Kamis, 20 Agustus 2015

Raja Kehidupan

Aku dijamu dengan berbagai hidangan mewah di suatu ruangan yang megah, atap yang menjulang keatas memberikan kesan jauh antara dasar rumah. Di antara orang-orang yang memakai jas dan gaun cantik aku berada diantaranya dan mengenakan gaun berwarna hitam nan elegan. Aku tidak berfikir bahwa aku yang paling cantik hanya saja aku merasa suatu perasaan yang aneh berkecambuk di dalam.

Satu per satu pelayan di rumah tersebut menghidangkan makanan dan minuman yang menimbulkan bau yang sedap, menggugah selera seakan-akan air liur ini akan jatuh, aku menahan dan memperlihatkan keanggunan seorang wanita. Tak seorang pun mulai memakan makanan yang tersaji di atas meja sebelum aba-aba dari sang tuan rumah mentitahkan untuk mulai. Sang tuan rumah hanya berkata “selamat makan” dan kami pun makan. Aku memegang sendok dan garpu seperti yang ku lihat sang tuan rumah itu, diam-diam aku memperhatikan cara ia makan. Sungguh menawan dan indah untuk dilihat, tenang dan penuh nikmat. Aku mengikutinya dan tak ada yang tahu. Sedangkan yang lainnya dengan lahap memakan makanan itu. Sangat cepat dan tak bersisa, begitu juga dengan diriku tak menyisakan makanan di piring makanku. Kami saling melihat dan tersenyum bahagia, tetapi berbeda dengan perasaanku. Aku menyadari satu hal dengan keadaan ini, tidak sama sekali menemukan pembuat makanan itu. Sedari tadi sang tuan rumah hanya diam dan tidak berkata sedikitpun, setidaknya mengenalkan siapa yang membuat makanan-makanan ini.

Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya ketika pelayan-pelayan membersihkan semua yang di atas meja makan. “maaf tuan, bolehkan saya mengajukan pertanyaan?” Sang tuan rumah seketika beralih diamana sumber suara itu berasal dan mendapati diriku penuh ketegangan ketika mata kami bertemu. Dengan santai dan penuh hormat ia berkata “tentu, pertanyaan apa itu?” Aku terdiam dan menarik nafas sesaat “makanan-makanan ini sungguh enak sampai kami tak meninggalkan sisa sedikitpun. Siapa yang memasak semua makanan ini, tuan?” Dengan santai ia menjawab “kami memiliki koki yang hebat-hebat dari penjuru dunia, aku meminta mereka untuk memasak yang enak terkhusus untuk tamu yang sangat istimewa” kami yang mendengar jawaban dari sang tuan rumah sangat bahagia karena kami di anggap tamu istimewa. 

Kami di ajaknya berkeliling melihat rumah sang tuan rumah nan megah dengan desain interior yang sungguh menakjubkan membuat mata-mata ini menemukan keindahan yang sejati. Bisik-bisik para tamu berkerumun melihat patung sang tuan rumah beridiri kokoh memperlihatkan raut wajah yang tegas penuh wibawa. Sungguh menakjubkan! Kami melihat koleksi-koleksi guci, lukisan yang memberikan kesan mahal dan penuh arti setiap seni-seni itu. Perasaan dalam hatiku masih tetap sama dengan keganjalan yang tak bisa kutemukan apa maksdunya itu. 

Selesai berkeliling kami duduk di sofa yang empuk dan membaringkan badan kami di atasnya. Benar-benar lembut dan nyaman. Di hidangkan pula makanan-makanan ringan melepas lelah. Minuman dingin yang segar. “dari mana Anda mendapatkan harta kekayaan yang melinpah ini?” Tak sadar aku berucap seolah-olah sopan santun terhadapnya hilang karena lelah. Wajahnya berubah gugup dan berusaha mencari jawaban yang tepat. “saya mendapatkan dari warisan keluarga” katanya. “apa pekerjaan Anda sehingga kami harus menghormati Anda?” Katakku. “saya adalah pengusaha barang-barang antik” wajahnya semakin pucat, aku melihat keringatnya membasahi wajah tegasnya itu. Aku menangkap ke dalam matanya yang terus mengalihkan matanya ke arahku. Membuat aku bertanya-tanya siapa dia. Menyadari kelakuanku ini aku langsung minta maaf kepadanya “maaf aku tuan jika kata-kataku tak pantas kepada Anda” kataku. “siapa nama Anda?” dia menanyakan namaku.

Tiba-tiba rasa takut menghantui diriku, dengan terbata-bata aku menjawab “saaaa...yaaaa Maryam, tututu...aaann” tiba-tiba saja ia berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri diriku sambil menyodorkan tanganya kearahku, aku berdiri dan menyambut tangannya “senang berkenalan denganmu Maryam, nama yang indah” sang tuan rumah tersenyum kepadaku aku pun membalasnya. “kamu tau tentang ‘jangan berbicara mengenai pohon rumah kaca’?” sontak aku kaget dan mengangguk. Yang lain pun terdiam melihat tingkah laku kami. “apakah ada yang salah, tuan?” kami berdiri berhadapan saling bertatapan “kamu harus berjanji, untuk tidak membicarakan kesemua orang selain kita disini” pintanya. “apa itu tuan?” aku memenuhi keinginannya. “aku bukan lah pengusaha melainkan peminta-minta” wajahnya menerawang jauh kedalam masa lalunya. Kami terkejut mendengarnya. Apa maksudnya? “harta ini adalah milik keluargaku, semua ini menjadi milikku setelah aku melakukan hal yang tidak pantas kepada mereka, aku telah membunuh mereka”.

Orang-orang yang mendengar pernyataannya terbelalak dan tidak percaya dengan apa yang di ucapkannya. Aku terdiam beberapa saat dan mencerna kata demi kata. “kamu pembunuh!” aku berteriak keras, yang lain pun berbisik-bisik. Sang tuan rumah sangat pucat, tidak mampu berbuat, membisu. “aku tau ini semua kesalahan saya, tetapi saya pemimpin di negara ini. Tak mungkin aku mengaku. Siapa yang memimpin negara ini?” katanya tergagap. Ada raut wajah penyesalan. Menghalalkan semua cara untuk mendapatkan kekuasaan. “Anda harus dihukum!” tetapi tidak ada satu pun yang membawanya ke penjara untuk menghukumnya. Orang-orang yang bekerja di rumah itu diam dan tidak banyak berbuat. 

“saya akan membawamu ke penjara!” kataku penuh keyakinan. “kalau itu yang terbaik bawalah aku, hukumlah aku!” kata-katanya pasrah dan menyesali apa yang di perbuat. Aku membawanya penuh keyakinan, tanpa penyesalan karena kebenaran itu harus ditegakkan. Salah adalah salah, dan benar adalah benar. Walaupun pemimpin negara sekalipun. Mengakui kesalahan adalah suatu tindakan keberanian dan harus di hargai. Selama kita masih hidup didunia ini, tindakan kejahatan di berantas sehabis-habisnya, tidak memandang buluh. Tapi ingat jangan kita kucilkan dalam kehidupan sosial  karena orang-orang itu perlu diperhatikan dan didukung untuk kehidupannya yang lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar