawa gue kemana? Jangan macem-macem lo ya!” ancam Resa.
“ihh ini anak bawel banget sih! Siapa juga yang mau ngapain-ngapain lo! Nggak ada untungnya!
“apa elo bilang?!”
“jalan elo lelet banget sih! Kaya siput!”
“biarin! Bleeeeee!”
Tibalah mereka berdua disuatu tempat, tempat yg cukup asing bagi Resa. Sebuah rumah gubuk kecil sederhana. Dikelilingi pohon-pohon yang rindang. Tempat yang belum pernah di jajaki oleh Resa sedangkan Darma tau ada tempat di Jakarta yang seperti ini. Seperti Jakarta tempo dulu. Agak sedikit jadul tapi masih memakai unsur-unsur rumah jaman dulu. Sepertinya tidak ada perbaikan atau renovasi dari rumah tersebut. Letak rumahnya disudut kota, pinggiran kota Jakarta.
“rumah siapa nih? Masih ada rumah seperti ini di Jakarta? Keren!” Resa kagum dengan kontruksi rumah yang masih mempertahankan kebudayaan Jakarta.
“ini rumah nenek gue dari nyokap! Tapi nenek gue udah meninggal.” Kata Darma. Diambilnya kunci dari dalam tas, segera ia membuka pintu. Aksesori-aksesori jaman dulu banget masih tertata dengan baik, tidak ada debu sedikitpun. Rupanya sepemiliki rumah rajin merawat rumah ini.
“ayook masuk! Duduk disini! Elo mau minum apa?” perintah Darma sembari menawari minum. Resa sangat terpesona dengan barang-barang antik dirumah itu, beberapa lukisan, dan foto-foto jaman dulu. Rupanya ada foto neneknya Darma ketika beliau masih muda beserta suami.
“elo suka sama rumah ini?” tanya Darma sambil menaruh minum diatas meja.
“iyaa kayanya nenek elo itu suka keindahan dan tetap mempertahankan barang-barang antik sampai gua nggak tau barang apa itu”
“rumah ini sebenernya pengen dijual sama nyokap...
“apa dijual?” tanya Resa antusias tidak sampai Darma melanjutkan perkataannya langsung dipotong Resa.
“beberapa hari ini gue tinggal disini, rencana penjualan rumah ini udah gue gagalin. Gue berusaha untuk mempertahankan rumah ini, padahal ini satu-satunya peninggalan dari nenek gue. Dari kecil gue udah tinggal disini. Yang ngerawat gue adalah beliau, gue selalu ditinggal sama bokap nyokap. Yah mereka bilang itu urusan pekerjaan. Gue sedih banget setelah tau kalo rumah ini bakal dijual.” Cerita Darma yang mulai mengharukan. Sorotan matanya menerawang seolah menggabarkan suasana hatinya, Resa larut dengan cerita Darma seolah merasakan apa yang dirasakan Darma.
“gue cukup prihatin, kalo jadi elo, gue bakan tetep pertahanin rumah ini bagaimanapun caranya. Gue yakin elo bisa ngelakuin itu.” Kata Resa yang menyemangati Darma.
“thanks ya!” balas Resa sekenanya sambil tersenyum ke arah Resa. Resa juga membalas senyum yang indah itu, senyum yang belum pernah dilihat oleh Resa selama ia mengenal Darma.
“jadi selama ini elo nggak masuk sekolah itu, elo disini? Apa yang elo lakuin disini?” tanya Resa beralih pada pertanyaannya yang selama ini berada dibenaknya.
“gue lebih nyaman tinggal disini ketimbang rumah nyokap bokap, gue disini punya usaha. Yah cukuplah buat penghidupan gue. Kalo alasan gue nggak sekolah, yah karena gue males sekolah yang gitu-gitu ajah, nggak ada yang menarik. Kalo lagi pengen latihan silat ya kada pergi sekolah.”
“jadi elo kesekolah cuman buat latihan silat? Oh my God! Seharusnya elo bersyukur bisa disekolahin sama ortu lo, banyak orang diluar sana kepengen sekolah karena hambatan biaya, sedangkan elo malah nyia-nyiain kaya gini! Gimana sih?” suara Resa sedikit meninggi. Suasana mulai sedikit berubah dari awalnya.
“iya gue tau gue salah, nggak seharusnya gue kaya gini. Gue janji gue bakal masuk sekolah terus demi elo!”
“apa elo bilang demi gue?”
“ehh maksud gue demi ortu dan teman-teman gue, hehehe”
Hari itu mereka seharian menghabiskan waktu bersama, bercerita-bercerita, bercanda-tawa. Resa yang awalnya membenci Darma setelah hari ini ia sedikit menyukai Darma. Ada sisi lain yang berbeda dari Darma. Ada ada sedikit perubahan darinya yaitu ia tak bolos sekolah lagi, tapi ada satu yang membuat Resa jengkel dari Darma yaitu Darma masih suka ngejahilin Resa. Terkadang bikin Resa bete dan sempet marahan. Tetap Darma ahli mencairkan suasana yang tegang menjadi ceria.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar