Aku dijamu dengan berbagai
hidangan mewah di suatu ruangan yang megah, atap yang menjulang keatas
memberikan kesan jauh antara dasar rumah. Di antara orang-orang yang memakai
jas dan gaun cantik aku berada diantaranya dan mengenakan gaun berwarna hitam nan
elegan. Aku tidak berfikir bahwa aku yang paling cantik hanya saja aku merasa
suatu perasaan yang aneh berkecambuk di dalam.
Satu per satu pelayan di rumah
tersebut menghidangkan makanan dan minuman yang menimbulkan bau yang sedap,
menggugah selera seakan-akan air liur ini akan jatuh, aku menahan dan
memperlihatkan keanggunan seorang wanita. Tak seorang pun mulai memakan makanan
yang tersaji di atas meja sebelum aba-aba dari sang tuan rumah mentitahkan
untuk mulai. Sang tuan rumah hanya berkata “selamat makan” dan kami pun makan.
Aku memegang sendok dan garpu seperti yang ku lihat sang tuan rumah itu,
diam-diam aku memperhatikan cara ia makan. Sungguh menawan dan indah untuk
dilihat, tenang dan penuh nikmat. Aku mengikutinya dan tak ada yang tahu.
Sedangkan yang lainnya dengan lahap memakan makanan itu. Sangat cepat dan tak
bersisa, begitu juga dengan diriku tak menyisakan makanan di piring makanku.
Kami saling melihat dan tersenyum bahagia, tetapi berbeda dengan perasaanku.
Aku menyadari satu hal dengan keadaan ini, tidak sama sekali menemukan pembuat
makanan itu. Sedari tadi sang tuan rumah hanya diam dan tidak berkata
sedikitpun, setidaknya mengenalkan siapa yang membuat makanan-makanan ini.
Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya ketika pelayan-pelayan
membersihkan semua yang di atas meja makan. “maaf tuan, bolehkan saya
mengajukan pertanyaan?” Sang tuan rumah seketika beralih diamana sumber suara
itu berasal dan mendapati diriku penuh ketegangan ketika mata kami bertemu.
Dengan santai dan penuh hormat ia berkata “tentu, pertanyaan apa itu?” Aku
terdiam dan menarik nafas sesaat “makanan-makanan ini sungguh enak sampai kami
tak meninggalkan sisa sedikitpun. Siapa yang memasak semua makanan ini, tuan?”
Dengan santai ia menjawab “kami memiliki koki yang hebat-hebat dari penjuru
dunia, aku meminta mereka untuk memasak yang enak terkhusus untuk tamu yang
sangat istimewa” kami yang mendengar jawaban dari sang tuan rumah sangat
bahagia karena kami di anggap tamu istimewa.
Kami di ajaknya berkeliling
melihat rumah sang tuan rumah nan megah dengan desain interior yang sungguh
menakjubkan membuat mata-mata ini menemukan keindahan yang sejati. Bisik-bisik
para tamu berkerumun melihat patung sang tuan rumah beridiri kokoh
memperlihatkan raut wajah yang tegas penuh wibawa. Sungguh menakjubkan! Kami
melihat koleksi-koleksi guci, lukisan yang memberikan kesan mahal dan penuh
arti setiap seni-seni itu. Perasaan dalam hatiku masih tetap sama dengan
keganjalan yang tak bisa kutemukan apa maksdunya itu.
Selesai berkeliling kami duduk
di sofa yang empuk dan membaringkan badan kami di atasnya. Benar-benar lembut
dan nyaman. Di hidangkan pula makanan-makanan ringan melepas lelah. Minuman
dingin yang segar. “dari mana Anda mendapatkan harta kekayaan yang melinpah
ini?” Tak sadar aku berucap seolah-olah sopan santun terhadapnya hilang karena
lelah. Wajahnya berubah gugup dan berusaha mencari jawaban yang tepat. “saya
mendapatkan dari warisan keluarga” katanya. “apa pekerjaan Anda sehingga kami
harus menghormati Anda?” Katakku. “saya adalah pengusaha barang-barang antik”
wajahnya semakin pucat, aku melihat keringatnya membasahi wajah tegasnya itu.
Aku menangkap ke dalam matanya yang terus mengalihkan matanya ke arahku.
Membuat aku bertanya-tanya siapa dia. Menyadari kelakuanku ini aku langsung
minta maaf kepadanya “maaf aku tuan jika kata-kataku tak pantas kepada Anda”
kataku. “siapa nama Anda?” dia menanyakan namaku.
Tiba-tiba rasa takut
menghantui diriku, dengan terbata-bata aku menjawab “saaaa...yaaaa Maryam,
tututu...aaann” tiba-tiba saja ia berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri
diriku sambil menyodorkan tanganya kearahku, aku berdiri dan menyambut
tangannya “senang berkenalan denganmu Maryam, nama yang indah” sang tuan rumah
tersenyum kepadaku aku pun membalasnya. “kamu tau tentang ‘jangan berbicara
mengenai pohon rumah kaca’?” sontak aku kaget dan mengangguk. Yang lain pun
terdiam melihat tingkah laku kami. “apakah ada yang salah, tuan?” kami berdiri
berhadapan saling bertatapan “kamu harus berjanji, untuk tidak membicarakan
kesemua orang selain kita disini” pintanya. “apa itu tuan?” aku memenuhi
keinginannya. “aku bukan lah pengusaha melainkan peminta-minta” wajahnya
menerawang jauh kedalam masa lalunya. Kami terkejut mendengarnya. Apa
maksudnya? “harta ini adalah milik keluargaku, semua ini menjadi milikku
setelah aku melakukan hal yang tidak pantas kepada mereka, aku telah membunuh
mereka”.
Orang-orang yang mendengar pernyataannya terbelalak dan tidak percaya
dengan apa yang di ucapkannya. Aku terdiam beberapa saat dan mencerna kata demi
kata. “kamu pembunuh!” aku berteriak keras, yang lain pun berbisik-bisik. Sang
tuan rumah sangat pucat, tidak mampu berbuat, membisu. “aku tau ini semua
kesalahan saya, tetapi saya pemimpin di negara ini. Tak mungkin aku mengaku.
Siapa yang memimpin negara ini?” katanya tergagap. Ada raut wajah penyesalan.
Menghalalkan semua cara untuk mendapatkan kekuasaan. “Anda harus dihukum!”
tetapi tidak ada satu pun yang membawanya ke penjara untuk menghukumnya.
Orang-orang yang bekerja di rumah itu diam dan tidak banyak berbuat.
“saya akan membawamu ke
penjara!” kataku penuh keyakinan. “kalau itu yang terbaik bawalah aku, hukumlah
aku!” kata-katanya pasrah dan menyesali apa yang di perbuat. Aku membawanya
penuh keyakinan, tanpa penyesalan karena kebenaran itu harus ditegakkan. Salah
adalah salah, dan benar adalah benar. Walaupun pemimpin negara sekalipun.
Mengakui kesalahan adalah suatu tindakan keberanian dan harus di hargai. Selama
kita masih hidup didunia ini, tindakan kejahatan di berantas sehabis-habisnya,
tidak memandang buluh. Tapi ingat jangan kita kucilkan dalam kehidupan
sosial karena orang-orang itu perlu
diperhatikan dan didukung untuk kehidupannya yang lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar